Merdeka?

Lawan kata merdeka adalah terjajah. Satu situasi atau keadaan yang membelenggu hidup atau kehidupan. Tertindas dan tidak bebas, dan itu membunuh natur kemanusiaan itu sendiri. Karena itu, tak satupun orang yang ingin hidupnya dijajah, dibelenggu oleh pihak lain.

Tak usah dulu bicara dijajah oleh pihak luar ataupun hal di luar diri kita. Mari kita lihat secara mendalam pada diri kita. Bukankah terkadang kita membiarkan diri kita terjajah oleh sisi diri kita yang lain? Kita membiarkan diri kita bermain di dua sisi yang berbeda dan berseberangan. Sisi yang seringkali merampas kemerdekaan kita. Sisi yang justru membutakan pandangan kita terhadap Tuhan, diri dan orang lain. Tidak heran jika hubungan kita dengan Tuhan dan sesama semakin dangkal.

Jangan heran jika kita berlaku sangat jahat terhadap Tuhan, diri dan sesama kita. Sebegitu jahatnya kah? Mari kita lihat contoh ‘kecil’ dalam kehidupan kita. Salah satunya adalah sakit hati yang mendalam hingga akhirnya menjadi dendam kesumat kepada seseorang, dan tanpa disadari menjadikan diri kita sebagai seorang hakim ulung. Sadar atau tidak sadar kita hadir sebagai hakim atas diri orang lain.

Betapa sering kita hadir sebagai hakim atas masa lalu orang lain. Kita merusak hari ini dengan sederet kesalahan sesama kita. Bagi kita kesalahan yang telah diperbuat sesama kita adalah hal terburuk yang pernah kita dapati dan mustahil kita bisa menerimanya. Sekalipun mungkin ia telah mengakui kegagalannya di masa lalu dan melihatnya sebagai suatu kesalahan yang membutuhkan maaf dan pengampunan. Ia tak berkuasa atas masa lalunya dan ia tak bisa berbuat apa-apa lagi dengan masa lalunya. Ia hidup saat ini dan bukan di masa lalu.

Setiap kita punya masa lalu, baik maupun buruk, berhasil maupun gagal, indah maupun menyakitkan. Kisah masa lalu turut membentuk kita hingga hari ini. Kita tidak bisa menghapus masa lalu, yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menerimanya sebagai bagian dari sejarah dan pelajaran bagi hidup kita.

Namun berapa banyak di antara kita terus membiarkan diri kita menjadi hakim. Seolah kita Tuhan (diposisi inilah sebenarnya kita mengingkari keberadaanNya) yang memutuskan seseorang bersalah atau tidak, bisa berubah atau tidak, ke neraka atau ke surga nantinya. Bukan kah ini sesuatu yang sangat jahat? Kita mengingkari keberadaanNya dengan prilaku kita yang justru menunjukan diri tak bertuhan dan tentang hal ini Alkitab  mengatakan hal ini merupakan kejahatan luar biasa.

Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Nyatanya tidak. Jika kita masih memelihara hati yang penuh kebencian, kepicikan, kebodohan, dendam dan menjadi hakim atas sesama kita. Sebenarnya kita masih menempatkan diri kita sebagai seorang yang terjajah dan diikat oleh kesalahan masa lalu.

Mari kita belajar melepas apa yang tidak pantas kita genggam. Mari kita melepas pengampunan bagi sesama kita, karena kita bukan hakim atas diri orang lain. Mari kita melepas pengampunan karena pengampunan adalah cara cinta bertindak.

Advertisements

Musim Durian

image
Ibu dan Anak karya M. Zaini

Tapi ini adalah cara terakhirku bertahan dalam kerinduan itu sendiri.

Aku sangat menyukai buah yang satu ini. Rasa manis legit nan nikmat menjadikan buah ini favoritku sejak kecil.

Setiap musimnya aku pasti menanti dengan penuh kegirangan dan tak sabaran menikmati kelezatannya.

