Memeriksa Ujian

image

Beberapa hari ini saya cukup sibuk memeriksa hasil ujian siswa saya. Bahkan ke beberapa bulan ke depan tugas yang sama akan menanti. Mohon dukungannya.

Memeriksa ujian siswa punya kesulitan sendiri. Apalagi kalau sudah bicara bagaimana para siswa menuliskan jawabannya mereka di sehelai kertas. Hadoh, ada aneka tulisan unik, langka dan sulit terbaca membuat saya cukup kewalahan.

Soal hasil, tentu ada yang baik sekali dan ada yang kurang baik. Saya memberi penghargaan pada mereka yang memperoleh nilai yang baik, dan saya memberi dorongan kepada mereka yang mendapat nilai yang kurang baik. Tetap semangat dan terus giat belajar selagi kesempatan masih ada.

Memang nilai bukan segalanya tapi nilai menjadi indikator sejauh mana kalian memahami tiap materi yang sudah kita pelajari bersama. Saya rindu kalian menikmati proses itu. Proses di mana kalian belajar menjadi pembelajar sejati yang terus menerus dihantui rasa ingin tahu. Bukan hanya itu saja, kalian berani melangkah menghidupi apa yang kalian ketahui. Percuma kalau kita banyak tahu tapi kita tidak mampu melakukan apa yang kita tahu tadi. Mari belajar bersama.

Advertisements

Berita tiap hari

image

Di zaman tsunami informasi seperti sekarang ini, hampir setiap saat kita disugguhi informasi dan berita apapun, kapanpun dan di manapun. Apalagi kita yang gemar berselancar di dunia maya dan memiliki berbagai media sosial yang bukan saja menjadi wadah ekspresi sosial maya kita tapi sudah jadi tempat kita memperoleh berbagai berita terbaru dari penjuru Indonesia hingga apa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Menakjubkan.

Menjamurnya situs berita online seperti sekarang kadang membuat kita kewalahan. Tiap hari kita disajikan berita yang sama, yang hanya dipoles sedikit saja lalu disugguhkan lagi. Berita yang itu-itu saja. Bahkan tak jarang kita disuapi berita yang ‘kurang gizi’, tumpul dan karatan. Tidak sedikit juga kita jumpai situs-situs berita tertentu menjadi media provokasi dengan isu-isu basi yang mereka angkat. Lain lagi yang berat sebelah dan kadang tendensius.

Entah sekadar mencari rating atau jumlah klik, mereka-mereka ini akan terus memuat ulang berita yang sama tadi.

Namun tak jarang, di antara kita kemudian meneruskan berita tersebut dengan membagikan berita tersebut dihalaman media sosial kita. Entah itu sekadar ingin membagikan supaya diketahui orang lain atau kadang menjadi alat pembenaran kita. Kita merasa tulisan ini mewakili apa yang selama ini kita pikir, dan apa yang saya yakini selama ini. Dengan dalih ini kita membagikan tanpa mempertanyakan kebenaran berita tersebut.

Tidak sedikit juga orang yang meneruskan berita yang asal jadi dan belum tentu kebenarannya itu sebagai wadah untuk menunjukan ketidaksukaanya terhadap tokoh tertentu. Secara membabi buta dia akan membagikan tulisan-tulisan yang mendukung opininya dan tak lupa sedikit kritik, komentar pedas serta caciannya terhadap tokoh tersebut.

Ini sah-sah saja, semua orang berhak melakukannya akan tetapi kalau hanya wadah pembenaran opini pribadi dan atau kelompok semestinya kebenaran di atas segalanya. Kebenaran atau fakta dibalik berita tersebut jauh lebih penting. Karena itu kita harus selektif dalam memilih berita dan bijak dalam meneruskan berita tersebut.

Ujian Mid

image

Ujian mid di SMA Bina Kasih sudah berlangsung hampir seminggu. Hari ini saya berkesempatan mengawas di grade sepuluh A.

Lucu juga menyaksikan raut muka para murid tiap pagi menjelang ujian dilaksanakan. Ada yang tegang, berbeban, ada yang sedang kumat-kamit dengan hafalan materi ujian, ada yang pasrah, ada juga yang masih mengantuk. Hadoh!

