Ujian Mid

image

Ujian mid di SMA Bina Kasih sudah berlangsung hampir seminggu. Hari ini saya berkesempatan mengawas di grade sepuluh A.

Lucu juga menyaksikan raut muka para murid tiap pagi menjelang ujian dilaksanakan. Ada yang tegang, berbeban, ada yang sedang kumat-kamit dengan hafalan materi ujian, ada yang pasrah, ada juga yang masih mengantuk. Hadoh!

Menengok ke belakang, sewaktu SMA dulu saya juga merasakan sama persis apa yang mereka rasakan saat ini. Merasakan apa yang namanya menghafal beberapa pelajaran sekaligus, tegang bahkan adakalanya stres. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa saya lakukan jika ingin naik kelas. Sewaktu kuliah juga sama prosesnya saja yang agak berbeda.

Beginilah polemik pendidikan di Indonesia. Selain kurikulum rumit dan sulit, sistem yang dipakai selama ini belum sepenuhnya menghasilkan generasi unggul yang mampu bersaing secara global. Sayang sekali ya.

Selama ini memang kita akui, menghafal adalah metode belajar yang menjadi andalan dalam proses pembelajaran dari waktu ke waktu. Mendengar, mencatat dan menghafal.  Sayangnya, model pendidikan ini belum berhasil mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional. Lagipula metode ini kerapkali menjadi momok menakutkan bagi siswa kebanyakan, dan tentu saja akan sulit mencapai  tingkatan pada learning  to  know,  keceriaan dalam penerimaan tujuan pada learning  to  do dan keceriaan bersama untuk mencapai tujuan umum pada learning to  live together, dalam pilar pembelajaran.

Kapan ya, sistem pendidikan ini berakhir dan berganti menjadi sistem pendidikan yang merangsang, menantang, dan menyenangkan bagi anak didik? Sistem yang mengubah si penghafal menjadi si pembelajar yang selalu ingin mencari tahu, melakukan apa yang dia tahu, dan berbuat sesuatu bagi yang lain dari apa yang ia tahu.

Entahlah, hanya menteri yang tahu. Jangan malu mengadopsi sistem pendidikan Finlandia yang terkenal itu. Bila itu baik kenapa harus malu.

Tsunami Informasi

Disadari atau tidak, mau atau tidak mau, kita hidup dan tenggelam dalam pusaran tsunami informasi. Saat ini arus informasi di media massa maupun media sosial tidak terbendung. Pakar komunikasi, Tony Schwartz menyebut media massa adalah tuhan yang kedua, artinya hadir di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.

Hari ini, jumlah informasi yang kita dapat sangat banyak dan beragam membuat kesadaran global kita semakin kuat serta memungkinkan munculnya wawasan yang lebih luas pula. Namun di sisi yang lain, tsunami informasi yang tersaji di media massa dengan format yang semakin beragam membuat otak manusia dipaksa bekerja secara multitasking. Di mana pada suatu saat yang sama otak dipaksa untuk memikirkan beberapa hal sekaligus.

Mau tidak mau kita dibiasakan melihat segala sesuatu secara tergesa-gesa, tidak utuh dan serba cepat. Akibatnya, kemampuan untuk menyimak dalam waktu yang panjang semakin berkurang.  Komunikasi yang rumit dianggap tidak menarik, kalau tidak menarik tidak diperhatikan. Tanpa kita sadari nilai hidup kita pun bergeser, tidak lagi berdasarkan apa yang benar tetapi seberapa bermanfaat bagi saya. Mengutamakan kesan ketimbang pesan.

Memang media massa memperkaya informasi dan wawasan kita tetapi tanpa kita sadari mengikis kekritisan kita. Bila kita cenderung hidup menekankan kesan ketimbang pesan, maka kita tidak dibiasakan berpikir kritis. Contoh ketidakkritisan adalah konsumerisme. Membeli suatu bukan karena butuh tapi karena sudah banyak orang yang menggunakannya.

Selain itu, media massa dimanfaatkan sebagian orang sebagai alat untuk membentuk opini. Sering kita jumpai berita yang dimuat tidak berimbang, wadah menghujat, mengkritik tanpa solusi, mengumpat, fitnah, menjelek-jelekan sesamanya, memuat berbagai agenda licik demi kepentingan sekolompok orang, perorangan atau golongan. Sangat sulit menemukan berita positif di tengah arus informasi seperti saat ini.

image
Sumber gambar: http://www.oneheartceremonies.com

Karena itu, bijaklah memilih berita, jangan asal meneruskan berita bohong yang sumber dan kredibilitasnya tidak jelas. Cerdaslah dalam membaca informasi. Tangkaplah pesan ketimbang kesan, kritisi bila perlu.

