Ujian Mid

image

Ujian mid di SMA Bina Kasih sudah berlangsung hampir seminggu. Hari ini saya berkesempatan mengawas di grade sepuluh A.

Lucu juga menyaksikan raut muka para murid tiap pagi menjelang ujian dilaksanakan. Ada yang tegang, berbeban, ada yang sedang kumat-kamit dengan hafalan materi ujian, ada yang pasrah, ada juga yang masih mengantuk. Hadoh!

Menengok ke belakang, sewaktu SMA dulu saya juga merasakan sama persis apa yang mereka rasakan saat ini. Merasakan apa yang namanya menghafal beberapa pelajaran sekaligus, tegang bahkan adakalanya stres. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa saya lakukan jika ingin naik kelas. Sewaktu kuliah juga sama prosesnya saja yang agak berbeda.

Beginilah polemik pendidikan di Indonesia. Selain kurikulum rumit dan sulit, sistem yang dipakai selama ini belum sepenuhnya menghasilkan generasi unggul yang mampu bersaing secara global. Sayang sekali ya.

Selama ini memang kita akui, menghafal adalah metode belajar yang menjadi andalan dalam proses pembelajaran dari waktu ke waktu. Mendengar, mencatat dan menghafal.  Sayangnya, model pendidikan ini belum berhasil mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional. Lagipula metode ini kerapkali menjadi momok menakutkan bagi siswa kebanyakan, dan tentu saja akan sulit mencapai  tingkatan pada learning  to  know,  keceriaan dalam penerimaan tujuan pada learning  to  do dan keceriaan bersama untuk mencapai tujuan umum pada learning to  live together, dalam pilar pembelajaran.

Kapan ya, sistem pendidikan ini berakhir dan berganti menjadi sistem pendidikan yang merangsang, menantang, dan menyenangkan bagi anak didik? Sistem yang mengubah si penghafal menjadi si pembelajar yang selalu ingin mencari tahu, melakukan apa yang dia tahu, dan berbuat sesuatu bagi yang lain dari apa yang ia tahu.

Entahlah, hanya menteri yang tahu. Jangan malu mengadopsi sistem pendidikan Finlandia yang terkenal itu. Bila itu baik kenapa harus malu.

Hari Kesehatan Mental Sedunia

Awalnya saya juga lupa kalau hari ini adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia. Untung saja kalender Google mengingatkan. Hadooh!

Memang Hari Kesehatan Mental Sedunia tak se-semarak hari-hari peringatan lainnya, karena itu mungkin kebanyakan orang melupakannya – termasuk saya. Ataukah Hari Kesehatan Mental Sedunia dianggap tidak penting sehingga tak perlu diingat? Ataukah kita masih merasa sehat secara mental?  Ataukah mental manusia-manusia postmodern yang sedang diambang bahaya? Entahlah.

Kita akui segala sesuatu berubah dan terus berubah. Kecil atau atau besar perubahan tersebut akan berimbas kepada kehidupan kita. Perubahan terbesar beberapa dekade belakangan terjadi di lini teknologi komunikasi. Sekali lagi, perubahan ini memengaruhi cara hidup, berpikir, bertindak, filosofi dan nilai-nilai hidup seseorang. Satu sisi kemajuan di bidang teknologi komunikasi membawa banyak manfaat dalam hidup kita. Namun di sisi yang lain membawa dampak yang membahayakan bagi kesehatan mental manusia itu sendiri.

Pemanfaatan teknologi digital dengan tidak terkendali berimbas pada kualitas interaksi sosial manusia. Interaksi maya lambat laun akan mengikis kasih, empati, kepedulian, kepekaan sosial seseorang. Tentu kita sering menyaksikan orang berkumpul namun sibuk dengan ponsel pintar mereka secara bersamaan. Kondisi ini tentu saja sangat memengaruhi kualitas sebuah hubungan, dan ini sangat berhubungan dengan kesehatan mental seseorang.

Salah satu kebenaran yang menyedihkan hari ini adalah bahwa teknologi mengendalikan kita. Bukan hanya tentang waktu, tapi bagaimana kita menggunakannya. Media sosial misalnya, banyak pengguna media sosial pada akhirnya mengedit kehidupan mereka demi sebuah pengakuan dan penerimaan orang lain. Kita akan memoles sedemikian rupa dari foto profil hingga status, kita edit sedemikian baik, lebih baik daripada yang sebenarnya.

Kita berbohong terhadap diri kita sendiri. Kita berpura-pura seolah apa yang kita lakukan di dunia maya membuat kita lebih bahagia ketimbang kehidupan di dunia nyata. Mental kita sakit.

Kehidupan nyata adalah tentang jujur pada diri sendiri. Jadilah dan terimalah diri kita sendiri. Jangan jadi orang lain supaya orang lain menyukai kita.

Kehidupan nyata adalah tentang kesadaran kita akan lingkungan di mana kita berada, tentang sesama kita dan kebutuhan mereka. Kehidupan nyata bicara tentang orang-orang yang nyata – yang hadir di sekeliling kita. Buat apa kita punya teman di media sosial sampai menyentuh angka ribuan tapi kita merasakan kesepian?