Buah musiman ini selalu membawa aroma kenangan begitu kuatnya. Entah kenapa tiap kali menyantap buah ini, sensasi rasa buah ini seolah dapat menyusun kepingan-kepingan kenangan yang tercerai-berai dalam ingatanku. Pada titik tertentu, aku ingin menghentikan sejenak waktu hingga aku bisa berlama-lama menikmati sensasinya. Aku tak ingin itu berlalu begitu saja, aku ingin larut dalamnya.

Ya, buah ini bak jembatan yang bisa kulintasi melawan takdir yang terlampau jauh untuk bisa ku jangkau. Bahkan buah ini menjadi senjata ampuh melawan lupa. Lupa yang membawa derita dalam jiwa, darah dan daging. Lupa yang menjadi tembok pemisah rindu dan kenangan yang terkubur dalam digit tahun yang terus menua. Dan akhirnya lupa yang mengantar pada jerit kesakitan.

Musimnya adalah musimku, musim mengenang ayah. Musim mengenang ibu. Musim yang setidaknya mengantarkan sejenak rinduku pada mereka. Tak lazim memang merindu dalam musim. Tapi ini adalah cara terakhirku bertahan dalam kerinduan itu sendiri.

Kirana

Akhir Agustus, aku tau bulan itu tak ada bedanya dari bulan yang lainnya. Bulan itu hanya penanda bahwa aku telah menjelajahi separuh tahun yang rasanya baru saja aku mulai tadi.

Lagipula bulan itu mengingatkanku pada pengalaman tahun yang lalu. Aku bergulat dengan gigihnya asap yang membunuh kemanusiaan itu sendiri.

Namun tak disangka bulan itu membawa gelombang-gelombang kejutan yang membuatku terperangah heran hingga kehabisan kata untuk melukiskannya.

Sekonyong-konyongnya tak ada ombak tak ada angin. Hatiku bersuara. Suara itu terus menuntun sampai titik dalam sebuah pesan singkat yang belakangan baru aku tahu telah terhapus oleh takdir.

Awalnya aku tak cukup alasan mengapa aku menyapamu, Kirana. Pesan singkat yang ku kirim barusan, tak menaruh harap terlalu banyak.

“Ah mustahil!”, kilahku.

Kirana masih sama seperti dulu. Ia membawa namanya ke mana-mana. Sinar arti namanya. Ia serupa pulau yang tak berpenghuni. Indah dan banyak orang ingin melihatnya namun tak satupun yang berani masuk ke sana.

Kalaulah aku salah seorang yang ingin melihatnya, barangkali aku hanya ingin melihatnya dari kejauhan. Bukan takut tapi aku sadar hatinya sudah tertutup rapat untukku. Bagaimana tidak, Kirana melihatku serupa batu karang yang luluh lantah dihantam ganasnya ombak. Tak ada alasan untuk tetap diam di sana sedang ombak terus saja mengusik.

Namun bukan Kirana namanya kalau tak ada sinar dihatinya. Sinarnya mampu menembus sudut paling dalam yang bahkan aku tak mampu lihat dari diriku sendiri.

Kau tahu kawan sinar itu benar-benar ada, dan  sepengetahuanku Kirana memberikannya untuku. Tak banyak memang tapi sinarnya tak bisa dilukiskan. Aku tidak tahu apakah sinarnya itu akan terus bersinar untukku atau tidak. Jika iya, “mamma mia …, dan jika tidak tak jadi soal. ” Seloroh ku.

Harus aku akui, gelombang Agustus itu banyak memengaruhiku. Aku sadar itu efek dari sejumlah neurotransmitter dalam otakku. Dopamine telah menghasilkan euforia sedemikian hebat.

Lauren Slater, setidaknya membantuku memahami apa yang aku rasakan saat itu. Bahwa …. dianggap dapat membuat seorang yang sehat jadi bertingkah seolah memiliki penyakit patologis.

Konyol memang tapi bagaimanapun aku harus menerima apa yang aku rasakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diriku.

Kirana sebenarnya aku tak ingin terjebak dalam  euforia seperti ini yang bilamana dibiarkan begitu saja akan menghasilkan obsesi, ilusi dan imajinasi liar. Bagaimanapun, akhirnya tetap saja aku harus turun dari awang-awang dan kembali memijakkan kedua kakiku di bumi.

