Tsunami Informasi

Disadari atau tidak, mau atau tidak mau, kita hidup dan tenggelam dalam pusaran tsunami informasi. Saat ini arus informasi di media massa maupun media sosial tidak terbendung. Pakar komunikasi, Tony Schwartz menyebut media massa adalah tuhan yang kedua, artinya hadir di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.

Hari ini, jumlah informasi yang kita dapat sangat banyak dan beragam membuat kesadaran global kita semakin kuat serta memungkinkan munculnya wawasan yang lebih luas pula. Namun di sisi yang lain, tsunami informasi yang tersaji di media massa dengan format yang semakin beragam membuat otak manusia dipaksa bekerja secara multitasking. Di mana pada suatu saat yang sama otak dipaksa untuk memikirkan beberapa hal sekaligus.

Mau tidak mau kita dibiasakan melihat segala sesuatu secara tergesa-gesa, tidak utuh dan serba cepat. Akibatnya, kemampuan untuk menyimak dalam waktu yang panjang semakin berkurang.  Komunikasi yang rumit dianggap tidak menarik, kalau tidak menarik tidak diperhatikan. Tanpa kita sadari nilai hidup kita pun bergeser, tidak lagi berdasarkan apa yang benar tetapi seberapa bermanfaat bagi saya. Mengutamakan kesan ketimbang pesan.

Memang media massa memperkaya informasi dan wawasan kita tetapi tanpa kita sadari mengikis kekritisan kita. Bila kita cenderung hidup menekankan kesan ketimbang pesan, maka kita tidak dibiasakan berpikir kritis. Contoh ketidakkritisan adalah konsumerisme. Membeli suatu bukan karena butuh tapi karena sudah banyak orang yang menggunakannya.

Selain itu, media massa dimanfaatkan sebagian orang sebagai alat untuk membentuk opini. Sering kita jumpai berita yang dimuat tidak berimbang, wadah menghujat, mengkritik tanpa solusi, mengumpat, fitnah, menjelek-jelekan sesamanya, memuat berbagai agenda licik demi kepentingan sekolompok orang, perorangan atau golongan. Sangat sulit menemukan berita positif di tengah arus informasi seperti saat ini.

image
Sumber gambar: http://www.oneheartceremonies.com

Karena itu, bijaklah memilih berita, jangan asal meneruskan berita bohong yang sumber dan kredibilitasnya tidak jelas. Cerdaslah dalam membaca informasi. Tangkaplah pesan ketimbang kesan, kritisi bila perlu.

Advertisements

Ingin Terkenal?

Idealnya aktivitas menulis merupakan salah satu sarana utama dan yang paling efektif dalam proses pengembangan diri. Melalui kegiatan menulis kita dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada dalam diri kita. Masalahnya hingga kini tidak banyak orang yang menjadikan menulis sebagai gaya hidupnya. Kini kebanyakan orang lebih senang menikmati ide orang lain ketimbang memberi ide, serta lebih memilih hiburan ‘yang asyik dan gaul’ ketimbang meluangkan waktu khusus mengembangkan diri melalui kegiatan menulis. Ironis memang, tetapi itulah kenyataan yang kita hadapi bersama pada zaman ini.

Indonesia menunggu orang-orang yang mencintai dan menjadikan menulis sebagai gaya hidupnya. Sebenarnya melalui karya tulis yang berbobot seseorang sudah bersumbangsih untuk kemajuan negara. Tersedianya media cetak maupun elektronik sebenarnya membuka peluang serta mempermudah generasi ini untuk mulai mengembangkan diri melalui karya tulis.

Tujuan hidup manusia memang bukan hanya untuk menjadi terkenal semata, tapi untuk berbagi dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun alangkah baiknnya jika kedua hal ini menjadi satu. Ibarat dua sisi mata uang, di sisi yang lain kita memberi manfaat kepada orang lain, di sisi yang lain kita dikenal oleh banyak orang. Pendek kata, terkenal adalah konsekuensi logis dari kegiatan berbagi. Jadi sebenarnya kita bisa saja terkenal lewat kegiatan berbagi, dalam hal ini yang saya maksudkan adalah berbagi lewat ide. Sebuah ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Siapa yang tidak kenal JK Rowling. Semula ia hanyalah sosok ibu rumah tangga biasa yang tak dikenal banyak orang. Namun karena kebiasaannya menulis lahirlah sebuah buku fenomenal berjudul Harry Potter yang laris manis itu. Bahkan kini ia menjadi salah satu perempuan terkaya dan paling populer di dunia. Hanya lewat tulisan!

