Berita tiap hari

image

Di zaman tsunami informasi seperti sekarang ini, hampir setiap saat kita disugguhi informasi dan berita apapun, kapanpun dan di manapun. Apalagi kita yang gemar berselancar di dunia maya dan memiliki berbagai media sosial yang bukan saja menjadi wadah ekspresi sosial maya kita tapi sudah jadi tempat kita memperoleh berbagai berita terbaru dari penjuru Indonesia hingga apa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Menakjubkan.

Menjamurnya situs berita online seperti sekarang kadang membuat kita kewalahan. Tiap hari kita disajikan berita yang sama, yang hanya dipoles sedikit saja lalu disugguhkan lagi. Berita yang itu-itu saja. Bahkan tak jarang kita disuapi berita yang ‘kurang gizi’, tumpul dan karatan. Tidak sedikit juga kita jumpai situs-situs berita tertentu menjadi media provokasi dengan isu-isu basi yang mereka angkat. Lain lagi yang berat sebelah dan kadang tendensius.

Entah sekadar mencari rating atau jumlah klik, mereka-mereka ini akan terus memuat ulang berita yang sama tadi.

Namun tak jarang, di antara kita kemudian meneruskan berita tersebut dengan membagikan berita tersebut dihalaman media sosial kita. Entah itu sekadar ingin membagikan supaya diketahui orang lain atau kadang menjadi alat pembenaran kita. Kita merasa tulisan ini mewakili apa yang selama ini kita pikir, dan apa yang saya yakini selama ini. Dengan dalih ini kita membagikan tanpa mempertanyakan kebenaran berita tersebut.

Tidak sedikit juga orang yang meneruskan berita yang asal jadi dan belum tentu kebenarannya itu sebagai wadah untuk menunjukan ketidaksukaanya terhadap tokoh tertentu. Secara membabi buta dia akan membagikan tulisan-tulisan yang mendukung opininya dan tak lupa sedikit kritik, komentar pedas serta caciannya terhadap tokoh tersebut.

Ini sah-sah saja, semua orang berhak melakukannya akan tetapi kalau hanya wadah pembenaran opini pribadi dan atau kelompok semestinya kebenaran di atas segalanya. Kebenaran atau fakta dibalik berita tersebut jauh lebih penting. Karena itu kita harus selektif dalam memilih berita dan bijak dalam meneruskan berita tersebut.

Advertisements

Hari Kesehatan Mental Sedunia

Awalnya saya juga lupa kalau hari ini adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia. Untung saja kalender Google mengingatkan. Hadooh!

Memang Hari Kesehatan Mental Sedunia tak se-semarak hari-hari peringatan lainnya, karena itu mungkin kebanyakan orang melupakannya – termasuk saya. Ataukah Hari Kesehatan Mental Sedunia dianggap tidak penting sehingga tak perlu diingat? Ataukah kita masih merasa sehat secara mental?  Ataukah mental manusia-manusia postmodern yang sedang diambang bahaya? Entahlah.

Kita akui segala sesuatu berubah dan terus berubah. Kecil atau atau besar perubahan tersebut akan berimbas kepada kehidupan kita. Perubahan terbesar beberapa dekade belakangan terjadi di lini teknologi komunikasi. Sekali lagi, perubahan ini memengaruhi cara hidup, berpikir, bertindak, filosofi dan nilai-nilai hidup seseorang. Satu sisi kemajuan di bidang teknologi komunikasi membawa banyak manfaat dalam hidup kita. Namun di sisi yang lain membawa dampak yang membahayakan bagi kesehatan mental manusia itu sendiri.

Pemanfaatan teknologi digital dengan tidak terkendali berimbas pada kualitas interaksi sosial manusia. Interaksi maya lambat laun akan mengikis kasih, empati, kepedulian, kepekaan sosial seseorang. Tentu kita sering menyaksikan orang berkumpul namun sibuk dengan ponsel pintar mereka secara bersamaan. Kondisi ini tentu saja sangat memengaruhi kualitas sebuah hubungan, dan ini sangat berhubungan dengan kesehatan mental seseorang.