Menengok ke belakang, sewaktu SMA dulu saya juga merasakan sama persis apa yang mereka rasakan saat ini. Merasakan apa yang namanya menghafal beberapa pelajaran sekaligus, tegang bahkan adakalanya stres. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang bisa saya lakukan jika ingin naik kelas. Sewaktu kuliah juga sama prosesnya saja yang agak berbeda.

Beginilah polemik pendidikan di Indonesia. Selain kurikulum rumit dan sulit, sistem yang dipakai selama ini belum sepenuhnya menghasilkan generasi unggul yang mampu bersaing secara global. Sayang sekali ya.

Selama ini memang kita akui, menghafal adalah metode belajar yang menjadi andalan dalam proses pembelajaran dari waktu ke waktu. Mendengar, mencatat dan menghafal.  Sayangnya, model pendidikan ini belum berhasil mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional. Lagipula metode ini kerapkali menjadi momok menakutkan bagi siswa kebanyakan, dan tentu saja akan sulit mencapai  tingkatan pada learning  to  know,  keceriaan dalam penerimaan tujuan pada learning  to  do dan keceriaan bersama untuk mencapai tujuan umum pada learning to  live together, dalam pilar pembelajaran.

Kapan ya, sistem pendidikan ini berakhir dan berganti menjadi sistem pendidikan yang merangsang, menantang, dan menyenangkan bagi anak didik? Sistem yang mengubah si penghafal menjadi si pembelajar yang selalu ingin mencari tahu, melakukan apa yang dia tahu, dan berbuat sesuatu bagi yang lain dari apa yang ia tahu.

Entahlah, hanya menteri yang tahu. Jangan malu mengadopsi sistem pendidikan Finlandia yang terkenal itu. Bila itu baik kenapa harus malu.

Serba salah

Saya pikir mereka yang punya tabiat pengkritik, penghasut dan pencaci maki tapi nihil aksi adalah mereka-mereka yang berjiwa kerdil bahkan mungkin sakit.

Lihat saja apa yang sajikan media belakangan ini. Tidak jauh dari soal asap. Lihatlah kelakar mereka, omongan busuk mereka, tutur kata kekanak-kanakan mereka untuk bapak Presiden kita. Hari ini bapak Presiden berkunjung ke Jambi, melihat kondisi terakhir serta mengunjungi korban kabut asap yang ada di kota Jambi.

Alih-alih berkomentar baik, kunjungan lepas kunjungan yang selama ini bapak Presiden lakukan hanya dianggap sebagai pencitraan belaka oleh mereka-mereka yang jago berkomentar miring tersebut. Saya habis pikir, sedemikian sakitkah jiwa mereka sehingga tidak mampu berpikir jernih setidaknya dalam kondisi genting seperti sekarang ini. Cobalah berpikir bersih. Jangan banyak bicara, kalau anda tidak yakin bapak Presiden melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, mari ikutlah dengan beliau, saya kira bapak Presiden akan dengan senang hati kalau ada pejabat yang ingin.

Ini bencana dan bukan soal pencitraan lagi, yang pencitraan itu ya anda-anda yang suka mencari sensasi dengan komentar miring ala abg. Menampilkan diri bak pahlawan di media massa supaya dilihat dan disaksikan orang sebagai pembela rakyat padahal sok tahu, tong kosong nyaring bunyinya. Sekali lagi ini soal bencana asap. Bapak Presiden berkunjung itu sudah satu langkah. Langkah yang seharusnya didukung bila perlu diberi masukan. Ada tindakan, memang sampai saat ini belum kelihatan perubahan yang luar biasa. Jangan berpikiran instan, bapa Presiden bukan sosok jin lampu yang ada dalam film Aladdin, yang dapat mengabulkan apapun permintaan dengan segera. Tunggu saja prosesnya, memadamkan api saja butuh proses apalagi membereskan ketimpangan hukum di republik ini, anda kira semudah meneguk segelas air putih.