Karena itu, dalam doa yang kupanjatkan aku menyerahkan apa yang kini aku rasakan kepada-Nya sebagai tanda aku ingin Ia menuntun pertumbuhan perasaan ini sebagaimana mestinya.

Kau tahu Kirana, apa yang ku rasakan saat ini? Aku sangat merindukanmu.

                                ***

Ubahlah

“Tapi, suatu saat orang akan berubah bukan?” Tanyaku.

“Terjun ke masyarakat, diombang ambingkan oleh gelombang yang ada di dalamnya, lalu patah arah, berbaur dan luntur di sana, dan berubah.”

Sejauh ini, aku paham betul bahwa segala sesuatu berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Bagaimana mungkin aku tidak berubah? Apakah rasa nelangsa membunuh perubahan itu? Tidak mungkin!

Enyahlah nelangsa yang terus memanggil dan mendekap sebatangkara.

Lagipula lihat mereka dengan pongahnya terus mengecap perubahan itu. Ayolah tularilah! Aku rasa, aku memerlukannya.

Jambi, 16 – 6 – 2016

Pendamaian

IMG_8388Kematian Kristus di atas kayu salib adalah sesuatu yang sukar dipahami apalagi diterima, akan tetapi ini tidak berarti membuang keyakinan Kristen terhadap finalitas kematian Kristus. Seperti yang dikatakan John Stott, “Penyaliban Yesus Kristus adalah kejadian terpenting dalam seluruh sejarah umat manusia. Tidak mengherankan apabila daya pikir kita yang terbatas itu tidak dapat menangkap semua artinya.” Sama halnya dengan doktrin inkarnasi, iman Kristen juga bergantung kepada karya Allah dalam Kristus yang tersalib. Henry Thiessen mengatakan, “Singkirkan Salib Kristus, maka hilanglah inti kekristenan.”

Berbicara tentang salib berarti berbicara tentang peristiwa kematian Yesus Kristus. Iman Kristen akan sia-sia tanpa salib karena di atas salib karya Allah yang agung dalam sejarah umat manusia  terjadi. Dengan kata lain apa yang telah dikerjakan Kristus di atas kayu salib bersumber dari pikiran dan hati Allah yang kekal. Yohanes mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah anak dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Kematian Yesus Kristus membukakan kepada manusia siapakah Allah itu. Peristiwa mengerikan di atas kayu salib yang menimpa Yesus membukakan kepada manusia betapa besarnya kasih Allah sekaligus betapa berdosanya manusia. Dengan demikian kematian Kristus memperlihatkan fakta kepada dunia tentang kasih Allah kepada manusia yang penuh dengan dosa.

Konsekuensi dosa adalah kebinasaan kekal karena itu kematian Anak Allah adalah sesuatu keharusan. Kematian Kristus merupakan suatu keperluan mutlak untuk manusia diselamatkan. Henry Blackaby mengatakan, “Dalam Alkitab, Tuhan menjelaskan kebutuhan ilahi akan salib. Salib harus terjadi; itu adalah tujuan Allah dan tidak ada cara lain.” Dalam Efesus 2:12 Paulus berkata, “Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus…” secara jelas menyatakan manusia tidak memiliki pengharapan apapun kecuali kebinasaan. Namun sekali lagi satu fakta yang tidak bisa dihindari adalah respon Allah yang begitu menggagumkan, Ia begitu mengasihi dunia sehingga Ia mengarunikan Anak-Nya yang tunggal supaya kita tidak binasa. Oleh sebab itu salib menjadi sangat penting, mengharuskan Allah menyerahkan Anak-Nya.

Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus mengatakan, “Yang sangat penting telah ku sampaikan kepadamu yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor 15:3). Dalam bagian ini Rasul Paulus hendak menyatakan satu kebenaran dari iman Kristen bahwa kematian Kristus karena dosa-dosa manusia.

