Ingin Terkenal?

Idealnya aktivitas menulis merupakan salah satu sarana utama dan yang paling efektif dalam proses pengembangan diri. Melalui kegiatan menulis kita dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada dalam diri kita. Masalahnya hingga kini tidak banyak orang yang menjadikan menulis sebagai gaya hidupnya. Kini kebanyakan orang lebih senang menikmati ide orang lain ketimbang memberi ide, serta lebih memilih hiburan ‘yang asyik dan gaul’ ketimbang meluangkan waktu khusus mengembangkan diri melalui kegiatan menulis. Ironis memang, tetapi itulah kenyataan yang kita hadapi bersama pada zaman ini.

Indonesia menunggu orang-orang yang mencintai dan menjadikan menulis sebagai gaya hidupnya. Sebenarnya melalui karya tulis yang berbobot seseorang sudah bersumbangsih untuk kemajuan negara. Tersedianya media cetak maupun elektronik sebenarnya membuka peluang serta mempermudah generasi ini untuk mulai mengembangkan diri melalui karya tulis.

Tujuan hidup manusia memang bukan hanya untuk menjadi terkenal semata, tapi untuk berbagi dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun alangkah baiknnya jika kedua hal ini menjadi satu. Ibarat dua sisi mata uang, di sisi yang lain kita memberi manfaat kepada orang lain, di sisi yang lain kita dikenal oleh banyak orang. Pendek kata, terkenal adalah konsekuensi logis dari kegiatan berbagi. Jadi sebenarnya kita bisa saja terkenal lewat kegiatan berbagi, dalam hal ini yang saya maksudkan adalah berbagi lewat ide. Sebuah ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Siapa yang tidak kenal JK Rowling. Semula ia hanyalah sosok ibu rumah tangga biasa yang tak dikenal banyak orang. Namun karena kebiasaannya menulis lahirlah sebuah buku fenomenal berjudul Harry Potter yang laris manis itu. Bahkan kini ia menjadi salah satu perempuan terkaya dan paling populer di dunia. Hanya lewat tulisan!

Andrea Hirata, sebelum menulis catatan harianya, hanya anak muda biasa-biasa saja. Namun begitu buku hariannya dituangkan dalam buku Laskar Pelangi mendadak menjadi sosok yang dikenal banyak orang. Sekali lagi hanya lewat tulisan!

Saat ini kita hidup di zaman tanpa batas. Hadirnya era teknologi informasi seperti sekarang memungkinkan siapapun menyapaikan pesan, gagasan dan berbagi informasi kepada semua khalayak tanpa dibatasi tempat dan waktu. Jika kita jeli dan peka sebenarnya di sinilah celah yang kita bisa menfaatkan untuk meraih ketenaran. Jadi siapapun kita, kini kita bisa terkenal. Menulis adalah satu jembatan yang bisa kita manfaatkan.

Hadirnya New Media seperti Facebook, Twitter, Blog dan sebagainya menyediakan kita tempat dan kemudahan untuk menuangkan buah pikiran kita dalam bentuk tulisan. Saat ini tulisan-tulisan di New Media konon lebih punya gaung ketimbang tulisan di surat kabar. Dengan demikian New Media memberikan kita berjuta kemungkinan untuk menjadikan kita terkenal lewat tulisan.

Memang menulis adalah sebuah kegiatan yang sangat memakan waktu, namun tidak termakan oleh waktu, ditulis pada satu tempat namun tersebar di berbagai tempat, dipikirkan dan ditulis oleh satu orang namun dibaca dan dinikmati ribuan hingga jutaan orang. Menulis adalah kegiatan yang melintasi ruang dan waktu.

Menulis sebenarnya mudah jika kita memulainya sejak saat ini juga. Konon seorang penulis kenamaan pernah bertutur bagaimana menjadi penulis andal adalah dengan mulai menulis sekarang juga! Praktek yang paling gampang adalah dengan menulis di buku harian kemudian memanfaatkan layanan microblogging seperti Facebook dan Twitter. Inilah awal yang baik menjadi penulis andal.