Salah satu kebenaran yang menyedihkan hari ini adalah bahwa teknologi mengendalikan kita. Bukan hanya tentang waktu, tapi bagaimana kita menggunakannya. Media sosial misalnya, banyak pengguna media sosial pada akhirnya mengedit kehidupan mereka demi sebuah pengakuan dan penerimaan orang lain. Kita akan memoles sedemikian rupa dari foto profil hingga status, kita edit sedemikian baik, lebih baik daripada yang sebenarnya.

Kita berbohong terhadap diri kita sendiri. Kita berpura-pura seolah apa yang kita lakukan di dunia maya membuat kita lebih bahagia ketimbang kehidupan di dunia nyata. Mental kita sakit.

Kehidupan nyata adalah tentang jujur pada diri sendiri. Jadilah dan terimalah diri kita sendiri. Jangan jadi orang lain supaya orang lain menyukai kita.

Kehidupan nyata adalah tentang kesadaran kita akan lingkungan di mana kita berada, tentang sesama kita dan kebutuhan mereka. Kehidupan nyata bicara tentang orang-orang yang nyata – yang hadir di sekeliling kita. Buat apa kita punya teman di media sosial sampai menyentuh angka ribuan tapi kita merasakan kesepian?

“Kemiskinan yang paling besar adalah kesepian dan perasaan tidak dicintai.” -Bunda Theresa

Memperingati hari yang tak diingat – Hari Kesehatan Mental Sedunia biarlah kita merenung sejenak. Dalam keheningan malam ini mari kita dengan diri kita bicara hati ke hati. Bertanyalah bagaimana kabarmu kini?

Berfoto Ria

Kadang ada hari di mana saya tidak tahan untuk tidak berfoto ria. Ya, lihat saja yang ini bukannya sibuk membaca malah asyik berfoto. Tapi kadang memang kesempatan seperti ini setidaknya bisa menjadi penyegar disela rutinitas padat dan kusutnya ibu kota.

IMG_0025

 

 

 

 

 

 

 

Apalagi urusan ini, tentu saja tidak boleh dilewatkan. Mau?

IMG_0121

 

 

 

 

 

 

 

Apalagi traktiran pasti nikmatnya double, hehe. Oh iya, ini sewaktu saya berulang tahun tanggal 5 Agustus kemaren. Bersyukur, kini genap 25 tahun dan juga terima kasih untuk traktirannya.

Sekarang saya sudah di Jambi. Ya,  saya bersyukur kesempatan mengelilingi Indonesia nampaknya makin nyata. Setiba di Jambi tentu saja saya tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto ria seperti biasanya. Ini dia penampakan saya di Jambi.

IMG_0236

 

 

 

 

 

 

 

Menara Gentala Arasy menjulang tepat dibibir sungai Batanghari Jambi. Ya, untuk menuju ke sini mengharuskan saya melewati jembatan Gentala Arasy yang kebetulan baru dibangun itu. Panas terik rasanya cukup terbayar dengan pemandangan di sekitar sungai.

Gagal Lagi

Salah satu kegagalan yang saya sesalkan di tahun yang lalu adalah ketidakkonsistenan saya dalam merangkai ide dalam tulisan. Alhasil, blog ini seringkali terabaikan. Di tahun 2014, salah satu komitmen saya adalah menjadikan menulis dan membaca sebagai rutinitas jika boleh bahkan menjadikannya gaya hidup. Saya berharap, melalui kegiatan menulis dan membaca jiwa kreatif dalam diri ini bisa muncul kembali kepermukaan.

Siapa sih yang tidak ingin menjadi pribadi yang kreatif. Tentu saja tidak ada. Setiap kita, saya yakin ingin menjadi sosok pribadi kreatif. Dalam hal ini saya sangat terinspirasi dengan beberapa sosok pribadi di balik Creativepreneur, misalnya Yoris Sebastian. Ya, siapa yang tidak kenal dengan sosok pribadi kreatif yang satu ini. Karena jiwa kreatifnya, kesuksesan dicapainya di usia muda. Luar biasa bukan? So, kenapa tidak berharap serupa? Tentu saja tidak berharap muluk-muluk lah, tetapi setidaknya di tahun ini ada sosok pribadi kreatif yang berpikir “Out of the Box”. Ya harapan kecil inilah yang terus mengusik saya siang dan malam.

Tapi apa daya, hingga bulan April di tahun 2015 ini, saya masih kerap gagal merealisasikannya. Ah sudahlah, menatapi kegagalan itu tidak ada gunanya.