Allah memahami betapa seriusnya dosa, oleh karena dosa adalah pelanggaran pribadi terhadap Allah. Setiap dosa dilakukan seorang itu berarti memposisikan orang itu sebagai musuh Allah. Untuk menanggulanginya Allah Bapa menetapkan kematian Anak-Nya yang terkasih sebagai korban pendamaian manusia. Rasul Paulus dengan tegas menulis mengenai pendamaian orang berdosa dengan Tuhan dalam Kolose 1:19-20. Kata pendamaian ini juga ditemukan dalam Roma 5:11. Dalam terjemahan Inggris dipakai kata atonement. Artinya suatu aksi di mana ada dua golongan yang bertentangan dijadikan satu, atau keadaan, di mana kesatuan itu dinikmati dan dinyatakan.

John Stott mengatakan, “Dosa menyebabkan perseteruan, salib menghasilkan pendamaian. Dosa menciptakan jurang pemisah antara manusia dengan Tuhan, salib menjadi jembatan persekutuan. Dosa merusak persekutuan. Salib memulihkannya.”  Inilah kematian Kristus yang mendamaikan, sebagai korban yang meredakan murka Allah terhadap keberdosaan manusia.

Namun kematian Kristus juga menyatakan secara jelas bahwa pengampunan dosa disediakan Allah melalui salib. Kristus adalah jalan keluar yang tuntas yang diberikan Allah kepada manusia. Tanpa kematian Kristus di atas kayu salib mustahil manusia keluar dari belenggu dosa. Dengan demikian kematian Kristus adalah satu-satunya cara untuk manusia melepaskan diri dari belenggu dosa.

Memeriksa Ujian

image

Beberapa hari ini saya cukup sibuk memeriksa hasil ujian siswa saya. Bahkan ke beberapa bulan ke depan tugas yang sama akan menanti. Mohon dukungannya.

Memeriksa ujian siswa punya kesulitan sendiri. Apalagi kalau sudah bicara bagaimana para siswa menuliskan jawabannya mereka di sehelai kertas. Hadoh, ada aneka tulisan unik, langka dan sulit terbaca membuat saya cukup kewalahan.

Soal hasil, tentu ada yang baik sekali dan ada yang kurang baik. Saya memberi penghargaan pada mereka yang memperoleh nilai yang baik, dan saya memberi dorongan kepada mereka yang mendapat nilai yang kurang baik. Tetap semangat dan terus giat belajar selagi kesempatan masih ada.

Memang nilai bukan segalanya tapi nilai menjadi indikator sejauh mana kalian memahami tiap materi yang sudah kita pelajari bersama. Saya rindu kalian menikmati proses itu. Proses di mana kalian belajar menjadi pembelajar sejati yang terus menerus dihantui rasa ingin tahu. Bukan hanya itu saja, kalian berani melangkah menghidupi apa yang kalian ketahui. Percuma kalau kita banyak tahu tapi kita tidak mampu melakukan apa yang kita tahu tadi. Mari belajar bersama.

Berita tiap hari

image

Di zaman tsunami informasi seperti sekarang ini, hampir setiap saat kita disugguhi informasi dan berita apapun, kapanpun dan di manapun. Apalagi kita yang gemar berselancar di dunia maya dan memiliki berbagai media sosial yang bukan saja menjadi wadah ekspresi sosial maya kita tapi sudah jadi tempat kita memperoleh berbagai berita terbaru dari penjuru Indonesia hingga apa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Menakjubkan.

Menjamurnya situs berita online seperti sekarang kadang membuat kita kewalahan. Tiap hari kita disajikan berita yang sama, yang hanya dipoles sedikit saja lalu disugguhkan lagi. Berita yang itu-itu saja. Bahkan tak jarang kita disuapi berita yang ‘kurang gizi’, tumpul dan karatan. Tidak sedikit juga kita jumpai situs-situs berita tertentu menjadi media provokasi dengan isu-isu basi yang mereka angkat. Lain lagi yang berat sebelah dan kadang tendensius.

Entah sekadar mencari rating atau jumlah klik, mereka-mereka ini akan terus memuat ulang berita yang sama tadi.