Saya muak melihat ulah segelintir anggota dewan terhormat ini. Tidak cukup kah sibuk menyusun siasat mengebiri KPK? Sudah, tidak usah banyak omong lagi, muak saya mendengarnya. Saya lebih menaruh hormat kepada mereka yang di hutan, dahaga, melepuh berkorban untuk kami. Lihatlah para anggota TNI, BNPB, beserta rakyat yang berjibaku memadamkan api. Mereka adalah rekan bapak Presiden yang berjuang untuk kepentingan banyak pihak. Mereka jarang di sorot media, mereka jarang bahkan tidak pernah ditayangkan di televisi, koran ataupun media online. Dari pada anda-anda yang hanya bisa berkomentar miring, mengkritik sinis, cengar-cengir di depan kamera namun nol aksi.

Jangan kan diam tidak bertindak, sudah melangkah dan bertindak saja masih dicaci maki. Maunya apa sih?

Enek juga! Mental tempe, bisanya mengkritik, menyalahkan, mencaci maki,  sana turun ke lapangan, padamin tuh api. Jangan cuman ngomong doang, kita yang ada di Jambi udah mau mati hirup asap tiap saat. Eh anda-anda yang di sana sibuk merevisi ini itulah – yang ujung-ujungnya duit doang.

Bagi yang jagoannya kalah bertarung kemaren, please move on dong. Hidup itu terus berjalan, dan berjalannya tidak ke masa lalu tapi masa depan. Masih banyak hal baik yang bisa kita kerjakan bersama daripada ikut-ikutan berkomentar miring, memanas-manasi, mencibir mencontohi para wakil kita yang lagi nyaman duduk di tahtanya tanpa memedulikan kita.

Begitulah apa-apa serba salah. Diam salah, bicara salah. Melangkah salah, tidak melangkah apalagi. Pak Presiden jadi serba salah. Sabar aja pak, ada waktunya mereka akan bungkam. Lakukan saja apa yang harus bapak lakukan.

Kabut itu

Menghalangi pandangan kita. Ketika pandangan kita terhalang, kita hanya bisa memandang dari sudut pandang yang kabur, sempit, tidak utuh bahkan cenderung buruk. Apa yang indah terlihat kurang indah. Apa yang baik terlihat kurang baik, apa yang menarik terlihat kurang menarik. Bahkan lebih parahnya kita hanya bisa melihat pemandangan yang buruk di depan kita. Pokoknya tidak terlihat sebagaimana mestinya.

Kadang kita juga memandang sesama kita dengan cara pandang tidak sebagaimana mestinya. Adakalanya kita memandang orang tertentu dari sudut pandang yang sempit, kita hanya melihat kekurangan demi kekurangannya, kita hanya menatapi kegagalannya secara sinis. Dan lebih parahnya, lebih mudah bagi kita melihat sejuta hal buruk ketimbang satu hal baik dalam diri orang tersebut.

Sekali lagi, kabut itu menghalangi pandangan kita. Begitu pulalah paparan dosa. Dosa membuat mata manusia kabur dalam melihat segala sesuatu. Ketika pandangan manusia ditutupi kabut dosa, manusia memiliki kecenderungan melihat sesamanya dengan cara yang  kabur, tidak utuh, buruk dan cenderung negatif.

Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan memakai ungkapan  “menurut gambar dan rupa Allah.” Gambaran yang jelas membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Meskipun gambar tersebut telah tercemar oleh dosa, Allah tetap memandang manusia sebagai ciptaan-Nya yang berharga.

Ini juga yang Allah ingin kita lakukan: memandang sesama kita sebagai mana Allah memandang mereka. Ketika kita memandang sesama kita sebagaimana Allah memandang mereka maka tidak ada kesempatan bagi kita untuk memandang mereka secara keliru, tidak utuh dan buruk.

Belajarlah memandang sesama sebagaimana Allah memandang kita.

Masker

Bencana kabut asap yang melanda beberapa kota di Sumatera khususnya kota Jambi membuat tingkat kesehatan dan produktivitas masyarakat menurun. Entah sampai kapan bencana ini berakhir. Saya tidak tahu.