Andrea Hirata, sebelum menulis catatan harianya, hanya anak muda biasa-biasa saja. Namun begitu buku hariannya dituangkan dalam buku Laskar Pelangi mendadak menjadi sosok yang dikenal banyak orang. Sekali lagi hanya lewat tulisan!

Saat ini kita hidup di zaman tanpa batas. Hadirnya era teknologi informasi seperti sekarang memungkinkan siapapun menyapaikan pesan, gagasan dan berbagi informasi kepada semua khalayak tanpa dibatasi tempat dan waktu. Jika kita jeli dan peka sebenarnya di sinilah celah yang kita bisa menfaatkan untuk meraih ketenaran. Jadi siapapun kita, kini kita bisa terkenal. Menulis adalah satu jembatan yang bisa kita manfaatkan.

Hadirnya New Media seperti Facebook, Twitter, Blog dan sebagainya menyediakan kita tempat dan kemudahan untuk menuangkan buah pikiran kita dalam bentuk tulisan. Saat ini tulisan-tulisan di New Media konon lebih punya gaung ketimbang tulisan di surat kabar. Dengan demikian New Media memberikan kita berjuta kemungkinan untuk menjadikan kita terkenal lewat tulisan.

Memang menulis adalah sebuah kegiatan yang sangat memakan waktu, namun tidak termakan oleh waktu, ditulis pada satu tempat namun tersebar di berbagai tempat, dipikirkan dan ditulis oleh satu orang namun dibaca dan dinikmati ribuan hingga jutaan orang. Menulis adalah kegiatan yang melintasi ruang dan waktu.

Menulis sebenarnya mudah jika kita memulainya sejak saat ini juga. Konon seorang penulis kenamaan pernah bertutur bagaimana menjadi penulis andal adalah dengan mulai menulis sekarang juga! Praktek yang paling gampang adalah dengan menulis di buku harian kemudian memanfaatkan layanan microblogging seperti Facebook dan Twitter. Inilah awal yang baik menjadi penulis andal.

Zaman ini memungkinkan semua orang bisa menjadi penulis dan tentunya menjadi terkenal (lewat New Media tadi). Masalahnya sekarang apakah Anda akan mengambil keputusan menulis atau tidak, itu saja. Mungkin awalnya tulisan kita akan dipandang sebelah mata bahkan mungkin tidak digubris, tetapi akan tiba harinya kita menuai apa yang sudah kita kerjakan dengan gairah itu. Sebuah ketenaran yang diperoleh lewat tulisan yang original, unik dan memberi manfaat bagi orang lain. Curamnya jurang pengabaian yang kita terima justru akan menjadi landasan pacu kita untuk menulis dan terus menulis. Tulisan yang berisi dan mencerahkan, tulisan yang memberikan jawaban di saat-saat tak terduga. Tulisan yang dapat menginspirasi orang lain.

Akhirnya, tiap kita dianugerahi waktu yang sama yakni 24 jam. Jadi, tidak ada alasan tidak punya waktu untuk menulis. Ingin terkenal? Ingin dikenang? Ayo menulis.

How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Membaca

Kesuksesan Anda dalam membaca buku itu ditentukan oleh seberapa banyak ide yang bisa Anda serap dari semua yang penulis berusaha sampaikan. Mortimer Adler

Seni membaca untuk meningkatkan pemahaman, inilah gagasan utama yang hendak disampaikan oleh kedua penulis dalam buku klasik mereka ini. Bagi mereka, belajar berarti memahami lebih, bukan hanya mengingat lebih banyak informasi. Kegiatan belajar terjadi ketika dari kurang memahami menjadi lebih memahami.

