Kirana

Akhir Agustus, aku tau bulan itu tak ada bedanya dari bulan yang lainnya. Bulan itu hanya penanda bahwa aku telah menjelajahi separuh tahun yang rasanya baru saja aku mulai tadi.

Lagipula bulan itu mengingatkanku pada pengalaman tahun yang lalu. Aku bergulat dengan gigihnya asap yang membunuh kemanusiaan itu sendiri.

Namun tak disangka bulan itu membawa gelombang-gelombang kejutan yang membuatku terperangah heran hingga kehabisan kata untuk melukiskannya.

Sekonyong-konyongnya tak ada ombak tak ada angin. Hatiku bersuara. Suara itu terus menuntun sampai titik dalam sebuah pesan singkat yang belakangan baru aku tahu telah terhapus oleh takdir.

Awalnya aku tak cukup alasan mengapa aku menyapamu, Kirana. Pesan singkat yang ku kirim barusan, tak menaruh harap terlalu banyak.

“Ah mustahil!”, kilahku.

Kirana masih sama seperti dulu. Ia membawa namanya ke mana-mana. Sinar arti namanya. Ia serupa pulau yang tak berpenghuni. Indah dan banyak orang ingin melihatnya namun tak satupun yang berani masuk ke sana.

Kalaulah aku salah seorang yang ingin melihatnya, barangkali aku hanya ingin melihatnya dari kejauhan. Bukan takut tapi aku sadar hatinya sudah tertutup rapat untukku. Bagaimana tidak, Kirana melihatku serupa batu karang yang luluh lantah dihantam ganasnya ombak. Tak ada alasan untuk tetap diam di sana sedang ombak terus saja mengusik.

Namun bukan Kirana namanya kalau tak ada sinar dihatinya. Sinarnya mampu menembus sudut paling dalam yang bahkan aku tak mampu lihat dari diriku sendiri.

Kau tahu kawan sinar itu benar-benar ada, dan  sepengetahuanku Kirana memberikannya untuku. Tak banyak memang tapi sinarnya tak bisa dilukiskan. Aku tidak tahu apakah sinarnya itu akan terus bersinar untukku atau tidak. Jika iya, “mamma mia …, dan jika tidak tak jadi soal. ” Seloroh ku.

Harus aku akui, gelombang Agustus itu banyak memengaruhiku. Aku sadar itu efek dari sejumlah neurotransmitter dalam otakku. Dopamine telah menghasilkan euforia sedemikian hebat.

Lauren Slater, setidaknya membantuku memahami apa yang aku rasakan saat itu. Bahwa …. dianggap dapat membuat seorang yang sehat jadi bertingkah seolah memiliki penyakit patologis.

Konyol memang tapi bagaimanapun aku harus menerima apa yang aku rasakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diriku.

Kirana sebenarnya aku tak ingin terjebak dalam  euforia seperti ini yang bilamana dibiarkan begitu saja akan menghasilkan obsesi, ilusi dan imajinasi liar. Bagaimanapun, akhirnya tetap saja aku harus turun dari awang-awang dan kembali memijakkan kedua kakiku di bumi.

Karena itu, dalam doa yang kupanjatkan aku menyerahkan apa yang kini aku rasakan kepada-Nya sebagai tanda aku ingin Ia menuntun pertumbuhan perasaan ini sebagaimana mestinya.

Kau tahu Kirana, apa yang ku rasakan saat ini? Aku sangat merindukanmu.

                                ***

Advertisements

2 thoughts on “Kirana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s