“Kemiskinan yang paling besar adalah kesepian dan perasaan tidak dicintai.” -Bunda Theresa

Memperingati hari yang tak diingat – Hari Kesehatan Mental Sedunia biarlah kita merenung sejenak. Dalam keheningan malam ini mari kita dengan diri kita bicara hati ke hati. Bertanyalah bagaimana kabarmu kini?

Serba salah

Saya pikir mereka yang punya tabiat pengkritik, penghasut dan pencaci maki tapi nihil aksi adalah mereka-mereka yang berjiwa kerdil bahkan mungkin sakit.

Lihat saja apa yang sajikan media belakangan ini. Tidak jauh dari soal asap. Lihatlah kelakar mereka, omongan busuk mereka, tutur kata kekanak-kanakan mereka untuk bapak Presiden kita. Hari ini bapak Presiden berkunjung ke Jambi, melihat kondisi terakhir serta mengunjungi korban kabut asap yang ada di kota Jambi.

Alih-alih berkomentar baik, kunjungan lepas kunjungan yang selama ini bapak Presiden lakukan hanya dianggap sebagai pencitraan belaka oleh mereka-mereka yang jago berkomentar miring tersebut. Saya habis pikir, sedemikian sakitkah jiwa mereka sehingga tidak mampu berpikir jernih setidaknya dalam kondisi genting seperti sekarang ini. Cobalah berpikir bersih. Jangan banyak bicara, kalau anda tidak yakin bapak Presiden melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, mari ikutlah dengan beliau, saya kira bapak Presiden akan dengan senang hati kalau ada pejabat yang ingin.

Ini bencana dan bukan soal pencitraan lagi, yang pencitraan itu ya anda-anda yang suka mencari sensasi dengan komentar miring ala abg. Menampilkan diri bak pahlawan di media massa supaya dilihat dan disaksikan orang sebagai pembela rakyat padahal sok tahu, tong kosong nyaring bunyinya. Sekali lagi ini soal bencana asap. Bapak Presiden berkunjung itu sudah satu langkah. Langkah yang seharusnya didukung bila perlu diberi masukan. Ada tindakan, memang sampai saat ini belum kelihatan perubahan yang luar biasa. Jangan berpikiran instan, bapa Presiden bukan sosok jin lampu yang ada dalam film Aladdin, yang dapat mengabulkan apapun permintaan dengan segera. Tunggu saja prosesnya, memadamkan api saja butuh proses apalagi membereskan ketimpangan hukum di republik ini, anda kira semudah meneguk segelas air putih.

Saya muak melihat ulah segelintir anggota dewan terhormat ini. Tidak cukup kah sibuk menyusun siasat mengebiri KPK? Sudah, tidak usah banyak omong lagi, muak saya mendengarnya. Saya lebih menaruh hormat kepada mereka yang di hutan, dahaga, melepuh berkorban untuk kami. Lihatlah para anggota TNI, BNPB, beserta rakyat yang berjibaku memadamkan api. Mereka adalah rekan bapak Presiden yang berjuang untuk kepentingan banyak pihak. Mereka jarang di sorot media, mereka jarang bahkan tidak pernah ditayangkan di televisi, koran ataupun media online. Dari pada anda-anda yang hanya bisa berkomentar miring, mengkritik sinis, cengar-cengir di depan kamera namun nol aksi.

Jangan kan diam tidak bertindak, sudah melangkah dan bertindak saja masih dicaci maki. Maunya apa sih?

Enek juga! Mental tempe, bisanya mengkritik, menyalahkan, mencaci maki,  sana turun ke lapangan, padamin tuh api. Jangan cuman ngomong doang, kita yang ada di Jambi udah mau mati hirup asap tiap saat. Eh anda-anda yang di sana sibuk merevisi ini itulah – yang ujung-ujungnya duit doang.

Bagi yang jagoannya kalah bertarung kemaren, please move on dong. Hidup itu terus berjalan, dan berjalannya tidak ke masa lalu tapi masa depan. Masih banyak hal baik yang bisa kita kerjakan bersama daripada ikut-ikutan berkomentar miring, memanas-manasi, mencibir mencontohi para wakil kita yang lagi nyaman duduk di tahtanya tanpa memedulikan kita.

Begitulah apa-apa serba salah. Diam salah, bicara salah. Melangkah salah, tidak melangkah apalagi. Pak Presiden jadi serba salah. Sabar aja pak, ada waktunya mereka akan bungkam. Lakukan saja apa yang harus bapak lakukan.

Tsunami Informasi

Disadari atau tidak, mau atau tidak mau, kita hidup dan tenggelam dalam pusaran tsunami informasi. Saat ini arus informasi di media massa maupun media sosial tidak terbendung. Pakar komunikasi, Tony Schwartz menyebut media massa adalah tuhan yang kedua, artinya hadir di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.