Zaman ini memungkinkan semua orang bisa menjadi penulis dan tentunya menjadi terkenal (lewat New Media tadi). Masalahnya sekarang apakah Anda akan mengambil keputusan menulis atau tidak, itu saja. Mungkin awalnya tulisan kita akan dipandang sebelah mata bahkan mungkin tidak digubris, tetapi akan tiba harinya kita menuai apa yang sudah kita kerjakan dengan gairah itu. Sebuah ketenaran yang diperoleh lewat tulisan yang original, unik dan memberi manfaat bagi orang lain. Curamnya jurang pengabaian yang kita terima justru akan menjadi landasan pacu kita untuk menulis dan terus menulis. Tulisan yang berisi dan mencerahkan, tulisan yang memberikan jawaban di saat-saat tak terduga. Tulisan yang dapat menginspirasi orang lain.

Akhirnya, tiap kita dianugerahi waktu yang sama yakni 24 jam. Jadi, tidak ada alasan tidak punya waktu untuk menulis. Ingin terkenal? Ingin dikenang? Ayo menulis.

Advertisements

Gagal Lagi

Salah satu kegagalan yang saya sesalkan di tahun yang lalu adalah ketidakkonsistenan saya dalam merangkai ide dalam tulisan. Alhasil, blog ini seringkali terabaikan. Di tahun 2014, salah satu komitmen saya adalah menjadikan menulis dan membaca sebagai rutinitas jika boleh bahkan menjadikannya gaya hidup. Saya berharap, melalui kegiatan menulis dan membaca jiwa kreatif dalam diri ini bisa muncul kembali kepermukaan.

Siapa sih yang tidak ingin menjadi pribadi yang kreatif. Tentu saja tidak ada. Setiap kita, saya yakin ingin menjadi sosok pribadi kreatif. Dalam hal ini saya sangat terinspirasi dengan beberapa sosok pribadi di balik Creativepreneur, misalnya Yoris Sebastian. Ya, siapa yang tidak kenal dengan sosok pribadi kreatif yang satu ini. Karena jiwa kreatifnya, kesuksesan dicapainya di usia muda. Luar biasa bukan? So, kenapa tidak berharap serupa? Tentu saja tidak berharap muluk-muluk lah, tetapi setidaknya di tahun ini ada sosok pribadi kreatif yang berpikir “Out of the Box”. Ya harapan kecil inilah yang terus mengusik saya siang dan malam.

Tapi apa daya, hingga bulan April di tahun 2015 ini, saya masih kerap gagal merealisasikannya. Ah sudahlah, menatapi kegagalan itu tidak ada gunanya.

Gagal Ngeblog Lagi

“Have you written any other articles yet?” tanya mantan dosen saya. Saya tidak bisa menjawab banyak kata atas pertanyaan beliau, karena memang satu artikel atau setidaknya satu tulisan pendek pun tidak saya hasilkan beberapa bulan terakhir. Bukan kekurangan topik untuk ditulis tapi malas menulis lebih tepatnya. Ah, malas itu memang membunuh.

Terus terang saja, pertanyaan beliau sangat mengusik saya, bagaimana tidak beliau adalah salah seorang yang begitu mendukung saya menghasilkan sebuah karya tulis. Tentu saja pertanyaan tadi membuat saya ingin segera mengakhiri kegagalan ini.

Memang saat kita kehilangan gairah melakukan sesuatu, kehadiran seseorang yang memberikan dorongan itu sangat berharga. Saya menyebutnya kehadiran di waktu yang tepat. Karena memang dorongan menulis itu hadir saat-saat di mana satu karya tulis pun tidak saya hasilkan.

Saya harus berterima kasih. Pertanyaan beliau memberikan dorongan untuk melangkah kembali dari absennya saya dari kehidupan mengolah kata. Ya, setidaknya tulisan ini membuktikan itikat saya tadi.

