Penyampai Pesan

Terjadi di Sarinah tersiar di belahan dunia lain. Begitu cepat.

Ya sangat cepat. Itulah kekuatan media massa dalam menyampaikan pesan. Alat komunikasi massa ini begitu luar biasa dalam mempengaruhi manusia.

Kita tercengang, cemas, panik dan ketakutan, mereka cengar-cengir sembari berpesta. Kita meratap mereka beria-ria dalam kesenangan. Kita marah dan mengutuk, mereka bangga dan sujud syukur. Psikologis kita terguncang.

Prinsip teroris membunuh beberapa orang, membuat panik jutaan orang. Dan mereka berhasil. Teror tadi dalam sekejap menghasilkan kepanikan, kecemasan dan ketakutan. Sekali lagi psikologis kita terguncang.

Media massa ditambah media sosial berhasil menyampaikan pesan mereka: menebar teror.

Sederhana saja, membuat hashtag dan membagikan gambar para korban dan informasi yang diolah media massa sedemikian rupa, kita telah turut menjadi penyampai pesan berantai mereka tadi. Dalam sekejap mendunia dan menjadi pusat perhatian manusia di seluruh dunia.

Mereka sangat menyukainya. Eksistensi mereka diakui.

Saya kira, mereka telah berucap terima kasih kepada warga Indonesia yang dengan sukarela menjadi penyampai pesan mereka.

Ngomong-ngomong, sudah berapa gambar para korban dan berita yang kita bagikan di media sosial kita?

Apa gunanya mengumbar berbagai hastag di media sosial kita? Alasan kekikinian kah?

Ngomong-ngomong, simpatisan mereka sangat aktif di media sosial loh, dan hashtag yang kita buat, berita yang kita bagikan akan sangat membantu mereka menyebarluaskan pesan utama mereka tadi. Baca: Twitter-terror:How ISIS is using hashtags for propaganda

Tidakkah kita berempati sedikitpun? Jangan hanya karena alasan ‘kekinian’ dan “berempati’ dengan mudah kita memampang foto-foto para korban yang terurai dan berlinang darah.

Advertisements

12 thoughts on “Penyampai Pesan

  1. Berbagai perspektif tentunya harus kita kedepankan dalam hal ini. Bahwa orang itu memposting hash tag dengan alasan “empati” sebagai sebuah bentuk doa. Dan rasa-rasanya semoga tidak ada yang karena alasan kekinian yang tentunya sangat dangkal. Tapi pun kita tidak bisa menebak motivasi seseorang.

      1. Kalo posting foto2 vulgar korban di social media adalah jelas salah. Bukan cuma netizen, tapi media mainstream ada beberapa yang sudah kena tegur KPI karena miss pasang gambar vulgar tersebut. Ini jadi pembelajaran buat kita…

  2. Yang paling rentan adalah kaum muda yang menggunakan sosmed. Biasanya, tanpa melihat apakah sebuah pemberitaan (BOM sarinah misalnya) otentik atau hanya hoax, mereka langsung share.

    Padahal, dengan disharenya berita-berita tersebut, secara tidak langsung kita turut mebesarkan nama mereka (Kelompok pelaku)

    Itu menurut saya sih Mas?

    Salam kenal…

  3. Kemudahan telekomunikasi sepertinya juga menumbuhkan ‘kebutuhan untuk dianggap tahu berita’ ya, jadilah kita senang hati ikut menyebarkan, meski tak paham benar maknanya apa. Semoga kita lebih bijak memaknai dan menyikapi informasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s