Serba salah

Saya pikir mereka yang punya tabiat pengkritik, penghasut dan pencaci maki tapi nihil aksi adalah mereka-mereka yang berjiwa kerdil bahkan mungkin sakit.

Lihat saja apa yang sajikan media belakangan ini. Tidak jauh dari soal asap. Lihatlah kelakar mereka, omongan busuk mereka, tutur kata kekanak-kanakan mereka untuk bapak Presiden kita. Hari ini bapak Presiden berkunjung ke Jambi, melihat kondisi terakhir serta mengunjungi korban kabut asap yang ada di kota Jambi.

Alih-alih berkomentar baik, kunjungan lepas kunjungan yang selama ini bapak Presiden lakukan hanya dianggap sebagai pencitraan belaka oleh mereka-mereka yang jago berkomentar miring tersebut. Saya habis pikir, sedemikian sakitkah jiwa mereka sehingga tidak mampu berpikir jernih setidaknya dalam kondisi genting seperti sekarang ini. Cobalah berpikir bersih. Jangan banyak bicara, kalau anda tidak yakin bapak Presiden melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, mari ikutlah dengan beliau, saya kira bapak Presiden akan dengan senang hati kalau ada pejabat yang ingin.

Ini bencana dan bukan soal pencitraan lagi, yang pencitraan itu ya anda-anda yang suka mencari sensasi dengan komentar miring ala abg. Menampilkan diri bak pahlawan di media massa supaya dilihat dan disaksikan orang sebagai pembela rakyat padahal sok tahu, tong kosong nyaring bunyinya. Sekali lagi ini soal bencana asap. Bapak Presiden berkunjung itu sudah satu langkah. Langkah yang seharusnya didukung bila perlu diberi masukan. Ada tindakan, memang sampai saat ini belum kelihatan perubahan yang luar biasa. Jangan berpikiran instan, bapa Presiden bukan sosok jin lampu yang ada dalam film Aladdin, yang dapat mengabulkan apapun permintaan dengan segera. Tunggu saja prosesnya, memadamkan api saja butuh proses apalagi membereskan ketimpangan hukum di republik ini, anda kira semudah meneguk segelas air putih.

Saya muak melihat ulah segelintir anggota dewan terhormat ini. Tidak cukup kah sibuk menyusun siasat mengebiri KPK? Sudah, tidak usah banyak omong lagi, muak saya mendengarnya. Saya lebih menaruh hormat kepada mereka yang di hutan, dahaga, melepuh berkorban untuk kami. Lihatlah para anggota TNI, BNPB, beserta rakyat yang berjibaku memadamkan api. Mereka adalah rekan bapak Presiden yang berjuang untuk kepentingan banyak pihak. Mereka jarang di sorot media, mereka jarang bahkan tidak pernah ditayangkan di televisi, koran ataupun media online. Dari pada anda-anda yang hanya bisa berkomentar miring, mengkritik sinis, cengar-cengir di depan kamera namun nol aksi.

Jangan kan diam tidak bertindak, sudah melangkah dan bertindak saja masih dicaci maki. Maunya apa sih?

Enek juga! Mental tempe, bisanya mengkritik, menyalahkan, mencaci maki,  sana turun ke lapangan, padamin tuh api. Jangan cuman ngomong doang, kita yang ada di Jambi udah mau mati hirup asap tiap saat. Eh anda-anda yang di sana sibuk merevisi ini itulah Рyang ujung-ujungnya duit doang.

Bagi yang jagoannya kalah bertarung kemaren, please move on dong. Hidup itu terus berjalan, dan berjalannya tidak ke masa lalu tapi masa depan. Masih banyak hal baik yang bisa kita kerjakan bersama daripada ikut-ikutan berkomentar miring, memanas-manasi, mencibir mencontohi para wakil kita yang lagi nyaman duduk di tahtanya tanpa memedulikan kita.

