Merdeka?

Lawan kata merdeka adalah terjajah. Satu situasi atau keadaan yang membelenggu hidup atau kehidupan. Tertindas dan tidak bebas, dan itu membunuh natur kemanusiaan itu sendiri. Karena itu, tak satupun orang yang ingin hidupnya dijajah, dibelenggu oleh pihak lain.

Tak usah dulu bicara dijajah oleh pihak luar ataupun hal di luar diri kita. Mari kita lihat secara mendalam pada diri kita. Bukankah terkadang kita membiarkan diri kita terjajah oleh sisi diri kita yang lain? Kita membiarkan diri kita bermain di dua sisi yang berbeda dan berseberangan. Sisi yang seringkali merampas kemerdekaan kita. Sisi yang justru membutakan pandangan kita terhadap Tuhan, diri dan orang lain. Tidak heran jika hubungan kita dengan Tuhan dan sesama semakin dangkal.

Jangan heran jika kita berlaku sangat jahat terhadap Tuhan, diri dan sesama kita. Sebegitu jahatnya kah? Mari kita lihat contoh ‘kecil’ dalam kehidupan kita. Salah satunya adalah sakit hati yang mendalam hingga akhirnya menjadi dendam kesumat kepada seseorang, dan tanpa disadari menjadikan diri kita sebagai seorang hakim ulung. Sadar atau tidak sadar kita hadir sebagai hakim atas diri orang lain.

Betapa sering kita hadir sebagai hakim atas masa lalu orang lain. Kita merusak hari ini dengan sederet kesalahan sesama kita. Bagi kita kesalahan yang telah diperbuat sesama kita adalah hal terburuk yang pernah kita dapati dan mustahil kita bisa menerimanya. Sekalipun mungkin ia telah mengakui kegagalannya di masa lalu dan melihatnya sebagai suatu kesalahan yang membutuhkan maaf dan pengampunan. Ia tak berkuasa atas masa lalunya dan ia tak bisa berbuat apa-apa lagi dengan masa lalunya. Ia hidup saat ini dan bukan di masa lalu.

Setiap kita punya masa lalu, baik maupun buruk, berhasil maupun gagal, indah maupun menyakitkan. Kisah masa lalu turut membentuk kita hingga hari ini. Kita tidak bisa menghapus masa lalu, yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menerimanya sebagai bagian dari sejarah dan pelajaran bagi hidup kita.

Namun berapa banyak di antara kita terus membiarkan diri kita menjadi hakim. Seolah kita Tuhan (diposisi inilah sebenarnya kita mengingkari keberadaanNya) yang memutuskan seseorang bersalah atau tidak, bisa berubah atau tidak, ke neraka atau ke surga nantinya. Bukan kah ini sesuatu yang sangat jahat? Kita mengingkari keberadaanNya dengan prilaku kita yang justru menunjukan diri tak bertuhan dan tentang hal ini Alkitab  mengatakan hal ini merupakan kejahatan luar biasa.

Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Nyatanya tidak. Jika kita masih memelihara hati yang penuh kebencian, kepicikan, kebodohan, dendam dan menjadi hakim atas sesama kita. Sebenarnya kita masih menempatkan diri kita sebagai seorang yang terjajah dan diikat oleh kesalahan masa lalu.

Mari kita belajar melepas apa yang tidak pantas kita genggam. Mari kita melepas pengampunan bagi sesama kita, karena kita bukan hakim atas diri orang lain. Mari kita melepas pengampunan karena pengampunan adalah cara cinta bertindak.

Advertisements

Musim Durian

image
Ibu dan Anak karya M. Zaini

Tapi ini adalah cara terakhirku bertahan dalam kerinduan itu sendiri.

Aku sangat menyukai buah yang satu ini. Rasa manis legit nan nikmat menjadikan buah ini favoritku sejak kecil.

Setiap musimnya aku pasti menanti dengan penuh kegirangan dan tak sabaran menikmati kelezatannya.