Mengantisipasi efek buruk paparan asap dalam tubuh mengharuskan saya memakai masker setiap hari. Bahkan kemarin saya mengenakan masker sembari menikmati tidur siang saya. Ya, setidaknya tindakan ini mengurangi paparan asap masuk ke tubuh saya.

Sewaktu di Kalimantan boleh dikatakan saya tidak pernah mengenakan masker sama sekali. Barulah di Jambi hampir setiap saat saya mengenakannya. Kini benda yang dulu saya anggap kurang penting itu, saat ini sangat saya butuhkan.

Benda kecil, harga tak seberapa, mudah dijumpai, sekali pakai, dibuang dan diinjak orang, kadang sangat dibutuhkan pada kondisi tak terduga seperti saat ini.

Seperti halnya masker tadi keberadaan kita mungkin tidak dianggap berarti dan belum punya dampak apapun, ketahuilah Allah bukan kebetulan menempatkan kita di situasi dan kondisi tertentu. Allah akan memakai kita menjadi apa yang Allah inginkan. Menjadi pribadi yang berdampak. Mungkin saat ini belum nampak, jangan takut berjalan saja dan biarkan Tuhan melakukan pekerjaan-Nya. Dan lihatlah nanti kita akan terkagum-kagum dibuat-Nya.

Kadang Allah memakai kita disaat yang tak terduga sama sekali. Karena itu, biarkan Dia melakukannya untuk kita.

Soal Asap Lagi

Semua tinggal cerita. Menjadi cerita yang amat menyakitkan bagi anak cucu generasi yang akan datang.
Ya, hijaunya hutan Indonesia kini hanya sebuah cerita yang dibalut oleh kenangan penuh rindu.

Miris menyaksikan negara yang dulu dikenal dengan hijau tanahnya dan biru lautnya kini terkenal dengan negara dengan kerusakan hutan tercepat di dunia.

Sebentar lagi Indonesia tak ubahnya negara kepulauan yang gersang, miskin dan tak layak huni. Bagaimana tidak, secara masif manusia-manusia serakah, yang tidak bertanggung jawab, yang hanya memikirkan kepentingan sesaat, demi memenuhi syahwat ketamakan semata. Mereka merambah dan merusak hutan yang merupakan sandaran kebanyakan masyarakat.

Kini, masyarakat beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan pasrah “merenggang nyawa” akibat paparan asap yang rutin datang tiap tahunnya. Asap hasil pembakaran lahan yang dilakukan oleh oknum perorangan, lembaga ataupun perusahaan yang tak bertanggungjawab itu.

Kini rakyat pasrah “mati perlahan” karena pihak yang seharusnya menolong mereka enggan turun tangan. Mereka nyaman duduk berpangku tangan sambil menikmati udara segar dalam kediaman dan istana yang sebenarnya dipercayakan kepada mereka. Mereka lebih sibuk mengurusi internal mereka ketimbang berjuta-juta rakyat yang menjerit penuh derita. Mereka lebih memilih jalan-jalan dalam kemewahan ketimbang beraksi untuk rakyat yang dulu disodori janji manis oleh mereka sendiri. Mereka asyik dengan dunia mereka sendiri. Ironis!

Mereka itu punya jabatan tapi sama sekali tidak memiliki kehormatan. Sayang sekali.

Kabut Asap

Beberapa hari ini saya terpaksa harus menghirup asap. Kabut asap memang menjadi persoalan yang tak kunjung selesai di Pulau Sumatera. Kota Jambi merupakan salah satu wilayah yang menjadi paparan kabut asap yang timbul akibat kebakaran hutan ini.
Tentu situasi ini membuat saya sangat tidak nyaman. Bagaimana tidak, bernafas saja agak sulit belum lagi mata perih dan memerah akibat asap. Tentu saja ini bisa mengganggu kesehatan. Pokoknya sangat tidak nyaman. Pandangan pun terganggu. Ah akibat asap banyak hal yang terlewatkan. Memang kabut itu membuat kita tidak bisa menikmati apa yang ada di pandangan kita. Sayang sekali.

Saya heran, kenapa masalah ini harus terus terjadi tiap tahunnya. Apakah pemerintah tidak turun tangan mengatasi persoalan ini. Kenapa seolah pemerintah tidak berdaya atas permasalahan ini.

