Musim Durian

image
Ibu dan Anak karya M. Zaini

Tapi ini adalah cara terakhirku bertahan dalam kerinduan itu sendiri.

Aku sangat menyukai buah yang satu ini. Rasa manis legit nan nikmat menjadikan buah ini favoritku sejak kecil.

Setiap musimnya aku pasti menanti dengan penuh kegirangan dan tak sabaran menikmati kelezatannya.

Buah musiman ini selalu membawa aroma kenangan begitu kuatnya. Entah kenapa tiap kali menyantap buah ini, sensasi rasa buah ini seolah dapat menyusun kepingan-kepingan kenangan yang tercerai-berai dalam ingatanku. Pada titik tertentu, aku ingin menghentikan sejenak waktu hingga aku bisa berlama-lama menikmati sensasinya. Aku tak ingin itu berlalu begitu saja, aku ingin larut dalamnya.

Ya, buah ini bak jembatan yang bisa kulintasi melawan takdir yang terlampau jauh untuk bisa ku jangkau. Bahkan buah ini menjadi senjata ampuh melawan lupa. Lupa yang membawa derita dalam jiwa, darah dan daging. Lupa yang menjadi tembok pemisah rindu dan kenangan yang terkubur dalam digit tahun yang terus menua. Dan akhirnya lupa yang mengantar pada jerit kesakitan.

Musimnya adalah musimku, musim mengenang ayah. Musim mengenang ibu. Musim yang setidaknya mengantarkan sejenak rinduku pada mereka. Tak lazim memang merindu dalam musim. Tapi ini adalah cara terakhirku bertahan dalam kerinduan itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s