Buah musiman ini selalu membawa aroma kenangan begitu kuatnya. Entah kenapa tiap kali menyantap buah ini, sensasi rasa buah ini seolah dapat menyusun kepingan-kepingan kenangan yang tercerai-berai dalam ingatanku. Pada titik tertentu, aku ingin menghentikan sejenak waktu hingga aku bisa berlama-lama menikmati sensasinya. Aku tak ingin itu berlalu begitu saja, aku ingin larut dalamnya.

Ya, buah ini bak jembatan yang bisa kulintasi melawan takdir yang terlampau jauh untuk bisa ku jangkau. Bahkan buah ini menjadi senjata ampuh melawan lupa. Lupa yang membawa derita dalam jiwa, darah dan daging. Lupa yang menjadi tembok pemisah rindu dan kenangan yang terkubur dalam digit tahun yang terus menua. Dan akhirnya lupa yang mengantar pada jerit kesakitan.

Musimnya adalah musimku, musim mengenang ayah. Musim mengenang ibu. Musim yang setidaknya mengantarkan sejenak rinduku pada mereka. Tak lazim memang merindu dalam musim. Tapi ini adalah cara terakhirku bertahan dalam kerinduan itu sendiri.

Kirana

Akhir Agustus, aku tau bulan itu tak ada bedanya dari bulan yang lainnya. Bulan itu hanya penanda bahwa aku telah menjelajahi separuh tahun yang rasanya baru saja aku mulai tadi.

Lagipula bulan itu mengingatkanku pada pengalaman tahun yang lalu. Aku bergulat dengan gigihnya asap yang membunuh kemanusiaan itu sendiri.

Namun tak disangka bulan itu membawa gelombang-gelombang kejutan yang membuatku terperangah heran hingga kehabisan kata untuk melukiskannya.

Sekonyong-konyongnya tak ada ombak tak ada angin. Hatiku bersuara. Suara itu terus menuntun sampai titik dalam sebuah pesan singkat yang belakangan baru aku tahu telah terhapus oleh takdir.

Awalnya aku tak cukup alasan mengapa aku menyapamu, Kirana. Pesan singkat yang ku kirim barusan, tak menaruh harap terlalu banyak.

“Ah mustahil!”, kilahku.

Kirana masih sama seperti dulu. Ia membawa namanya ke mana-mana. Sinar arti namanya. Ia serupa pulau yang tak berpenghuni. Indah dan banyak orang ingin melihatnya namun tak satupun yang berani masuk ke sana.

Kalaulah aku salah seorang yang ingin melihatnya, barangkali aku hanya ingin melihatnya dari kejauhan. Bukan takut tapi aku sadar hatinya sudah tertutup rapat untukku. Bagaimana tidak, Kirana melihatku serupa batu karang yang luluh lantah dihantam ganasnya ombak. Tak ada alasan untuk tetap diam di sana sedang ombak terus saja mengusik.

Namun bukan Kirana namanya kalau tak ada sinar dihatinya. Sinarnya mampu menembus sudut paling dalam yang bahkan aku tak mampu lihat dari diriku sendiri.

Kau tahu kawan sinar itu benar-benar ada, dan  sepengetahuanku Kirana memberikannya untuku. Tak banyak memang tapi sinarnya tak bisa dilukiskan. Aku tidak tahu apakah sinarnya itu akan terus bersinar untukku atau tidak. Jika iya, “mamma mia …, dan jika tidak tak jadi soal. ” Seloroh ku.

Harus aku akui, gelombang Agustus itu banyak memengaruhiku. Aku sadar itu efek dari sejumlah neurotransmitter dalam otakku. Dopamine telah menghasilkan euforia sedemikian hebat.

Lauren Slater, setidaknya membantuku memahami apa yang aku rasakan saat itu. Bahwa …. dianggap dapat membuat seorang yang sehat jadi bertingkah seolah memiliki penyakit patologis.