Hari ini, jumlah informasi yang kita dapat sangat banyak dan beragam membuat kesadaran global kita semakin kuat serta memungkinkan munculnya wawasan yang lebih luas pula. Namun di sisi yang lain, tsunami informasi yang tersaji di media massa dengan format yang semakin beragam membuat otak manusia dipaksa bekerja secara multitasking. Di mana pada suatu saat yang sama otak dipaksa untuk memikirkan beberapa hal sekaligus.

Mau tidak mau kita dibiasakan melihat segala sesuatu secara tergesa-gesa, tidak utuh dan serba cepat. Akibatnya, kemampuan untuk menyimak dalam waktu yang panjang semakin berkurang.  Komunikasi yang rumit dianggap tidak menarik, kalau tidak menarik tidak diperhatikan. Tanpa kita sadari nilai hidup kita pun bergeser, tidak lagi berdasarkan apa yang benar tetapi seberapa bermanfaat bagi saya. Mengutamakan kesan ketimbang pesan.

Memang media massa memperkaya informasi dan wawasan kita tetapi tanpa kita sadari mengikis kekritisan kita. Bila kita cenderung hidup menekankan kesan ketimbang pesan, maka kita tidak dibiasakan berpikir kritis. Contoh ketidakkritisan adalah konsumerisme. Membeli suatu bukan karena butuh tapi karena sudah banyak orang yang menggunakannya.

Selain itu, media massa dimanfaatkan sebagian orang sebagai alat untuk membentuk opini. Sering kita jumpai berita yang dimuat tidak berimbang, wadah menghujat, mengkritik tanpa solusi, mengumpat, fitnah, menjelek-jelekan sesamanya, memuat berbagai agenda licik demi kepentingan sekolompok orang, perorangan atau golongan. Sangat sulit menemukan berita positif di tengah arus informasi seperti saat ini.

image
Sumber gambar: http://www.oneheartceremonies.com

Karena itu, bijaklah memilih berita, jangan asal meneruskan berita bohong yang sumber dan kredibilitasnya tidak jelas. Cerdaslah dalam membaca informasi. Tangkaplah pesan ketimbang kesan, kritisi bila perlu.

Escape from Reason

Escape From ReasonFrancis Schaeffer adalah salah satu pemikir Injili yang mencoba mengaitkan dirinya dengan kebudayaan sekuler. Karya terbaru yang cukup berpengaruh dalam ranah pemikiran filsafat serta teologia Kristen adalah karyanya berjudul Escape From Reason.

Melalui buku ini Scaheffer melihat dan menganalisa secara luas dan mendalam bukan hanya filsafat dan teologi tetapi juga seni dan sastra. Melalui bukunya Schaeffer melihat dan menguraikan mula sekularisme yakni ketika manusia mencoba dengan memecahkan segala sesuatu dengan otonomi pikirannya. Manusia menjadikan pikirannya sebagai satu-satunya penentu segala sesuatu. Ia melihat masalah yang paling krusial yang dihadapi orang Kristen hari ini berakar pada Abad Pertengahan dan pengaruh pemikiran Aquinas pada khususnya. Aquinaslah yang membuka jalan bagi rasionalitas otonom. Pembedaan Aquinas antara anugerah dan alam telah memberikan tanah subur bagi keyakinan bahwa manusia bisa mandiri – otonom.

Dalam EFR Schaeffer  meneliti hubungan antara ‘anugerah’ dan ‘alam’. Dia berpendapat bahwa alam telah perlahan-lahan ‘memakan’ kasih karunia. Masyarakat Barat telah pergi di bawah garis ini dan itu telah menyebabkan rasa putus asa. Putus asa ini terungkap pertama dalam filsafat; kemudian menyebar hingga seni, maka musik dan budaya umum, sebelum mencapai teologi.

Schaeffer juga menguraikan kesatuan antara Alam dan Anugerah dengan mengangkat hubungan sejarah antara Renaissance dan Reformasi ia mengkontraskan kedua pandangan dari ke dua belah pihak. Para reformator menolak humanisme dan sepenuhnya menerima apa yang dikatakan Alkitab mengenai manusia yang digambarkan sebagai mahluk mulia yang diciptakan sesuai rupa sang Pencipta.

Melihat berkembangnya paham-paham bertentangan dengan Iman Kristen, Schaeffer berkeras bahwa kekristenan masih mempunyai kesempatan menjawab semua bentuk paham tersebut dengan rasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Bersama para reformator Schaeffer menekankan bahwa kita tidak boleh menyingkirkan otoritas Kristus di dalam Alkitab. Melalui Alkitab Schaeffer menguraikan kerangka berpikirnya tentang Allah, manusia dan alam. Ia menegaskan segala sesuatu ada karena Tuhan yang menciptakannya. Allah itu adalah  Allah yang dipahami dalam Alkitab yaitu Allah yang hidup dan sungguh-sungguh berpribadi dan manusia adalah karya-Nya yang ajaib, Allah menjadikannya secara khusus.