Namun tak jarang, di antara kita kemudian meneruskan berita tersebut dengan membagikan berita tersebut dihalaman media sosial kita. Entah itu sekadar ingin membagikan supaya diketahui orang lain atau kadang menjadi alat pembenaran kita. Kita merasa tulisan ini mewakili apa yang selama ini kita pikir, dan apa yang saya yakini selama ini. Dengan dalih ini kita membagikan tanpa mempertanyakan kebenaran berita tersebut.

Tidak sedikit juga orang yang meneruskan berita yang asal jadi dan belum tentu kebenarannya itu sebagai wadah untuk menunjukan ketidaksukaanya terhadap tokoh tertentu. Secara membabi buta dia akan membagikan tulisan-tulisan yang mendukung opininya dan tak lupa sedikit kritik, komentar pedas serta caciannya terhadap tokoh tersebut.

Ini sah-sah saja, semua orang berhak melakukannya akan tetapi kalau hanya wadah pembenaran opini pribadi dan atau kelompok semestinya kebenaran di atas segalanya. Kebenaran atau fakta dibalik berita tersebut jauh lebih penting. Karena itu kita harus selektif dalam memilih berita dan bijak dalam meneruskan berita tersebut.

Buku Baru

image

Saya tidak mau gagal lagi. Beli buku baru tapi gagal dibaca. Sayang kan.

Sabtu yang lalu saya membeli sebuah buku baru karya Ken Robinson berjudul Do it with Passion. Dan sudah saya baca hampir seperempat dari isi buku tersebut. Sebuah buku yang baik, menarik dan sangat inspiratif. Pesannya jelas: kenali bakatmu, asah kreativitasmu dan wujudkan mimpimu.

Saking menariknya, saya tidak sabar ingin menyantap halaman demi halaman buku ini sampai halaman terakhir.

Penyampai Pesan

Terjadi di Sarinah tersiar di belahan dunia lain. Begitu cepat.

Ya sangat cepat. Itulah kekuatan media massa dalam menyampaikan pesan. Alat komunikasi massa ini begitu luar biasa dalam mempengaruhi manusia.

Kita tercengang, cemas, panik dan ketakutan, mereka cengar-cengir sembari berpesta. Kita meratap mereka beria-ria dalam kesenangan. Kita marah dan mengutuk, mereka bangga dan sujud syukur. Psikologis kita terguncang.

Prinsip teroris membunuh beberapa orang, membuat panik jutaan orang. Dan mereka berhasil. Teror tadi dalam sekejap menghasilkan kepanikan, kecemasan dan ketakutan. Sekali lagi psikologis kita terguncang.

Media massa ditambah media sosial berhasil menyampaikan pesan mereka: menebar teror.

Sederhana saja, membuat hashtag dan membagikan gambar para korban dan informasi yang diolah media massa sedemikian rupa, kita telah turut menjadi penyampai pesan berantai mereka tadi. Dalam sekejap mendunia dan menjadi pusat perhatian manusia di seluruh dunia.

Mereka sangat menyukainya. Eksistensi mereka diakui.

Saya kira, mereka telah berucap terima kasih kepada warga Indonesia yang dengan sukarela menjadi penyampai pesan mereka.

Ngomong-ngomong, sudah berapa gambar para korban dan berita yang kita bagikan di media sosial kita?

Apa gunanya mengumbar berbagai hastag di media sosial kita? Alasan kekikinian kah?

Ngomong-ngomong, simpatisan mereka sangat aktif di media sosial loh, dan hashtag yang kita buat, berita yang kita bagikan akan sangat membantu mereka menyebarluaskan pesan utama mereka tadi. Baca: Twitter-terror:How ISIS is using hashtags for propaganda

Tidakkah kita berempati sedikitpun? Jangan hanya karena alasan ‘kekinian’ dan “berempati’ dengan mudah kita memampang foto-foto para korban yang terurai dan berlinang darah.

Upgrade Diri

Seiring bertambahnya usia seharusnya semakin berkembanglah diri seseorang. Akan sangat disayangkan andai usia terus bertambah namun tak ada perkembangan yang terjadi dalam diri seseorang.
Mengingat segala sesuatu yang ada di dunia ini terus berkembang dan mengalami kemajuan yang sangat mencengangkan maka kemampuan seseorang untuk mengembangkan diri adalah keharusan.