Buku How to read a bookPengetahuan kita tentang dunia mungkin telah meningkat, dan sejauh pengetahuan adalah syarat bagi pemahaman, maka peningkatan itu tentu saja baik. Tetapi pengetahuan tidak berbanding lurus dengan pemahaman. Kita tidak perlu mengetahui segala hal tentang sesuatu untuk memahaminya. Terlalu banyak fakta, seperti halnya sedikit fakta, sering kali menghambat pemahaman (hal. 4).

Membaca adalah salah satu aktivitas pembelajaran. Pembelajaran itu mendapatkan banyak informasi dan memahami apa yang sebelumnya tidak kita pahami. Akan tetapi, ada perbedaan penting dari dua jenis pembelajaran ini. Mendapatkan informasi berarti sekadar mengetahui bahwa sesuatu adalah fakta. Sedangkan, memahami berarti mengetahui, plus mengetahui kenapa hal itu terjadi, apa kaitannya dengan fakta-fakta lain, dalam hal apa mereka sama, dalam hal apa mereka berbeda, dan sebagainya (hal. 12). Mendapatkan informasi adalah syarat untuk memahami, namun jangan berhenti pada mendapatkan informasi saja.

“Orang yang buta huruf mengabaikan abjad, dan orang terpelajar mengabaikan pemahaman.” ujar Montaigne.

Jika kita ingin terus belajar kita harus tahu bagaimana caranya agar buku bisa mengajari kita dengan baik. Jika kita ingin membaca untuk menambah pemahaman kita, maka buku ini akan mengantar kita pada tujuan itu, mengantar kita Mencapai Puncak Tujuan Membaca.

***

Buku: Dasar Pendidikan Kristen

pic6D3BBB65B8C3720297DB018CA67BE80B

Tidak dapat disangkal, pendidikan merupakan hal yang krusial dalam rangka pembentukan sistem pemikiran dan kehidupan seseorang. Sayangnya banyak orang, termasuk orang Kristen yang tidak peduli terhadap sistem pendidikan yang digunakan. Kebanyakan orang biasanya lebih peduli kepada hal-hal permukaan saja, seperti fasilitas, kurikulum dan guru tanpa pernah memikirkan fondasi presuposisi yang dipakai oleh sistem pendidikan tersebut.

Terdapat perbedaan yang esensial antara pendidikan Kristen yang berpusat pada Allah dengan pendidikan sekuler yang antiteistik. Sistem pendidikan Kristen akan selalu mempreposisikan Allah sebagai landasan pengetahuan sebaliknya sistem pendidikan sekuler akan mempreposisikan manusia sebagai ukuran atas segala sesuatu.

Pendidikan Kristen bukan hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga iman, kebenaran, moralitas dan integritas, selain itu pendidikan Kristen juga berpusat pada kebenaran Firman Allah, sedangkan di dalam pendidikan sekuler biasanya  yang menjadi tolok ukur dari segala sesuatu adalah manusia itu sendiri. Sistem pendidikan Kristen membuat manusia untuk mengaitkan segala sesuatu dengan Allah, sebaliknya sistem pendidikan sekular menghalangi manusia untuk melihat Tuhan dalam segala sesuatu.

Kedua pakar pendidikan sekaligus teolog, Cornelius Van Til dan Louis Berkhof, dalam buku ini dengan gamblang mengemukakan antitesis pendidikan Kristen terhadap sistem pendidikan sekuler serta dasar doktrinal pendidikan Kristen, di sinilah letak keunikan karakter pendidikan Kristen itu.

Kita harus senantiasa ingat akan hal ini ketika kita mengambil kebijakan-kebijakan pendidikan kita. Cita-cita pendidikan kita dan cita-cita pendidikan lawan kita bertolak belakang sama sekali.

Kabut itu

Menghalangi pandangan kita. Ketika pandangan kita terhalang, kita hanya bisa memandang dari sudut pandang yang kabur, sempit, tidak utuh bahkan cenderung buruk. Apa yang indah terlihat kurang indah. Apa yang baik terlihat kurang baik, apa yang menarik terlihat kurang menarik. Bahkan lebih parahnya kita hanya bisa melihat pemandangan yang buruk di depan kita. Pokoknya tidak terlihat sebagaimana mestinya.