Problem muncul ketika manusia jatuh dalam dosa manusia mencari relasi ataupun memuaskan keingintahuannya akan segala sesuatu diluar dirinya namun tidak mampu. Alkitab mengajarkan sekalipun manusia hilang tanpa harapan namun ia bukan nihil. Manusia hilang karena terpisah dengan Allah. Alkitab menunjukkan kepada manusia jalan keluarnya dengan memproklamirkan penebusan dalam Kristus hanya dengan melalui Kristus ada pendamaian dengan Allah dan hanya melalui cara ini manusia bisa memahami dan menyadari keberandaannya yang sesungguhnya.

Buku Schaeffer Escape From Reason sudah pasti ditulisnya untuk membuka cakrawala pemikiran dalam kekristenan. Agar seorang Kristen memiliki worldview yang luas dapat menjawab problem kekinian dengan paradigma Alkitab dan dapat dipertanggungjawabkan dengan rasional. Sesuai dengan tujuan buku ini maka buku ini sepertinya tidak hanya ditujukan kepada pembaca akademisi saja. Namun tidak menutup kemungkinan kepada pembaca umum jika ia memiliki ketertarikan dengan filsafat maupun teologia. Secara keseluruhan kerangka pemikiran Schaeffer dalam menganalisa filsafat, teologia hingga seni patut diacungi jempol. Pemikiran kritis sistematis, mendongkrak pemikiran generasi selanjutnya bahkan saya secara personal dalam memahami baik sejarah maupun perkembangan pemikiran modern. Melalui buku ini Schaeffer mengkomunikasikan kekristenan ke budaya modern. Dia membangun kita untuk melihat adanya humanisme sekuler dan menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk berpikir dan menjadi seorang Kristen pada saat yang sama.

Buku ini memberikan pengenalan yang sangat baik untuk ide-idenya, meskipun hal itu menunjukkan asal-usulnya dalam format kuliah: ada beberapa catatan kaki dan referensi. Pandangan yang ia sodorkanpun saling berintegrasi dengan kehidupan sehingga lebih mendarat bagi pembaca. Secara sistematis Schaeffer mengungkapkan tesis utamanya dengan gambaran, nama-nama serta ide-ide yang mengalir yang membuat kita menikmati lembar demi lembar penuturannya.

Disayangkan dibeberapa bagian penting Schaeffer tidak menggunakan ilustrasi. Sebenarnya Schaeffer membuat beberapa poin yang sangat baik tentang kasih karunia dan alam menggunakan deskripsi dari karya seni dan memiliki ilustrasi akan sangat memperkaya pengalaman membaca.

Schaeffer dengan semangat untuk mengerti kebenaran dan dengan pemikiran kristis dan sistematis akan mengantar pembaca melihat sisi lain dari dunia modern serta bagaimana pandangan Kristen terhadapnya. Dan akan membantu pembaca untuk lebih memahami dunia modern dengan segala pahamnya serta memiliki worldview yang sesuai dengan Alkitab Sangat di sarankan untuk membaca buku baik ini sebagai referensi yang baik serta untuk menambah bahkan memperdalam pengetahuan khusunya dalam bidang filsafat dan hubungannya dengan Iman Kristen. Akhir kata buku Escape From Reason telah membuka cakrawala berpikir saya secara personal. Karya yang menganggumkan penuh dengan pemikiran yang tetap relevan dari waktu ke waktu.

Energi Negatif

Energi negatif dan sikap sinisme membuat orang kalah sebelum bertanding, malas mencari solusi. Lebih parah lagi energi negatif membuat orang tidak percaya diri dan hanya meratapi nasib.

Pada kenyataannya masih bahkan cukup banyak mereka yang terus dililit  oleh energi negatif dan budaya sinisme. Mindset mereka seolah diprogram untuk melihat segala sesuatu dari sisi buruknya: yang jujur mengutarakan pendapat dicibir, kritik dan komentar dianggap musuh, yang berhasil dijegal, dan yang seharusnya mudah dipersulit. Belum lagi sikap suka banding-membandingkan tanpa sumbangsih nyata.

Ah sudahlah, energi negatif itu hanya membuat lelah.

Tentang Pilpres 2014

Menjelang pengumuman pemenang Pemilu Presiden 2014 oleh KPU terus terang saja sebagai warga negara yang turut berpartisipasi dalam demokrasi di negara ini, saya risau dan gundah karena beberapa hari belakangan disuguhkan pertunjukkan demokrasi yang terbilang tidak sehat dan tidak mendidik oleh mereka-mereka yang mengaku diri nasionalis tulen dan mencintai demokrasi yang terhormat.

Saya dipertontonkan adegan demi adegan  panggung politik yang megah namun licik. Dari masa kampanye kita menyaksikan kampanye hitam dan negatif adalah hal lumrah dilakukan. Hingga hasil hitung cepat adu kekuatan dan adu klaim tak kunjung usai. Satu sisi mencap lembaga survei yang sudah kredibel sebagai survei pesanan, satu sisi mereka sendiri menggunakan survei-survei abal-abal yang kredibilitasnya tak jelas.