Konyol memang tapi bagaimanapun aku harus menerima apa yang aku rasakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diriku.

Kirana sebenarnya aku tak ingin terjebak dalam  euforia seperti ini yang bilamana dibiarkan begitu saja akan menghasilkan obsesi, ilusi dan imajinasi liar. Bagaimanapun, akhirnya tetap saja aku harus turun dari awang-awang dan kembali memijakkan kedua kakiku di bumi.

Karena itu, dalam doa yang kupanjatkan aku menyerahkan apa yang kini aku rasakan kepada-Nya sebagai tanda aku ingin Ia menuntun pertumbuhan perasaan ini sebagaimana mestinya.

Kau tahu Kirana, apa yang ku rasakan saat ini? Aku sangat merindukanmu.

                                ***

Ubahlah

“Tapi, suatu saat orang akan berubah bukan?” Tanyaku.

“Terjun ke masyarakat, diombang ambingkan oleh gelombang yang ada di dalamnya, lalu patah arah, berbaur dan luntur di sana, dan berubah.”

Sejauh ini, aku paham betul bahwa segala sesuatu berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Bagaimana mungkin aku tidak berubah? Apakah rasa nelangsa membunuh perubahan itu? Tidak mungkin!

Enyahlah nelangsa yang terus memanggil dan mendekap sebatangkara.

Lagipula lihat mereka dengan pongahnya terus mengecap perubahan itu. Ayolah tularilah! Aku rasa, aku memerlukannya.

Jambi, 16 – 6 – 2016

Memeriksa Ujian

image

Beberapa hari ini saya cukup sibuk memeriksa hasil ujian siswa saya. Bahkan ke beberapa bulan ke depan tugas yang sama akan menanti. Mohon dukungannya.

Memeriksa ujian siswa punya kesulitan sendiri. Apalagi kalau sudah bicara bagaimana para siswa menuliskan jawabannya mereka di sehelai kertas. Hadoh, ada aneka tulisan unik, langka dan sulit terbaca membuat saya cukup kewalahan.

Soal hasil, tentu ada yang baik sekali dan ada yang kurang baik. Saya memberi penghargaan pada mereka yang memperoleh nilai yang baik, dan saya memberi dorongan kepada mereka yang mendapat nilai yang kurang baik. Tetap semangat dan terus giat belajar selagi kesempatan masih ada.

Memang nilai bukan segalanya tapi nilai menjadi indikator sejauh mana kalian memahami tiap materi yang sudah kita pelajari bersama. Saya rindu kalian menikmati proses itu. Proses di mana kalian belajar menjadi pembelajar sejati yang terus menerus dihantui rasa ingin tahu. Bukan hanya itu saja, kalian berani melangkah menghidupi apa yang kalian ketahui. Percuma kalau kita banyak tahu tapi kita tidak mampu melakukan apa yang kita tahu tadi. Mari belajar bersama.

Berita tiap hari

image

Di zaman tsunami informasi seperti sekarang ini, hampir setiap saat kita disugguhi informasi dan berita apapun, kapanpun dan di manapun. Apalagi kita yang gemar berselancar di dunia maya dan memiliki berbagai media sosial yang bukan saja menjadi wadah ekspresi sosial maya kita tapi sudah jadi tempat kita memperoleh berbagai berita terbaru dari penjuru Indonesia hingga apa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Menakjubkan.

Menjamurnya situs berita online seperti sekarang kadang membuat kita kewalahan. Tiap hari kita disajikan berita yang sama, yang hanya dipoles sedikit saja lalu disugguhkan lagi. Berita yang itu-itu saja. Bahkan tak jarang kita disuapi berita yang ‘kurang gizi’, tumpul dan karatan. Tidak sedikit juga kita jumpai situs-situs berita tertentu menjadi media provokasi dengan isu-isu basi yang mereka angkat. Lain lagi yang berat sebelah dan kadang tendensius.