Saya pikir kalau pemerintah serius ingin menyelesaikan persoalan ini harusnya bisa. Kesadaran masyarakat untuk tidak mengekploitasi alam juga sangat berpengaruh untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan, dengan demikian masyarakat luas bisa menikmati udara segar.

Kita butuh udara segar untuk menjalani hidup ini.

Berfoto Ria

Kadang ada hari di mana saya tidak tahan untuk tidak berfoto ria. Ya, lihat saja yang ini bukannya sibuk membaca malah asyik berfoto. Tapi kadang memang kesempatan seperti ini setidaknya bisa menjadi penyegar disela rutinitas padat dan kusutnya ibu kota.

IMG_0025

 

 

 

 

 

 

 

Apalagi urusan ini, tentu saja tidak boleh dilewatkan. Mau?

IMG_0121

 

 

 

 

 

 

 

Apalagi traktiran pasti nikmatnya double, hehe. Oh iya, ini sewaktu saya berulang tahun tanggal 5 Agustus kemaren. Bersyukur, kini genap 25 tahun dan juga terima kasih untuk traktirannya.

Sekarang saya sudah di Jambi. Ya,  saya bersyukur kesempatan mengelilingi Indonesia nampaknya makin nyata. Setiba di Jambi tentu saja saya tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto ria seperti biasanya. Ini dia penampakan saya di Jambi.

IMG_0236

 

 

 

 

 

 

 

Menara Gentala Arasy menjulang tepat dibibir sungai Batanghari Jambi. Ya, untuk menuju ke sini mengharuskan saya melewati jembatan Gentala Arasy yang kebetulan baru dibangun itu. Panas terik rasanya cukup terbayar dengan pemandangan di sekitar sungai.

Terlalu Banyak Bicara

Terkadang saya muak melihat segelintir figur publik di negeri ini. Bagaimana tidak, mereka terlalu banyak bicara seolah merekalah yang paling tahu dan yang paling benar.

Lihat saja rentetan peristiwa yang terjadi beberapa waktu ini. Mulai dari kasus Angeline hingga peristiwa jatuhnya pesawat Hercules milik TNI kemarin. Mereka berlomba mengutarakan argumentasi supaya terkesan orang terdidik. Dengan opini mereka hendak menunjukan diri di depan publik bahwa merekalah yang banyak tahu. Muak saya bertambah kala melihat mereka terlalu banyak bicara tanpa memberikan solusi.

Ke mana mereka-mereka yang mengaku wakil rakyat selama ini. Apakah harus kejadian demi kejadian yang menyita perhatian publik ini terjadi baru mereka muncul. Soal kecelakaan Hercules misalnya. Tak lama setelah peristiwa nahas itu terjadi, beberapa oknum dewan terhormat bermunculan di media. Dengan semangat mereka mengeluarkan penyataan: “Stop menerima pesawat hibah!” Lalu apa?

Slogan “lebih baik mencegah daripada mengobati” tentu tidak berlaku di sini.

Saya membayangkan, andai saja 20 milyar yang disuarakan DPR, yang katanya adalah dana aspirasi, diperjuangkan untuk sistem alutsista, mungkin tidak akan terjadi tragedi seperti ini.

Namun sayang, mereka-mereka yang di atas hanya banyak bicara.

Energi Negatif

Energi negatif dan sikap sinisme membuat orang kalah sebelum bertanding, malas mencari solusi. Lebih parah lagi energi negatif membuat orang tidak percaya diri dan hanya meratapi nasib.

Pada kenyataannya masih bahkan cukup banyak mereka yang terus dililit  oleh energi negatif dan budaya sinisme. Mindset mereka seolah diprogram untuk melihat segala sesuatu dari sisi buruknya: yang jujur mengutarakan pendapat dicibir, kritik dan komentar dianggap musuh, yang berhasil dijegal, dan yang seharusnya mudah dipersulit. Belum lagi sikap suka banding-membandingkan tanpa sumbangsih nyata.

Ah sudahlah, energi negatif itu hanya membuat lelah.