Kemarin berucap siap kalah, siap menang namun pada kenyataannya mereka menaruh curiga berlebih baik kepada lawan maupun KPU sebagai penyelenggara. Alhasil berbagai agenda licik diusung ke publik seolah mereka korban kecurangan. Mereka tampak sangat kukuh untuk mengatakan merekalah yang menang dalam pemilihan ini. Berbagai cara dilakukan, seperti mendesak penundaan pengumuman oleh KPU. Barusan mereka melaporkan KPU ke Mabes POLRI. Bahkan Ketua Tim Hukum dan Advokasi Prabowo-Hatta, Habiburakhman berujar, “Oleh karena itu, kita lakukan berbagai cara, termasuk kemungkinan terburuk.”

Mengerikan.

Katanya berjiwa ksatria, namun yang nampak kepermukaan tak ubahnya secuil jiwa kerdil haus kekuasaan namun tak siap menerima kekalahan. Barangkali jiwa elite yang melekat pada diri mereka mempersulit mereka untuk menerima kekalahan.

Hai para elite yang agung, saya pikir Anda bukanlah orang yang bodoh. Pada dasarnya Anda telah mengetahui bahwa pertandingan telah usai dan Anda tidak memenangi kontes ini. Jangan bersikukuh dalam kemenangan yang delusional yang kalian jual ke publik dengan deklarasi kemenangan, sujud syukur, pembentukan koalisi permanen, bahkan ucapan selamat seolah Anda adalah pemenang sejatinya. Sudah saatnya bangun dari tidur dan meraba kenyataan.

Akuilah kekalahan Anda, terimalah hasil yang ada. Itu jauh lebih baik dan tentu jauh lebih terhormat dilakukan oleh seorang nasionalis tulen.

 ***

Masa Sulit

Masih tidak percaya kalau bulan Juni akan segera berakhir. Serasa baru kemarin memasuki awal Juni dengan segudang agenda dan tentunya harapan. Akan tetapi sayang seribu sayang harapan semula tak kunjung tiba dipenghujung Juni. Agenda-agenda yang dirancangpun kerap berantakan.

Masih soal kesulitan dalam menggarap proyek tengah tahun ini: skripsi. Gagasan yang seolah mampet membuat tuts-tuts komputer tak tersentuh beberapa hari belakangan, pertanda alur skripsi tak kunjung memperlihatkan perkembangannya. Belum lagi persoalan lain yang tarik-ulur, turut menjadi kendala dalam menyelesaikan pembuatan skripsi. Ya, barangkali di sinilah titik jenuhnya.

Kejenuhan memang membunuh daya kreativitas. Alhasil ide-ide yang semula bertebaran dalam benak tak kunjung mendarat di atas kertas. Ketika kreativitas terkungkung oleh jenuh dan rasa malas, tidur dan melamun adalah pilihan yang tidak bisa ditolak. Dan tentu ini masalah.

Masalahnya tentu saja halaman skripsi yang notabene syarat kelulusan tak kunjung bertambah. Bukan itu saja, beberapa hari ini badan saya memberi isyarat adanya ketidakberesan dengan perlakuan saya terhadapnya. Kasian juga ya.

Kembali ke soal masa sulit. Masa sulit memang tidak absen dalam hidup. Barangkali itu yang bisa saya katakan sebagai bentuk penghiburan diri. Kenyataannya memang masa sulit tentu saja mampir dalam hidup. Jangan berharap masa sulit absen dalam hidup kita tetapi berharaplah bahwa kita bisa menjalani masa sulit tersebut. Dan percayalah masa sulit tidak selamanya membuat kita seolah menjadi manusia yang tidak berdaya sama sekali. Masa sulit memang menyusahkan bahkan menyesakkan akan tetapi kehadirannya sejatinya kita butuhkan. Untuk apa? Setidaknya menjadi indikator untuk menilai diri kita apakah hari demi hari, bulan demi bulan kita makin dewasa dan bertumbuh atau kah sebaliknya.

Masa-masa sulit juga mengingatkan kita bahwa kita tidak sempurna dan tidak bisa melakukan segalanya. Oleh karenanya jangan sombong. Masa sulit mengingatkan kita bahwa kita terbatas dan mungkin saja dalam hal ini kita memerlukan tangan orang lain untuk menolong kita. Jangan enggan atau malu meminta pertolongan. Masa sulit membuat kita gerah dan tidak puas dengan keadaan sekarang dan karena itu lakukan sesuatu. Sesuatu yang setidaknya membuat kita keluar atau setidaknya bisa menjalani persoalan dengan hati yang damai. Dan tentunya masa-masa sulit mengingatkan kita untuk segera menyendiri dan berlutut berdoa karena kita tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat menolong kita. Berdoalah.

Meskipun dalam masa sulit namun saya masih menaruh harapan esok hari tangan ini kembali cekatan ketika ia kembali bersahabat dengan ide. Karena saya yakin bahwa pemeliharaan-Nya tak pernah berkesudahan dan tak akan berakhir tentunya. Itulah yang menguatkan dan meneguhkan ketika masa sulit menghampiri.