Entah sekadar mencari rating atau jumlah klik, mereka-mereka ini akan terus memuat ulang berita yang sama tadi.

Namun tak jarang, di antara kita kemudian meneruskan berita tersebut dengan membagikan berita tersebut dihalaman media sosial kita. Entah itu sekadar ingin membagikan supaya diketahui orang lain atau kadang menjadi alat pembenaran kita. Kita merasa tulisan ini mewakili apa yang selama ini kita pikir, dan apa yang saya yakini selama ini. Dengan dalih ini kita membagikan tanpa mempertanyakan kebenaran berita tersebut.

Tidak sedikit juga orang yang meneruskan berita yang asal jadi dan belum tentu kebenarannya itu sebagai wadah untuk menunjukan ketidaksukaanya terhadap tokoh tertentu. Secara membabi buta dia akan membagikan tulisan-tulisan yang mendukung opininya dan tak lupa sedikit kritik, komentar pedas serta caciannya terhadap tokoh tersebut.

Ini sah-sah saja, semua orang berhak melakukannya akan tetapi kalau hanya wadah pembenaran opini pribadi dan atau kelompok semestinya kebenaran di atas segalanya. Kebenaran atau fakta dibalik berita tersebut jauh lebih penting. Karena itu kita harus selektif dalam memilih berita dan bijak dalam meneruskan berita tersebut.

Penyampai Pesan

Terjadi di Sarinah tersiar di belahan dunia lain. Begitu cepat.

Ya sangat cepat. Itulah kekuatan media massa dalam menyampaikan pesan. Alat komunikasi massa ini begitu luar biasa dalam mempengaruhi manusia.

Kita tercengang, cemas, panik dan ketakutan, mereka cengar-cengir sembari berpesta. Kita meratap mereka beria-ria dalam kesenangan. Kita marah dan mengutuk, mereka bangga dan sujud syukur. Psikologis kita terguncang.

Prinsip teroris membunuh beberapa orang, membuat panik jutaan orang. Dan mereka berhasil. Teror tadi dalam sekejap menghasilkan kepanikan, kecemasan dan ketakutan. Sekali lagi psikologis kita terguncang.

Media massa ditambah media sosial berhasil menyampaikan pesan mereka: menebar teror.

Sederhana saja, membuat hashtag dan membagikan gambar para korban dan informasi yang diolah media massa sedemikian rupa, kita telah turut menjadi penyampai pesan berantai mereka tadi. Dalam sekejap mendunia dan menjadi pusat perhatian manusia di seluruh dunia.

Mereka sangat menyukainya. Eksistensi mereka diakui.

Saya kira, mereka telah berucap terima kasih kepada warga Indonesia yang dengan sukarela menjadi penyampai pesan mereka.

Ngomong-ngomong, sudah berapa gambar para korban dan berita yang kita bagikan di media sosial kita?

Apa gunanya mengumbar berbagai hastag di media sosial kita? Alasan kekikinian kah?

Ngomong-ngomong, simpatisan mereka sangat aktif di media sosial loh, dan hashtag yang kita buat, berita yang kita bagikan akan sangat membantu mereka menyebarluaskan pesan utama mereka tadi. Baca: Twitter-terror:How ISIS is using hashtags for propaganda

Tidakkah kita berempati sedikitpun? Jangan hanya karena alasan ‘kekinian’ dan “berempati’ dengan mudah kita memampang foto-foto para korban yang terurai dan berlinang darah.

Terlalu Banyak Bicara

Terkadang saya muak melihat segelintir figur publik di negeri ini. Bagaimana tidak, mereka terlalu banyak bicara seolah merekalah yang paling tahu dan yang paling benar.

Lihat saja rentetan peristiwa yang terjadi beberapa waktu ini. Mulai dari kasus Angeline hingga peristiwa jatuhnya pesawat Hercules milik TNI kemarin. Mereka berlomba mengutarakan argumentasi supaya terkesan orang terdidik. Dengan opini mereka hendak menunjukan diri di depan publik bahwa merekalah yang banyak tahu. Muak saya bertambah kala melihat mereka terlalu banyak bicara tanpa memberikan solusi.