Kadang kita juga memandang sesama kita dengan cara pandang tidak sebagaimana mestinya. Adakalanya kita memandang orang tertentu dari sudut pandang yang sempit, kita hanya melihat kekurangan demi kekurangannya, kita hanya menatapi kegagalannya secara sinis. Dan lebih parahnya, lebih mudah bagi kita melihat sejuta hal buruk ketimbang satu hal baik dalam diri orang tersebut.

Sekali lagi, kabut itu menghalangi pandangan kita. Begitu pulalah paparan dosa. Dosa membuat mata manusia kabur dalam melihat segala sesuatu. Ketika pandangan manusia ditutupi kabut dosa, manusia memiliki kecenderungan melihat sesamanya dengan cara yang  kabur, tidak utuh, buruk dan cenderung negatif.

Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan memakai ungkapan  “menurut gambar dan rupa Allah.” Gambaran yang jelas membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Meskipun gambar tersebut telah tercemar oleh dosa, Allah tetap memandang manusia sebagai ciptaan-Nya yang berharga.

Ini juga yang Allah ingin kita lakukan: memandang sesama kita sebagai mana Allah memandang mereka. Ketika kita memandang sesama kita sebagaimana Allah memandang mereka maka tidak ada kesempatan bagi kita untuk memandang mereka secara keliru, tidak utuh dan buruk.

Belajarlah memandang sesama sebagaimana Allah memandang kita.

Masker

Bencana kabut asap yang melanda beberapa kota di Sumatera khususnya kota Jambi membuat tingkat kesehatan dan produktivitas masyarakat menurun. Entah sampai kapan bencana ini berakhir. Saya tidak tahu.

Mengantisipasi efek buruk paparan asap dalam tubuh mengharuskan saya memakai masker setiap hari. Bahkan kemarin saya mengenakan masker sembari menikmati tidur siang saya. Ya, setidaknya tindakan ini mengurangi paparan asap masuk ke tubuh saya.

Sewaktu di Kalimantan boleh dikatakan saya tidak pernah mengenakan masker sama sekali. Barulah di Jambi hampir setiap saat saya mengenakannya. Kini benda yang dulu saya anggap kurang penting itu, saat ini sangat saya butuhkan.

Benda kecil, harga tak seberapa, mudah dijumpai, sekali pakai, dibuang dan diinjak orang, kadang sangat dibutuhkan pada kondisi tak terduga seperti saat ini.

Seperti halnya masker tadi keberadaan kita mungkin tidak dianggap berarti dan belum punya dampak apapun, ketahuilah Allah bukan kebetulan menempatkan kita di situasi dan kondisi tertentu. Allah akan memakai kita menjadi apa yang Allah inginkan. Menjadi pribadi yang berdampak. Mungkin saat ini belum nampak, jangan takut berjalan saja dan biarkan Tuhan melakukan pekerjaan-Nya. Dan lihatlah nanti kita akan terkagum-kagum dibuat-Nya.

Kadang Allah memakai kita disaat yang tak terduga sama sekali. Karena itu, biarkan Dia melakukannya untuk kita.

Soal Asap Lagi

Semua tinggal cerita. Menjadi cerita yang amat menyakitkan bagi anak cucu generasi yang akan datang.
Ya, hijaunya hutan Indonesia kini hanya sebuah cerita yang dibalut oleh kenangan penuh rindu.

Miris menyaksikan negara yang dulu dikenal dengan hijau tanahnya dan biru lautnya kini terkenal dengan negara dengan kerusakan hutan tercepat di dunia.

Sebentar lagi Indonesia tak ubahnya negara kepulauan yang gersang, miskin dan tak layak huni. Bagaimana tidak, secara masif manusia-manusia serakah, yang tidak bertanggung jawab, yang hanya memikirkan kepentingan sesaat, demi memenuhi syahwat ketamakan semata. Mereka merambah dan merusak hutan yang merupakan sandaran kebanyakan masyarakat.

Kini, masyarakat beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan pasrah “merenggang nyawa” akibat paparan asap yang rutin datang tiap tahunnya. Asap hasil pembakaran lahan yang dilakukan oleh oknum perorangan, lembaga ataupun perusahaan yang tak bertanggungjawab itu.