Jakarta, 30 Juni 2014

Susahnya Mendapati Berita Positif

Beberapa hari belakangan kita tentu menyaksikan bagaimana sengitnya persaingan dunia politik di negara kita. Imbasnya media massa jadi alat yang ampuh untuk mendulang simpati dari masyarakat lewat berita-berita yang disajikan. Dalam hal ini, media massa pun bersaing menjolkan satu sosok, menenggelamkan yang satunya lagi.

Kita harus akui, kadang pemberitaan media massa tidak berimbang. Hampir setiap hari kita disajikan informasi-informasi yang terkesan negatif. Akan sangat sulit menemukan berita positif belakangan ini. Di tengah banjirnya arus informasi jarang kita menemukan media massa yang mengangkat satu isu yang dikupas secara berimbang tanpa berat sebelah.

Jujur saja, kadang saya malas mengikuti berita yang isinya negatif melulu. Kadang lelah juga membaca berita yang hanya memuat pemberitaan buruk, meneruskan berita palsu yang tidak jelas sumber dan kredibilitasnya,  mengumpat, menjelek-jelekkan bahkan fitnah.

Ah memang yang negatif itu selalu membuat lelah. Dari pada lelah, suntuk bahkan pusing dengan berita negatif lebih baik tebarkan, beritakan hal-hal positif. Apa itu? Sederhana saja, berikan kata-kata peneguhan, berikan kata-kata pujian untuk pasangan kita, bagi kita yang memiliki pasangan, orang tua, kakak-adik, dan teman-teman. Bagi yang belum mendapatkan pasangan berikanlah itu kepada siapapun, siapa tahu lewat itu Anda mendapatkan belahan jiwa yang selama ini ada dambakan. Bagi teman-teman yang gemar berkicau ria di media sosial lakukan hal yang sama. Positif itu membangun, menguatkan, menghibur dan tentunya indah.

 ***

 

God With Us

Imanuel, nama yang tercatat dalam Matius 1:23, pertama kali diberikan kepada Yesus oleh nabi Yesaya 700 tahun sebelum kelahiran-Nya (Yesaya 7:14). Dan Matius memberitahu kita arti nama yang sangat khusus ini “Allah berserta kita”. Yesus Kristus adalah Imanuel, “Allah beserta kita”.

Lalu dalam arti apakah Yesus “Allah beserta kita”? Bukankah Tuhan selalu dengan umat manusia? Ya. Di satu sisi Allah, Sang Pencipta, selalu dengan ciptaan-Nya. Tidak seperti dewa palsu kaum Deistis dan kaum evolusionis, yang percaya pada tuhan yang memulai dunia dan kemudian pergi jauh meninggalnya, Allah yang benar selalu bersama kita.

Tentang ini, Dia mengatakan dalam Yeremia 23, Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga? Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.” (Yer 23:23-24).

Tuhan dalam Alkitab, Sang Pencipta yang benar adalah omnipresent, di mana-mana pada saat yang sama. Dia memenuhi semua ciptaan dengan kehadiran-Nya, setiap gunung dan setiap molekul, namun Dia bukan bagian dari ciptaan itu. Dia tetap Pencipta berbeda dari ciptaan-Nya. Dan Tuhan yang ada dimana-mana tentu Allah yang beserta kita.

Tetapi dengan kelahiran Yesus Kristus di Bethlehem, Imanuel, “Allah beserta kita,” mengambil makna baru. Dalam pribadi bayi Yesus, Tuhan “dengan kita” bukan hanya untuk memberkati kita tetapi juga membantu kita, melindungi kita, dan membimbing kita bahkan menyelamatkan kita. Karena Yesus kecil yang tertidur di jerami itu adalah “Allah beserta kita ” karena Ia adalah Allah.

Apa yang membuat para gembala kembali ke ladang dengan bersukacita, apa yang membuat orang-orang bijak jatuh heran dalam bayangan bayi itu, karena mereka terheran-heran dan takjub bahwa mereka berada di hadapan Pencipta mereka yang menjadi manusia.

Imanuel. Dalam hal ini satu nama, namun semua kebutuhan umat manusia dan seluruh rencana keselamatan Allah yang dimasukkan dalam-Nya. Betapa diberkatinya kita bahwa Yesus Kristus menjadi Imanuel, Allah beserta kita.

***

Kampanye

Apa yang menggerakkan massa berkampanye, ideologi partai kah? Sekedar ikutan-ikutan kah? Mencari hiburan? Atau jangan-jangan digerakkan sebungkus nasi? Kalau yang terakhir menjadi alasan utamanya, Anda bisa membayangkan betapa parahnya demokrasi di negeri kita ini.

Kampanye bukan sekedar urusan perut. Berkampanye berarti kita mendengarkan visi, misi dan program yang ditawarkan oleh pasangan calon atau satu partai. Dari situ kita bisa melek layak dipilih atau tidak.

Kampanye terbuka Pemilu 2014 telah berlangsung. Semoga saja massa berkampanye bukan digerakan nasi bungkus tapi kesadaran demokrasi. Kesadaran itu akan membawa massa berpartisipasi aktif dalam membangun Indonesia lebih baik.