 

Tentang Detail Penulisan

Saya harus berterima kasih kepada Pak Budi Raharjo atas tulisannya berjudul Atensi Kepada Detail (dalam menulis) yang mengingatkan saya untuk segera memperhatikan detail-detail dalam penulisan. Jujur saja,  beberapa waktu belakangan ini, saya hanya fokus mengejar deadline penulisan skripsi saya, akibatnya saya justru acapkali mengabaikan detail-detail dalam penulisan khususnya segi visual dari sebuah tulisan ilmiah. Padahal, salah satu hal yang penting diperhatikan selain dari isi tulisan adalah bentuk visual dari tulisan itu sendiri.

Menurut dosen yang aktif di dunia maya khusus di dunia blog ini, komponen visual seringkali diabaikan kebanyakan orang. Padahal menurutnya, penampakan visual yang buruk dari sebuah tulisan khususnya tulisan karya ilmiah sangat mengganggu pembaca dan tentunya akan mengurangi bobot nilai dari karya ilmiah itu sendiri. Lanjutnya ia mengatakan, “Huruf besar atau kecil, tebal (bold) atau tidak, diletakkan di tengah atau pinggir, dan seterusnya menjadi hal yang sakral.”

Nampaknya saya harus kembali memeriksa detail tulisan saya sebelum mendapat kesan buruk dari dosen pembimbing maupun dosen penguji saya nantinya. Ya, tugas tambahan yang tidak boleh saya pandang sebelah mata. Karena dari tulisan kita, sedikit banyak mengungkapan siapa kita.

***

 

Perihal Menulis

Jujur saja, saya sering takut bahwa apa yang saya tulis akan menjadi hal terburuk yang pernah saya tulis. Dalam benak saya ingin menulis hal-hal besar, bahkan saya ingin menulis brilian pada draft pertama tulisan saya. Oleh karena itu saya cenderung menghabiskan banyak waktu tidak menulis ketimbang memulai sebuah tulisan. Saya selalu menunggu kondisi sempurna, waktu dan tempat yang tepat.

Lagipula, dulu saya takut untuk menulis, seolah-olah bakat saya terbatas dengan jumlah tertentu dari kata-kata. Saya akan sangat hati-hati memilih cerita saya. Saya menghabiskan banyak waktu untuk mencari ide brilian. Saya menulis hanya ketika saya merasa terinspirasi. Semua itu berarti bahwa saya tidak benar-benar menulis.

Tapi kebenarannya adalah bahwa saya hanya perlu menulis. Jika itu baik, itu baik, jika tidak, saya selalu dapat mengeditnya kemudian. Ketika saya menulis, saya menulis dengan keyakinan bahwa saya sedang menulis sesuatu meskipun tidak begitu besar setidaknya menghasilkan sesuatu.

Banyak tulisan saya tidak pernah mendapat kesempatan untuk dibaca oleh orang lain. Tidak mengapa. Saya hanya ingin menulis, menuangkan gagasan-gagasan yang lalu lalang di kepala, itu saja. Saya ingin menulis karena itulah yang ingin saya lakukan, tidak peduli apakah cerita saya adalah sampah atau tidak, selama menulis adalah hal yang saya nikmati itu sudah membuat saya senang.

Ada dua aturan utama untuk menjadi seorang penulis: banyak membaca dan banyak menulis. Anda tidak dapat melakukan satu tanpa yang lain, tidak peduli berapa banyak Anda mencoba.

***

(Sekali) lagi Maaf

Kadang iri juga dengan orang-orang yang bisa lancar menulis setiap saat, apalagi kalau melihat mereka yang bisa sampai menulis buku. Sebuah pencapaian yang luar biasa setidaknya bagi saya. Betapa puasnya mereka bisa dengan leluasa ‘melepaskan’ gagasan-gagasan yang ada dibenak mereka menjadi sebuah rangkaian pikiran yang tersusun rapi membentuk paragraf-paragraf hingga bab demi bab bahkan menjadi sebuah buku yang mencerahkan. Kemudian bisa dinikmati banyak orang dari berbagai kalangan di berbagai tempat. Luar biasa biasa, bukan?