Kini rakyat pasrah “mati perlahan” karena pihak yang seharusnya menolong mereka enggan turun tangan. Mereka nyaman duduk berpangku tangan sambil menikmati udara segar dalam kediaman dan istana yang sebenarnya dipercayakan kepada mereka. Mereka lebih sibuk mengurusi internal mereka ketimbang berjuta-juta rakyat yang menjerit penuh derita. Mereka lebih memilih jalan-jalan dalam kemewahan ketimbang beraksi untuk rakyat yang dulu disodori janji manis oleh mereka sendiri. Mereka asyik dengan dunia mereka sendiri. Ironis!

Mereka itu punya jabatan tapi sama sekali tidak memiliki kehormatan. Sayang sekali.

Menyambangi Kompleks Candi Muaro Jambi

Sabtu kemaren, saya dan rekan-rekan berkesempatan berkunjung ke salah satu destinasi wisata khas kota Jambi yakni kompleks Candi Muaro Jambi yang berada di Kabupaten Muaro Jambi. Kompleks Candi Muaro Jambi merupakan situs purbakala yang bercorak Hindu – Budha yang terdapat di Provinsi Jambi. Situs ini merupakan kompleks percandian Hindu – Budha terbesar di Indonesia. Para arkeolog dan sejarawan memperkirakan bahwa situs purbakala ini merupakan peninggalan dari peradaban Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.

IMG_0418

Saya kagum akan situs purbakala ini, kaya akan sejarah kehidupan purba, kaya akan nilai budaya dan sejarah. Kekayaan yang patut di jaga oleh semua pihak.

11902368_1157540727595369_6754009214812901649_n

Selain dimanjakan dengan puluhan reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno saya juga berkesempatan menjajal kompleks percandian dengan menggunakan sepeda. Lumayan membakar lemak hehe.

Biasanya kompleks ini membawa suasan sejuk oleh hijaunya pepohonan dan rerumputan. Tapi sayang kali ini, karena kemarau panjang, pepohonan yang didominasi pohon durian, duku serta rerumputan mengering membawa kesan gersang.

11899949_1157542767595165_3190147154524501293_n

Kadang kehijauan seperti ini membawa kesejukan tersendiri.

11902472_1157539750928800_652294387342098218_n

11951256_1157540797595362_8701604958002426696_n

Semoga di lain kesempatan saya bisa menikmati kehijauan dan tentu saja kesegarannya kembali. Ya saya harap begitu.

Kabut Asap

Beberapa hari ini saya terpaksa harus menghirup asap. Kabut asap memang menjadi persoalan yang tak kunjung selesai di Pulau Sumatera. Kota Jambi merupakan salah satu wilayah yang menjadi paparan kabut asap yang timbul akibat kebakaran hutan ini.
Tentu situasi ini membuat saya sangat tidak nyaman. Bagaimana tidak, bernafas saja agak sulit belum lagi mata perih dan memerah akibat asap. Tentu saja ini bisa mengganggu kesehatan. Pokoknya sangat tidak nyaman. Pandangan pun terganggu. Ah akibat asap banyak hal yang terlewatkan. Memang kabut itu membuat kita tidak bisa menikmati apa yang ada di pandangan kita. Sayang sekali.

Saya heran, kenapa masalah ini harus terus terjadi tiap tahunnya. Apakah pemerintah tidak turun tangan mengatasi persoalan ini. Kenapa seolah pemerintah tidak berdaya atas permasalahan ini.

Saya pikir kalau pemerintah serius ingin menyelesaikan persoalan ini harusnya bisa. Kesadaran masyarakat untuk tidak mengekploitasi alam juga sangat berpengaruh untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan, dengan demikian masyarakat luas bisa menikmati udara segar.

Kita butuh udara segar untuk menjalani hidup ini.

Now, I am Teacher

Kita semua berdiri di hari ini, hari yang dahulu kita lihat sebagai masa depan. Situasi di mana kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita. Namun lihat, hari ini kaki kita membuat jejak-jejak baru yang akan dicatat oleh sejarah. Tuhan penulis sejarah dan kitalah yang melakoni sejarah itu. Saya percaya tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Setiap hal yang terjadi, setiap orang yang hadir, setiap langkah yang berjejak di manapun itu, tidak terjadi secara kebetulan. Di sinilah saya melihat Allah berdaulat atas segalanya. Allah terlibat secara langsung dengan hidup manusia.