Semoga saja.

***

Tak Kenal Tapi Sayang

Love-at-first-sight
Image: weddingjournalonline.com

Barangkali inilah fenomena yang sering kita saksikan belakangan ini. Hanya dengan pandangan pertama atau bahkan hanya melihat potret wajah lawan jenis [bahkan parahnya sesama jenis] yang terpampang rupawan di media sosial orang bisa langsung mabuk kepayang, ngefans, bahkan mengkultuskan orang tersebut. Ada orang yang tidak saling mengenal namum sesumbar berkata sayang dan cinta bahkan ada diantaranya yang sudah menjalin cinta. Rupanya mereka kepincut pada pandangan pertama.

Tak ada yang melarang mencintai dan dicintai. Entah cinta karena bersua langsung atau hanya bertatap di dunia maya kalau sudah cinta apa boleh dikata. Lihat saja Bunga, wajahnya merona seketika takkala meresapi kalimat mesra di layar komputernya. Setahun sudah dia berpacaran via internet dengan pria Bule dan serius menerima lamarannya meski mereka belum sekalipun berjumpa.

Menurut psikolog fenomena ini wajar dan sangat wajar. Namun jangan lupa tengok mereka-mereka yang kisah asmaranya harus berakhir dengan derita.

Kalau mau jujur love at the first sight ataupun love chat yang dilakoni banyak orang saat ini merupakan hubungan atau cinta yang dangkal. Meskipun saya tidak pukul rata, karena toh ada juga mereka yang berjodoh. Akan tetapi mari lihat lebih dalam; manusia masa kini sulit memiliki relasi yang mendalam.

Hubungan di atara mereka hanya permukaan saja, hanya berdasarkan kebutuhan tapi tidak tahan uji. Sulit membuka diri karena takut makin dikenal makin dijauhi dan dibenci. Relasi masa kini adalah relasi yang seringkali palsu, yang kita kenal bukan orangnya namun topengnya. Oleh karena itu, saya pikir kita mestinya kenal dan tahu orang itu terlebih dahulu barulah memutuskan untuk membina sebuah hubungan yang lebih serius. Jangan tak kenal tapi sesumbar berkata sayang dan cinta namun pada akhirnya menyesal dikemudian hari. 😉

***

Jangan Kebablasan

Perkembangan ilmu pengetahuan akhir-akhir ini memang sangat menakjubkan. Kemajuan dunia telah mengubah cara berpikir dan bertindak manusia modern. Kemajuan-kemajuan ini tentu saja memberi banyak kemudahan pada manusia.

Namun di sisi lain, kemajuan dan perkembangan selalu saja dibarengi oleh dampak negatif bagi manusia itu sendiri jika tidak bijak menanggapinya. Misalnya, gaya hidup “ikut-ikutan”. Karena alasan tidak ingin dicap ketinggalan zaman, mereka memilih mengikuti arus zaman. Mereka akan menghabiskan waktu, uang dan tenaga agar terus tampil sesuai dengan perkembangan yang tengah terjadi. Percakapan di antara mereka pun didominasi masalah fashion, gadget terbaru, serta aneka bentuk matrealisme lainnya.

Bahayanya bagi kaum remaja, mereka akan lebih suka memberikan apresiasi dan atensi pada penampilan dan segala peranti teranyar mereka ketimbang kegiatan menuntut ilmu. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu luang dengan aktivitas yang sebenarnya menghambat daya kreativitas mereka.

Tidak heran, kini semakin jarang terdengar percakapan akademis di lingkungan pelajar. Tentu saja, kondisi ini sangat mengkuatirkan. Karena itu, kita perlu berhikmat. Boleh saja mengikuti perkembangan dunia namun tidak semua perlu diadopsi menjadi bagian dari hidup kita.

***

Di Tepian Keruntuhan Diri

Image: http://xetobyte.deviantart.com
Image:xotobyte.deviantart.com

Jika menengok ke belakang, aktivitas kuliah adalah penyumbang nomor satu kesibukan saya.  Selama duduk di bangku kuliah saya kerap sibuk bahkan mengalami penumpukan kesibukan. Kesibukan lepas kesibukan menjadi santapan harian selama kuliah. Kesibukan wajar, apalagi dunia saat ini menuntun kita kepada kesibukan yang satu ke kesibukan yang satunya lagi. Saya kira wajar saya dibuat sibuk. Toh untuk masa depan saya juga. Tapi tunggu dulu!

Soal kesibukan saya melihat ada dua jenis kesibukan yang ada di hadapan kita. Ada kesibukan yang mencerminkan adanya kegiatan, pola prioritas, dan adanya tujuan. Itu adalah kesibukan yang baik dan memuaskan karena menuntun orang untuk bertumbuh dalam kompetensinya.

Namun ada juga kesibukan yang bisa merusak yang mencerminkan kehidupan yang kacau. Kesibukan lepas kesibukan yang dilakukan tanpa perbedaan entah itu baik atau tidak. Semata karena hal itu kewajiban yang harus dilakukan.