Menjelang tahun 2016, tentu saja ada banyak resolusi yang kita torehkan disecarik kertas dan berharap semua resolusi tersebut rampung dipenghujung tahun nanti. Untuk memuluskan agenda tahun 2016, kita perlu mengupgrade diri untuk kehidupan yang lebih baik.

Upgrade wawasan dan kemampuan kita

Penampilan luar tidak cukup membuat kita sukses, karena itu kita perlu meningkatkan wawasan kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan wawasan kita. Buku yang kita baca, dengan siapa kita bergaul juga akan menentukan seberapa luas wawasan kita. Dengan wawasan yang luas tidak hanya membuat kita percaya diri, namun kita punya banyak peluang untuk meraih keberhasilan.

Selain itu, kita perlu menggali dan menemukan skill dalam diri kita. Sukses atau tidaknya kita juga ditentukan bagaimana kita memakai kemampuan dasar yang ada dalam diri kita. Gali dan temukan itu.

Banyak bergaul, coba hal-hal baru, traveling, menulis, ikut seminar dan masih banyak lagi, selain bisa mendewasakan diri, kegiatan ini bisa membuat kita menjadi pribadi menarik. Kepribadian menarik juga akan menyumbang suksesnya seseorang.

Mungkin kita belum bisa menjadi orang besar yang punya pengaruh yang besar, tetapi setidaknya kita tidak boleh menjadi orang yang biasa-biasa saja. Karena itu, upgrade diri kita. Upgrade wawasan dan kemampuan kita.

Tahun 2016 apa yang anda ingin upgrade dari dalam diri anda?

Arai

image

Arai adalah inspirasi hidupku.

Arai selalu meyakinkanku untuk menjunjung tinggi mimpi-mimpi kami, lalu ia membakar semangatku untuk mencapainya. Arai adalah antitesis sikap pesimis, panglima yang mengobrak-abrik mentalitas penakut, dan hulubalang bagi jiwa besar. Ia telah membawaku mengalami hidup seperti yang kuinginkan. Hidup dengan tantangan dan gelegak mara bahaya. Kami jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi. *p. 279

Saya agak terlambat mendapatkan novel Edensor. Bahkan setelah mendapatkannya saya agak malas meraihnya dari rak buku. Namun sengat Arai, mampu membuat saya entah bagaimana tak mau melewatkan halaman demi halaman.

Barangkali ini kesempatan merajut asa.

Ujian Mid

image

Ujian mid di SMA Bina Kasih sudah berlangsung hampir seminggu. Hari ini saya berkesempatan mengawas di grade sepuluh A.

Lucu juga menyaksikan raut muka para murid tiap pagi menjelang ujian dilaksanakan. Ada yang tegang, berbeban, ada yang sedang kumat-kamit dengan hafalan materi ujian, ada yang pasrah, ada juga yang masih mengantuk. Hadoh!

Menengok ke belakang, sewaktu SMA dulu saya juga merasakan sama persis apa yang mereka rasakan saat ini. Merasakan apa yang namanya menghafal beberapa pelajaran sekaligus, tegang bahkan adakalanya stres. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa saya lakukan jika ingin naik kelas. Sewaktu kuliah juga sama prosesnya saja yang agak berbeda.

Beginilah polemik pendidikan di Indonesia. Selain kurikulum rumit dan sulit, sistem yang dipakai selama ini belum sepenuhnya menghasilkan generasi unggul yang mampu bersaing secara global. Sayang sekali ya.

Selama ini memang kita akui, menghafal adalah metode belajar yang menjadi andalan dalam proses pembelajaran dari waktu ke waktu. Mendengar, mencatat dan menghafal.  Sayangnya, model pendidikan ini belum berhasil mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional. Lagipula metode ini kerapkali menjadi momok menakutkan bagi siswa kebanyakan, dan tentu saja akan sulit mencapai  tingkatan pada learning  to  know,  keceriaan dalam penerimaan tujuan pada learning  to  do dan keceriaan bersama untuk mencapai tujuan umum pada learning to  live together, dalam pilar pembelajaran.