Hari ini selembar sejarah tercatat. Now, I am Religion teacher at Sekolah Kristen Bina Kasih Jambi! Bagi saya ini adalah kesempatan istimewa, di mana saya dapat mengimplementasikan visi yang Tuhan beri kepada saya beberapa tahun yang lalu. Saya percaya, pendidikan adalah salah satu instrumen yang Allah pakai untuk memulihkan dan mendamaikan relasi yang rusak akibat dosa. Di sinilah saya meyakini bahwa guru Kristen adalah agen rekonsiliasi untuk menyembuhkan hubungan yang rusak antara siswa dengan Tuhan, siswa dengan diri mereka sendiri, siswa dengan orang lain, serta siswa dengan alam ini. Semoga dengan filosofi demikian saya bisa bertumbuh dan memberi yang terbaik bagi kemulian Tuhan khususnya dalam dunia pendidikan Kristen.

Berfoto Ria

Kadang ada hari di mana saya tidak tahan untuk tidak berfoto ria. Ya, lihat saja yang ini bukannya sibuk membaca malah asyik berfoto. Tapi kadang memang kesempatan seperti ini setidaknya bisa menjadi penyegar disela rutinitas padat dan kusutnya ibu kota.

IMG_0025

 

 

 

 

 

 

 

Apalagi urusan ini, tentu saja tidak boleh dilewatkan. Mau?

IMG_0121

 

 

 

 

 

 

 

Apalagi traktiran pasti nikmatnya double, hehe. Oh iya, ini sewaktu saya berulang tahun tanggal 5 Agustus kemaren. Bersyukur, kini genap 25 tahun dan juga terima kasih untuk traktirannya.

Sekarang saya sudah di Jambi. Ya,  saya bersyukur kesempatan mengelilingi Indonesia nampaknya makin nyata. Setiba di Jambi tentu saja saya tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto ria seperti biasanya. Ini dia penampakan saya di Jambi.

IMG_0236

 

 

 

 

 

 

 

Menara Gentala Arasy menjulang tepat dibibir sungai Batanghari Jambi. Ya, untuk menuju ke sini mengharuskan saya melewati jembatan Gentala Arasy yang kebetulan baru dibangun itu. Panas terik rasanya cukup terbayar dengan pemandangan di sekitar sungai.

Terlalu Banyak Bicara

Terkadang saya muak melihat segelintir figur publik di negeri ini. Bagaimana tidak, mereka terlalu banyak bicara seolah merekalah yang paling tahu dan yang paling benar.

Lihat saja rentetan peristiwa yang terjadi beberapa waktu ini. Mulai dari kasus Angeline hingga peristiwa jatuhnya pesawat Hercules milik TNI kemarin. Mereka berlomba mengutarakan argumentasi supaya terkesan orang terdidik. Dengan opini mereka hendak menunjukan diri di depan publik bahwa merekalah yang banyak tahu. Muak saya bertambah kala melihat mereka terlalu banyak bicara tanpa memberikan solusi.

Ke mana mereka-mereka yang mengaku wakil rakyat selama ini. Apakah harus kejadian demi kejadian yang menyita perhatian publik ini terjadi baru mereka muncul. Soal kecelakaan Hercules misalnya. Tak lama setelah peristiwa nahas itu terjadi, beberapa oknum dewan terhormat bermunculan di media. Dengan semangat mereka mengeluarkan penyataan: “Stop menerima pesawat hibah!” Lalu apa?

Slogan “lebih baik mencegah daripada mengobati” tentu tidak berlaku di sini.

Saya membayangkan, andai saja 20 milyar yang disuarakan DPR, yang katanya adalah dana aspirasi, diperjuangkan untuk sistem alutsista, mungkin tidak akan terjadi tragedi seperti ini.

Namun sayang, mereka-mereka yang di atas hanya banyak bicara.

Escape from Reason

Escape From ReasonFrancis Schaeffer adalah salah satu pemikir Injili yang mencoba mengaitkan dirinya dengan kebudayaan sekuler. Karya terbaru yang cukup berpengaruh dalam ranah pemikiran filsafat serta teologia Kristen adalah karyanya berjudul Escape From Reason.