Sayangnya, saya adalah salah satu orang yang terseret oleh jenis kesibukan kedua. Di luar kendali, cemas yang berujung stres.

Hari lepas hari saya terbangun sebelum sang mentari terbit, dan malam lepas malam saya menjatuhkan diri ke tempat tidur lama seusai aktivitas ‘belajar’ di perpustakaan serta doa hening malam.

Senin hingga jumat jam-jam hari saya diisi dengan serangkaian aktivitas rutin. Karena saat ini saya sedang studi di seminari maka setiap harinya saya harus bangun pukul setengah enam pagi. Tepat pukul enam saya harus renungan dan doa pribadi.  Jam enam seperempat saya harus sarapan pagi, dilanjut jam setengah delapan aktivitas perkuliahan pun dimulai hingga siang bahkan ada yang hingga sore hari. Jam sembilan duapuluh saya harus mengikuti ibadah chapel. Saat matahari mulai terbenam, saya bergegas menikmati santapan malam yang setiap harinya saya lakoni tepat pukul 18.10. Belum lagi kegiatan menimba ilmu di perpustakaan yang saya harus lalui tiga jam setiap harinya.

Tunggu dulu, kesibukan saya belum usai. Makalah, laporan baca, dan juga tugas lainnya menanti di tengah maupun akhir semester. Saya juga harus berjibaku melawan waktu mempersipakan diri menyambut ujian demi ujian. Mata melotot dan hidung tersumbat kerap saya alami karenanya. Belum lagi setiap hari sabtu dan minggu saya harus menunaikan praktek lapangan (yang biasa kami mahasiswa seminari sebut pelayanan weekend).

Kira-kira itulah aktivitas kesibukan yang menamani keseharian saya. Membaca uraiannya saja barangkali Anda sudah lelah apalagi yang menjalaninya. Maafkan saya, karena saya harus menuliskannya secara rinci untuk menggambarkan sesuatu yang kita sebut dengan kesibukan tadi.

Saya harus akui semua kegiatan kesibukan tadi adakalanya membuat suasana hati menjadi galau, pemikiran goncang, mengeringkan rohani, emosi, akal dan jasmani saya. Ada masanya saya seolah ingin menjauh dari kesibukan itu. Adakalanya saya merasa sangat lelah dan sangat letih karena terlibat adu jotos dengan rutinitas itu. Jasmani juga kadang meringkuk kesakitan oleh kuk yang terpasang di pikiran saya. Belum lagi oase rohani kerapkali terasa kering kelontang. Di sinilah saya mendapati musim-musim ketika angin sepertinya berhenti dari pelayaran kehidupan kerohanian saya.

Begitulah saya menjalaninya – sesuatu yang tidak menyukakan Tuhan dan juga semacam adonan yang kelak akan saya sesali dikemudian hari.

Saya kira ini adalah skenario kehidupan yang tidak boleh saya toleransi. Saya harus menata kembali kehidupan di wilayah diri. Bertekad menjalani kesibukan yang dibangun di atas kesadaran anugerah yang harus dijalani dengan disiplin dan ketetapan hati.

Di sinilah saya harus mengenal dan memahami diri. Mengenal dan mengidentifikasikan kelemahan dan kekuatan pribadi itu sendiri. Mengenal kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder dalam diri. Saya pikir dengan memahami kehidupan di wilayah diri, sedikit banyak akan memungkinkan kita menjalani kesibukan bukan sekadar kesibukan. Memungkinkan kita melihat lebih jauh dan dalam lagi nilai-nilai hidup di wilayah diri. Memungkinkan kita memiliki kepekaan lebih untuk melihat sisi-sisi yang lain dari hidup kita yang kompleks ini.

Ada sisi-sisi kehidupan di wilayah diri yang perlu kita kenali lebih dalam bahkan perlu kita perhatikan secara serius. Kita sudah diberi karunia alamiah berupa talenta, karisma pribadi, motivasi, kecerdasan emosi, intelek dan spiritual yang memungkinkan kita menjalani hidup dengan utuh dan sempurna. Perhatikanlah semua itu. Tidak boleh ada yang diperlakukan superior. Semua bidang kehidupan itu harus berjalan beriringan dan seimbang.

Dunia pribadi adalah salah satu medan perang di abad ini. Nilai-nilai budaya modern membuat kita cenderung untuk percaya bahwa pribadi yang super sibuk dan aktif secara publik adalah orang paling sukses dan paling spiritual.

Banyak orang mengorbankan dunia pribadi dan mengutamakan dunia publik. Ia menceburkan diri dari kesibukan yang satu ke kesibukan yang lain, ia terlibat dalam banyak program dan kegiatan publik bahkan ia selalu ingin tampil memukau di muka publik. Tak ada waktu mengurus diri. Tak ada kesempatan untuk mengenal dan memahami bidang-bidang kehidupan di wilayah diri. Sesungguhnya ini akan menghantar seseorang ke tepian keruntuhan di wilayah diri.