Gagal Lagi

Salah satu kegagalan yang saya sesalkan di tahun yang lalu adalah ketidakkonsistenan saya dalam merangkai ide dalam tulisan. Alhasil, blog ini seringkali terabaikan. Di tahun 2014, salah satu komitmen saya adalah menjadikan menulis dan membaca sebagai rutinitas jika boleh bahkan menjadikannya gaya hidup. Saya berharap, melalui kegiatan menulis dan membaca jiwa kreatif dalam diri ini bisa muncul kembali kepermukaan.

Siapa sih yang tidak ingin menjadi pribadi yang kreatif. Tentu saja tidak ada. Setiap kita, saya yakin ingin menjadi sosok pribadi kreatif. Dalam hal ini saya sangat terinspirasi dengan beberapa sosok pribadi di balik Creativepreneur, misalnya Yoris Sebastian. Ya, siapa yang tidak kenal dengan sosok pribadi kreatif yang satu ini. Karena jiwa kreatifnya, kesuksesan dicapainya di usia muda. Luar biasa bukan? So, kenapa tidak berharap serupa? Tentu saja tidak berharap muluk-muluk lah, tetapi setidaknya di tahun ini ada sosok pribadi kreatif yang berpikir “Out of the Box”. Ya harapan kecil inilah yang terus mengusik saya siang dan malam.

Tapi apa daya, hingga bulan April di tahun 2015 ini, saya masih kerap gagal merealisasikannya. Ah sudahlah, menatapi kegagalan itu tidak ada gunanya.

Membuat Orang Senang

Catat! Kita tidak akan bisa membuat semua orang senang dengan kita. Karena itu, jangan memaksakan diri untuk selalu tampil seperti yang diinginkan orang lain hanya untuk membuat mereka senang. Sebaliknya tampillah apa adanya dan buat diri kita diterima apa adanya.

Tampil bukan sebagai diri kita yang asli hanya akan membuat kita lelah. Ya, ketika kita terobsesi menyenangkan semua orang, biasanya kita akan menampilkan sesuatu yang sebenarnya bukan bagian dari diri kita. Kita seolah memiliki dua kepribadian yang berbeda dan saling bertentangan. Saat itulah kita merasa lelah dan frustrasi dengan kepura-puraan yang kita tampilkan untuk menyenangkan orang lain.

Tidak masalah jika tidak semua orang senang terhadap kita. Bukankah ini hal yang wajar-wajar saja. Ada banyak tokoh ternama juga artis yang juga mengalami hal yang sama. Meski mereka terkenal dan disenangi banyak orang, tidak sedikit juga yang tidak menyukai mereka.

Tampilkanlah diri kita yang sesungguhnya. Itu jauh lebih.

***

Interaksi Sosial

Aku takut pada hari dimana teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi yang idiot. Albert Einstein

Hari yang dikhawatirkan oleh Albert Einstein telah tiba. Lihat saja, saat berkumpul dengan orang terkasih baik keluarga maupun teman, saat di pantai atau di manapun, bukannya menikmati kedekatan dalam kebersamaan melainkan sibuk dengan ponsel pintar secara bersamaan. Pemanfaatan teknologi digital dengan tidak terkendali memang berimbas pada kualitas interaksi sosial. Interaksi maya lambat lambat laun akan mengikis empati, perhatian, dan kepekaan sosial seseorang. Saat ini banyak yang lebih memilih aktivitas melalui perangkat bergerak (mobile), internet, dan berbagai media sosial dibanding berkomunikasi secara nyata dengan lingkungan sosial. Bagi mereka aktivitas tadi jauh lebih mudah dan tentu saja menyenangkan dan memberikan kesan tersendiri. Smartphone dengan teknologi terbaru serta berbagai aplikasi seru membuat banyak orang betah menatapi layar handphone-nya sepanjang hari. Benar kata Albert Einstein, teknologi akan bahkan sudah melampaui interaksi manusia.

Karena itu, rehat sejenak dari teknologi digital perlu dilakukan agar hubungan dan interaksi sosial di dunia nyata tetap terjaga dan tidak kehilangan maknanya.

***

Sumber Gambar : juancarlosduran.com