Begitulah apa-apa serba salah. Diam salah, bicara salah. Melangkah salah, tidak melangkah apalagi. Pak Presiden jadi serba salah. Sabar aja pak, ada waktunya mereka akan bungkam. Lakukan saja apa yang harus bapak lakukan.

Advertisements

6 thoughts on “Serba salah

  1. Salam Mas Imanuel Suluh, sebuah artikel yang menandakan kepedulian besar terhadap saudara-saudara kita di belahan provinsi lain yang sedang dirundung musibah darurat asap. Apakah mas Imanuel tinggal di provinsi yang terkena darurat asap? Jika tidak, saya bersyukur mas Imanuel dan keluarga baik-baik saja. Jika iya, segala simpati dan doa saya untuk mas Imanuel dan keluarga agar disegerakan terbebas dari kondisi darurat asap yang menyulitkan ini.

    Opini mas imanuel tentu hampir sama dengan sebagian besar kita yang sudah terlanjur memiliki persepsi tertentu tentang kalangan orang tertentu. Namun ada baiknya kita mencoba untuk memahami latar belakang dan mindset yang mendasari opini seseorang termasuk opini anggota Dewan ataupun orang-orang yang mas Imanuel sebut sebagai “yang jagoannya kalah bertarung kemaren”.

    Saya termasuk didalam orang-orang yang mas Imanuel sebut “yang jagoannya kalah bertarung kemaren” dan relatif sudah tidak mempedulikan apapun hasil pemilu kemarin atau alhamdulillah sudah move on. Tapi pun hendaknya juga kita tetap memperluas sudut pandang kita. Kritik adalah kritik, kita lihat kontennya, kita lihat konteksnya, jangan lihat orangnya. Kalau kita melihat orangnya (anggota dewan) maka pendapat kita sudah pasti subjektif (sekalipun perspektif umum menyatakan anggota dewan kita demikian adanya).

    Emosi Mas Imanuel sangat terbaca sekali dalam tulisan ini. Itu sah-sah saja. Sebagai seorang blogger, kita memiliki tanggung jawab moral untuk mengajak para pembaca kita untuk mendapatkan sesuatu yang positif. Pada intinya dorongan yang ingin Mas Imanuel adalah luar biasa positif. Mengajak orang untuk aksi nyata dan agar kita tidak terjebak dalam arus “sesat” yang saling salah menyalahkan.

    Kurang lebih itu pendapat saya. Bila ada yang kurang berkenan, saya mohon maaf.

    1. Makasih mas, ini unek-unek begitulah kira2, apalagi saya di Jambi yang saban hari menghirup racun. Iya mas terima kasih atas responnya, mengenai curhatan saya ini tentu saja subjektif dan tentu saja saya hanya ditujukan bagi mereka yang enggan move on dan terus saja berkubang dalam kekecewaan yg imbasnya selalu melihat sesuatu dgn kacamata yg buram. Betul sekali saya emosi sekali ketika oknum dewan yg kemaren baru saja berkomentar miring lagi.

    2. Soal jagoannya yg kalah kemaren, sy sangat mengapresiasi bagi mereka yg berpikiran luas dan luwes seperti mas dll. Syg sekali masih banyak mereka yg blm bisa move on, buktinya lihat saja komentar miring di media online yg justru memperkeruh suasana dan tentu saja membuat kami yg korban juga sedih. Kalau sy memilih untuk tdk memedulikan komentar2 itu, sangat bisa tapi saya lebih memilih mengutarakan unek unek saya, yg bagi saya mereka berkomentar itu tdk merasakan apa yg kami rasakan.

    3. Saya setuju dgn mas, perihal kritik. Kritik adalah kritik dan baik jika pada tempatnya. Dan akan membangun pada saatnya. Akan tetapi kritik tdk pada tempatnya dan cenderung kritik dgn tendensi yg tdk baik tentu saja sangat destruktif. Nah ini yg saya sangat sygkan bagi oknum2 tsb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s