Kapan ya, sistem pendidikan ini berakhir dan berganti menjadi sistem pendidikan yang merangsang, menantang, dan menyenangkan bagi anak didik? Sistem yang mengubah si penghafal menjadi si pembelajar yang selalu ingin mencari tahu, melakukan apa yang dia tahu, dan berbuat sesuatu bagi yang lain dari apa yang ia tahu.

Entahlah, hanya menteri yang tahu. Jangan malu mengadopsi sistem pendidikan Finlandia yang terkenal itu. Bila itu baik kenapa harus malu.

Hari Kesehatan Mental Sedunia

Awalnya saya juga lupa kalau hari ini adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia. Untung saja kalender Google mengingatkan. Hadooh!

Memang Hari Kesehatan Mental Sedunia tak se-semarak hari-hari peringatan lainnya, karena itu mungkin kebanyakan orang melupakannya – termasuk saya. Ataukah Hari Kesehatan Mental Sedunia dianggap tidak penting sehingga tak perlu diingat? Ataukah kita masih merasa sehat secara mental?  Ataukah mental manusia-manusia postmodern yang sedang diambang bahaya? Entahlah.

Kita akui segala sesuatu berubah dan terus berubah. Kecil atau atau besar perubahan tersebut akan berimbas kepada kehidupan kita. Perubahan terbesar beberapa dekade belakangan terjadi di lini teknologi komunikasi. Sekali lagi, perubahan ini memengaruhi cara hidup, berpikir, bertindak, filosofi dan nilai-nilai hidup seseorang. Satu sisi kemajuan di bidang teknologi komunikasi membawa banyak manfaat dalam hidup kita. Namun di sisi yang lain membawa dampak yang membahayakan bagi kesehatan mental manusia itu sendiri.

Pemanfaatan teknologi digital dengan tidak terkendali berimbas pada kualitas interaksi sosial manusia. Interaksi maya lambat laun akan mengikis kasih, empati, kepedulian, kepekaan sosial seseorang. Tentu kita sering menyaksikan orang berkumpul namun sibuk dengan ponsel pintar mereka secara bersamaan. Kondisi ini tentu saja sangat memengaruhi kualitas sebuah hubungan, dan ini sangat berhubungan dengan kesehatan mental seseorang.

Salah satu kebenaran yang menyedihkan hari ini adalah bahwa teknologi mengendalikan kita. Bukan hanya tentang waktu, tapi bagaimana kita menggunakannya. Media sosial misalnya, banyak pengguna media sosial pada akhirnya mengedit kehidupan mereka demi sebuah pengakuan dan penerimaan orang lain. Kita akan memoles sedemikian rupa dari foto profil hingga status, kita edit sedemikian baik, lebih baik daripada yang sebenarnya.

Kita berbohong terhadap diri kita sendiri. Kita berpura-pura seolah apa yang kita lakukan di dunia maya membuat kita lebih bahagia ketimbang kehidupan di dunia nyata. Mental kita sakit.

Kehidupan nyata adalah tentang jujur pada diri sendiri. Jadilah dan terimalah diri kita sendiri. Jangan jadi orang lain supaya orang lain menyukai kita.

Kehidupan nyata adalah tentang kesadaran kita akan lingkungan di mana kita berada, tentang sesama kita dan kebutuhan mereka. Kehidupan nyata bicara tentang orang-orang yang nyata – yang hadir di sekeliling kita. Buat apa kita punya teman di media sosial sampai menyentuh angka ribuan tapi kita merasakan kesepian?

“Kemiskinan yang paling besar adalah kesepian dan perasaan tidak dicintai.” -Bunda Theresa

Memperingati hari yang tak diingat – Hari Kesehatan Mental Sedunia biarlah kita merenung sejenak. Dalam keheningan malam ini mari kita dengan diri kita bicara hati ke hati. Bertanyalah bagaimana kabarmu kini?