Di sisi yang lain, rasa iri ini membuat tangan ini seolah ingin cepat-cepat bercengkerama dengan tuts-tuts keyboard Netbook saya dan menuangkan apa yang menjadi kegelisahan hati ini. Namun adakalanya keinginan berbanding terbalik dengan aksi. Tindakan seolah merengek menolak dengan sejuta alasan yang dipelopori si pemalas. Alhasil seuntai kalimatpun tak tertorehkan di kertas putih yang seolah-olah tak sabaran menanti ide-ide brilian itu.

Ah itulah gelagak si pemalas dengan kroni-kroninya. Selalu membuat tangan ini terhalang menyalurkan ide-ide yang berkeliaran di kepala ini. Rasanya juga, blog yang menjadi teman saya selama ini mungkin saja geram melihat si temannya yang tak kunjung datang untuk berkolaborasi menghadirkan sebuah gagasan mungkin saja bukan yang baru dijagad maya itu.

Maaf teman sudah menelantarkanmu. Seumpama sebuah rumah, engkau kini mungkin tidak berupa indah lagi. Tidak terawat, kotor dan degil. Kini mungkin rupamu pun tak semarak seperti dahulu. Yah, sekali lagi maaf kawan. Sejatinya si pemilik wajib merawatmu, merawat dengan tangan yang cekatan.

Ya, sejatinya tidak ada alasan untuk tidak menulis. Dengan banyaknya ide-ide yang berkeliaran sejatinya juga tidak jadi alasan tidak menulis karena kehabisan ide. Menulis seharusnya menjadi menu harian.

Mari menulis kembali.

***

Mengapa Aku Menulis

Aku menulis karena aku ingin mencari tahu siapa aku. Menulis adalah cara yang mengagumkan untuk mengetahui siapa aku sesungguhnya.

Aku menulis karena aku ingin mengetahui apa yang aku pikirkan, mengerti apa yang aku pikirkan, menyampaikan apa yang aku pikirkan. Menulis adalah cara terbaik untuk menata ulang pikiranku.

Aku menulis karena aku ingin meninggalkan setapak jejak di dunia fana ini. Aku dapat meninggalkan warisan yang tidak hilang pada saat aku tiada kelak. Menulis adalah kegiatan menceburkan diri dalam pusaran sejarah. Tidak lekang oleh waktu!

Aku menulis karena itu membuat aku bahagia. Aku merasa seperti melakukan sesuatu yang berharga, dan sesuatu yang bisa aku lihat dan nikmati kembali. Tentu saja, hal ini tidak terjadi sepanjang waktu. Adakalanya aku jijik ketika mendapati apa yang kutuliskan gagal aku hidupi.

Aku  menulis karena aku merasa bahwa kadang-kadang kata-kata dapat mengubah dunia.

Aku menulis dengan harapan bahwa apa yang aku tuliskan menjadi jawaban. Mungkin bisa menjadi jawaban di saat yang paling tidak terduga.

Aku menulis karena aku ingin menginspirasi orang lain, seperti halnya ketika aku terinspirasi oleh tulisan orang lain.

Aku menulis karena sebuah panggilan. Panggilan memancarkan Ia yang memanggilku. Ia yang kini telah berbicara lewat tulisan jua yang bisa aku nikmati siang dan malam.

Aku menulis karena semua itu dan aku tak kenal lelah dalam pengejaran itu. Aku sering memilih untuk tidak menulis.  Namun alasan itulah yang menyangga ku tetap menulis. Aku menulis karena aku tidak bisa tidak menulis.

Mengapa Anda menulis?