Ke mana mereka-mereka yang mengaku wakil rakyat selama ini. Apakah harus kejadian demi kejadian yang menyita perhatian publik ini terjadi baru mereka muncul. Soal kecelakaan Hercules misalnya. Tak lama setelah peristiwa nahas itu terjadi, beberapa oknum dewan terhormat bermunculan di media. Dengan semangat mereka mengeluarkan penyataan: “Stop menerima pesawat hibah!” Lalu apa?

Slogan “lebih baik mencegah daripada mengobati” tentu tidak berlaku di sini.

Saya membayangkan, andai saja 20 milyar yang disuarakan DPR, yang katanya adalah dana aspirasi, diperjuangkan untuk sistem alutsista, mungkin tidak akan terjadi tragedi seperti ini.

Namun sayang, mereka-mereka yang di atas hanya banyak bicara.

Ekspedisi

Perjalanan hidup seumpama sebuah ekspedisi. Perjalanan yang harus di tapaki dengan sebuah perencanaan dan persiapan yang matang. Persiapan ini dilakukan agar sampai kepada tujuan yang sudah ditetapkan. Sebaliknya ekspedisi tanpa sebuah perencanaan hanya akan menghasilkan kesia-siaan yang berakhir pada kegagalan. Gagal menikmati dan memaknai sebuah kesempatan menapaki perjalanan yang indah dan menantang.

“Seorang manusia tanpa tujuan besar yang pasti, tak berdaya ibarat sebuah kapal tanpa kemudi.”-Napoleon Hill

Begitulah seharusnya sebuah kehidupan dijalani. Dijalani dengan sebuah tujuan yang matang dan jelas. Kehidupan yang disusun dengan perencanaan-perencanaan matang. Ditapaki dengan nilai dan makna.

Fomophobia

Fear of missing out atau yang biasa disebut fomo adalah ketakutan ketinggalan berita atau status seseorang di media sosial.

Orang yang fomo biasanya selalu dekat dengan gadget. Bahkan saat pertama kali membuka mata saat bangun, yang dicari adalah gadget.

Gadget memang bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang masa kini, khususnya mereka yang fomo. Ya, mereka seolah satu kehidupan yang tidak lengkap jika yang satunya absen. Sekadar mengecek atau bahkan menghabiskan berjam-jam menatapi layar gadget adalah hal yang lumrah bagi mereka.

Mereka merasa ada sesuatu yang hilang bahkan takut jika ketinggalan berita. Rasanya mereka tidak sabar melihat status teman, idola bahkan orang terdekat mereka.

Tak salah jika sekadar ingin tahu berita terbaru atau sekadar melihat status seseorang di media sosial. Tapi menjadi masalah jika kita menjadi fomo. Ketakutan yang sebenarnya tidak membuat kita menjadi pribadi yang merdeka atau tidak terikat pada hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi kehidupan kita.

Bukankah pribadi kita tetap utuh tanpa embel-embel yang lain?

Menciumi Aspal

Barangkali malam tertawa geli melihat saya terkapar tak berdaya sembari ditunggangi kendaraan yang selama ini saya tunggangi. Ya, kemarin malam untuk kali pertama (semoga tidak ada kali kedua dan seterusnya) saya mengalami kecelakaan dalam berkendara. Oleh seekor anjing kampung menabrak ban depan motor saya, membuat saya harus jatuh dan menciumi aspal. Ah jatuh itu menyakitkan. Saya harus merelakan lutut dan tangan kanan saya lecet dan memar di sana sini, belum lagi saya harus merasakan perih. Ah sudahlah terlalu menyakitkan.