Buku: Dasar Pendidikan Kristen

pic6D3BBB65B8C3720297DB018CA67BE80B

Tidak dapat disangkal, pendidikan merupakan hal yang krusial dalam rangka pembentukan sistem pemikiran dan kehidupan seseorang. Sayangnya banyak orang, termasuk orang Kristen yang tidak peduli terhadap sistem pendidikan yang digunakan. Kebanyakan orang biasanya lebih peduli kepada hal-hal permukaan saja, seperti fasilitas, kurikulum dan guru tanpa pernah memikirkan fondasi presuposisi yang dipakai oleh sistem pendidikan tersebut.

Terdapat perbedaan yang esensial antara pendidikan Kristen yang berpusat pada Allah dengan pendidikan sekuler yang antiteistik. Sistem pendidikan Kristen akan selalu mempreposisikan Allah sebagai landasan pengetahuan sebaliknya sistem pendidikan sekuler akan mempreposisikan manusia sebagai ukuran atas segala sesuatu.

Pendidikan Kristen bukan hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga iman, kebenaran, moralitas dan integritas, selain itu pendidikan Kristen juga berpusat pada kebenaran Firman Allah, sedangkan di dalam pendidikan sekuler biasanya  yang menjadi tolok ukur dari segala sesuatu adalah manusia itu sendiri. Sistem pendidikan Kristen membuat manusia untuk mengaitkan segala sesuatu dengan Allah, sebaliknya sistem pendidikan sekular menghalangi manusia untuk melihat Tuhan dalam segala sesuatu.

Kedua pakar pendidikan sekaligus teolog, Cornelius Van Til dan Louis Berkhof, dalam buku ini dengan gamblang mengemukakan antitesis pendidikan Kristen terhadap sistem pendidikan sekuler serta dasar doktrinal pendidikan Kristen, di sinilah letak keunikan karakter pendidikan Kristen itu.

Kita harus senantiasa ingat akan hal ini ketika kita mengambil kebijakan-kebijakan pendidikan kita. Cita-cita pendidikan kita dan cita-cita pendidikan lawan kita bertolak belakang sama sekali.

Now, I am Teacher

Kita semua berdiri di hari ini, hari yang dahulu kita lihat sebagai masa depan. Situasi di mana kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita. Namun lihat, hari ini kaki kita membuat jejak-jejak baru yang akan dicatat oleh sejarah. Tuhan penulis sejarah dan kitalah yang melakoni sejarah itu. Saya percaya tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Setiap hal yang terjadi, setiap orang yang hadir, setiap langkah yang berjejak di manapun itu, tidak terjadi secara kebetulan. Di sinilah saya melihat Allah berdaulat atas segalanya. Allah terlibat secara langsung dengan hidup manusia.

Hari ini selembar sejarah tercatat. Now, I am Religion teacher at Sekolah Kristen Bina Kasih Jambi! Bagi saya ini adalah kesempatan istimewa, di mana saya dapat mengimplementasikan visi yang Tuhan beri kepada saya beberapa tahun yang lalu. Saya percaya, pendidikan adalah salah satu instrumen yang Allah pakai untuk memulihkan dan mendamaikan relasi yang rusak akibat dosa. Di sinilah saya meyakini bahwa guru Kristen adalah agen rekonsiliasi untuk menyembuhkan hubungan yang rusak antara siswa dengan Tuhan, siswa dengan diri mereka sendiri, siswa dengan orang lain, serta siswa dengan alam ini. Semoga dengan filosofi demikian saya bisa bertumbuh dan memberi yang terbaik bagi kemulian Tuhan khususnya dalam dunia pendidikan Kristen.

Perpus Pribadi

Kadang saya iri melihat perpustakaan pribadi milik dosen saya. Tiap sisi raknya berderet teratur ratusan bahkan ribuan buku. Pemandangan yang jarang saya temui sebelumnya.

contemporary_home_library_011

Saya rindu, kelak bisa memiliki perpustakaan pribadi. Perpustakaan yang kelak akan menjadi tempat saya menghabiskan masa tua saya dengan bacaan-bacaan yang membuka wawasan, menyentuh hati bahkan yang bisa mengubah tutur-laku saya. Sebuah tempat di mana saya bisa bercengkerama riang dengan deretan buku luar dan dalam negeri di tiap sisinya. Entah saat suntuk melanda atau apapun itu, buku-buku itu jadi teman terbaik. Teman yang bisa diajak bertukar pikiran hingga berdialog kritis. Oh, sungguh amat menyenangkan, bukan?