Serba salah

Saya pikir mereka yang punya tabiat pengkritik, penghasut dan pencaci maki tapi nihil aksi adalah mereka-mereka yang berjiwa kerdil bahkan mungkin sakit.

Lihat saja apa yang sajikan media belakangan ini. Tidak jauh dari soal asap. Lihatlah kelakar mereka, omongan busuk mereka, tutur kata kekanak-kanakan mereka untuk bapak Presiden kita. Hari ini bapak Presiden berkunjung ke Jambi, melihat kondisi terakhir serta mengunjungi korban kabut asap yang ada di kota Jambi.

Alih-alih berkomentar baik, kunjungan lepas kunjungan yang selama ini bapak Presiden lakukan hanya dianggap sebagai pencitraan belaka oleh mereka-mereka yang jago berkomentar miring tersebut. Saya habis pikir, sedemikian sakitkah jiwa mereka sehingga tidak mampu berpikir jernih setidaknya dalam kondisi genting seperti sekarang ini. Cobalah berpikir bersih. Jangan banyak bicara, kalau anda tidak yakin bapak Presiden melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, mari ikutlah dengan beliau, saya kira bapak Presiden akan dengan senang hati kalau ada pejabat yang ingin.

Ini bencana dan bukan soal pencitraan lagi, yang pencitraan itu ya anda-anda yang suka mencari sensasi dengan komentar miring ala abg. Menampilkan diri bak pahlawan di media massa supaya dilihat dan disaksikan orang sebagai pembela rakyat padahal sok tahu, tong kosong nyaring bunyinya. Sekali lagi ini soal bencana asap. Bapak Presiden berkunjung itu sudah satu langkah. Langkah yang seharusnya didukung bila perlu diberi masukan. Ada tindakan, memang sampai saat ini belum kelihatan perubahan yang luar biasa. Jangan berpikiran instan, bapa Presiden bukan sosok jin lampu yang ada dalam film Aladdin, yang dapat mengabulkan apapun permintaan dengan segera. Tunggu saja prosesnya, memadamkan api saja butuh proses apalagi membereskan ketimpangan hukum di republik ini, anda kira semudah meneguk segelas air putih.

Saya muak melihat ulah segelintir anggota dewan terhormat ini. Tidak cukup kah sibuk menyusun siasat mengebiri KPK? Sudah, tidak usah banyak omong lagi, muak saya mendengarnya. Saya lebih menaruh hormat kepada mereka yang di hutan, dahaga, melepuh berkorban untuk kami. Lihatlah para anggota TNI, BNPB, beserta rakyat yang berjibaku memadamkan api. Mereka adalah rekan bapak Presiden yang berjuang untuk kepentingan banyak pihak. Mereka jarang di sorot media, mereka jarang bahkan tidak pernah ditayangkan di televisi, koran ataupun media online. Dari pada anda-anda yang hanya bisa berkomentar miring, mengkritik sinis, cengar-cengir di depan kamera namun nol aksi.

Jangan kan diam tidak bertindak, sudah melangkah dan bertindak saja masih dicaci maki. Maunya apa sih?

Enek juga! Mental tempe, bisanya mengkritik, menyalahkan, mencaci maki,  sana turun ke lapangan, padamin tuh api. Jangan cuman ngomong doang, kita yang ada di Jambi udah mau mati hirup asap tiap saat. Eh anda-anda yang di sana sibuk merevisi ini itulah – yang ujung-ujungnya duit doang.

Bagi yang jagoannya kalah bertarung kemaren, please move on dong. Hidup itu terus berjalan, dan berjalannya tidak ke masa lalu tapi masa depan. Masih banyak hal baik yang bisa kita kerjakan bersama daripada ikut-ikutan berkomentar miring, memanas-manasi, mencibir mencontohi para wakil kita yang lagi nyaman duduk di tahtanya tanpa memedulikan kita.

Begitulah apa-apa serba salah. Diam salah, bicara salah. Melangkah salah, tidak melangkah apalagi. Pak Presiden jadi serba salah. Sabar aja pak, ada waktunya mereka akan bungkam. Lakukan saja apa yang harus bapak lakukan.