Bangkit adalah keharusan saat kondisi tak berdaya seperti malam itu. Bangkit dan pulang ke rumah dengan celana compang-camping dan baju penuh debu serta darah akibat diciumi aspal dan dikadali seekor anjing kampung sangat tidak lucu! Menciumi aspal membuat luka saja!

Dalam lamun malam ini, terbesit dalam benak saya, jika saja ibu melihat kondisi anaknya seperti sekarang ini, saya sangat yakin tangan cekatannya tak akan sabar menunggu untuk mengurusi anaknya yang satu ini. Namun sayang, ia telah tiada. Saya harus rela hanya ditemani bayang ibu.

***

Antre

Semrawutnya pelayanan publik seringkali berpangkal dari rendahnya budaya antre. Budaya mengantre sekarang ini sepertinya sudah digeser dengan budaya menyerobot. Alhasil banyak pihak tidak nyaman bahkan dirugikan dengan kebiasaan buruk ini.

Di Indonesia sendiri budaya antre nampaknya kian hari kian langka untuk disaksikan. Kepentingan pribadi jadi alasan utamanya. Banyak orang demi kepentingan pribadi mengabaikan kepentingan sesamanya. Mereka lebih memilih tak antre dan berdesakan bahkan menyerobot demi keutungan diri.

Padahal budaya antre sangat penting, selain mendukung terbentuknya disiplin pribadi, lewat kebiasaan mengantre kita belajar hidup tertib dengan demikian kita juga menjadi penyukses pelayanan publik. Kebiasaan tidak mengantre harus dipandang bukan hanya pelanggaran moral semata tetapi harus dianggap kesalahan besar, dengan demikian tidak merugikan diri, orang lain maupun institusi tertentu.

Bercermin dari bangsa Taiwan, komitmen untuk mengantre merupakan gaya hidup orang Taiwan tak heran mereka dikenal sebagai Queueing Master (Master Antre). Di mana pun, kapan pun, dan moment apapun mereka selalu antre dengan baik, tidak heran jika masyarakatnya mempunyai disiplin yang tinggi dalam segala hal.Berkaca dari mereka, sudah seharusnya kita mengubah kebiasaan buruk yang oleh sebagian masyarakat kita dianggap lumrah. Mulai saat ini mari kita berkomitment untuk mengantre wujudkan masyarakat Indonesia yang disiplin.

bbc-prommers-queueing-outside-of-the-royal-albert-hall-658x325
Image: sinfinimusic.com

 

Ketika bergulat dengan malam

Ketika malam menjemput ia terbahak muak melihat lirihku

Sinisnya menambah tebalnya balutan kesepian ini

Gairahnya terasa membara hendak menikam dengan sepi

Barangkali sepi adalah senjatanya yang nan ampuh melumpuhkan jiwa tak berisi

Aku hanya bisa terdiam dalam keluh

Kadang terjaga dalam kantuk hingga fajar menjemput

Aku tahu betul kesepian yang tak berujung ini membekukan tulang

Aku hanya tunduk terhadap lamun melayang

Hanya mampu menantang sunyi dengan alunan nada

Itulah yang bisa kulakukan ketika bergulat dengan malam.

Jakarta, 22 Juni 2014

Tentang Kerisauan

Bantalku basah oleh tempias air mata tadi malam. Ah, aku terlalu sentimentil. Gerimis pagi memang selalu bikin perasaan melankolis.

Barangkali ini soal rasa risau di hati.

Apa yang telah aku lakukan padamu? Kau tahu: terlampau banyak. Selalu terlampau banyak. Dan aku takut kau bosan dan mungkin telah bosan.

Aku selalu mengoceh tentang kenangan atas dirimu. Abaikupun mengakar melingkari lukamu, menyesah batinmu. Dan lihat sekarang aku malah risau, risau ditinggal kenangan atas dirimu.

Mentutup mata sebentar bukan soal mudah bagiku, besok pun demikian. Mohonkan waktu sejenak aku menjawab tanya dan ragumu lewat laku bukan tutur.

***