Melalui buku ini Scaheffer melihat dan menganalisa secara luas dan mendalam bukan hanya filsafat dan teologi tetapi juga seni dan sastra. Melalui bukunya Schaeffer melihat dan menguraikan mula sekularisme yakni ketika manusia mencoba dengan memecahkan segala sesuatu dengan otonomi pikirannya. Manusia menjadikan pikirannya sebagai satu-satunya penentu segala sesuatu. Ia melihat masalah yang paling krusial yang dihadapi orang Kristen hari ini berakar pada Abad Pertengahan dan pengaruh pemikiran Aquinas pada khususnya. Aquinaslah yang membuka jalan bagi rasionalitas otonom. Pembedaan Aquinas antara anugerah dan alam telah memberikan tanah subur bagi keyakinan bahwa manusia bisa mandiri – otonom.

Dalam EFR Schaeffer  meneliti hubungan antara ‘anugerah’ dan ‘alam’. Dia berpendapat bahwa alam telah perlahan-lahan ‘memakan’ kasih karunia. Masyarakat Barat telah pergi di bawah garis ini dan itu telah menyebabkan rasa putus asa. Putus asa ini terungkap pertama dalam filsafat; kemudian menyebar hingga seni, maka musik dan budaya umum, sebelum mencapai teologi.

Schaeffer juga menguraikan kesatuan antara Alam dan Anugerah dengan mengangkat hubungan sejarah antara Renaissance dan Reformasi ia mengkontraskan kedua pandangan dari ke dua belah pihak. Para reformator menolak humanisme dan sepenuhnya menerima apa yang dikatakan Alkitab mengenai manusia yang digambarkan sebagai mahluk mulia yang diciptakan sesuai rupa sang Pencipta.

Melihat berkembangnya paham-paham bertentangan dengan Iman Kristen, Schaeffer berkeras bahwa kekristenan masih mempunyai kesempatan menjawab semua bentuk paham tersebut dengan rasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Bersama para reformator Schaeffer menekankan bahwa kita tidak boleh menyingkirkan otoritas Kristus di dalam Alkitab. Melalui Alkitab Schaeffer menguraikan kerangka berpikirnya tentang Allah, manusia dan alam. Ia menegaskan segala sesuatu ada karena Tuhan yang menciptakannya. Allah itu adalah  Allah yang dipahami dalam Alkitab yaitu Allah yang hidup dan sungguh-sungguh berpribadi dan manusia adalah karya-Nya yang ajaib, Allah menjadikannya secara khusus.

Problem muncul ketika manusia jatuh dalam dosa manusia mencari relasi ataupun memuaskan keingintahuannya akan segala sesuatu diluar dirinya namun tidak mampu. Alkitab mengajarkan sekalipun manusia hilang tanpa harapan namun ia bukan nihil. Manusia hilang karena terpisah dengan Allah. Alkitab menunjukkan kepada manusia jalan keluarnya dengan memproklamirkan penebusan dalam Kristus hanya dengan melalui Kristus ada pendamaian dengan Allah dan hanya melalui cara ini manusia bisa memahami dan menyadari keberandaannya yang sesungguhnya.

Buku Schaeffer Escape From Reason sudah pasti ditulisnya untuk membuka cakrawala pemikiran dalam kekristenan. Agar seorang Kristen memiliki worldview yang luas dapat menjawab problem kekinian dengan paradigma Alkitab dan dapat dipertanggungjawabkan dengan rasional. Sesuai dengan tujuan buku ini maka buku ini sepertinya tidak hanya ditujukan kepada pembaca akademisi saja. Namun tidak menutup kemungkinan kepada pembaca umum jika ia memiliki ketertarikan dengan filsafat maupun teologia. Secara keseluruhan kerangka pemikiran Schaeffer dalam menganalisa filsafat, teologia hingga seni patut diacungi jempol. Pemikiran kritis sistematis, mendongkrak pemikiran generasi selanjutnya bahkan saya secara personal dalam memahami baik sejarah maupun perkembangan pemikiran modern. Melalui buku ini Schaeffer mengkomunikasikan kekristenan ke budaya modern. Dia membangun kita untuk melihat adanya humanisme sekuler dan menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk berpikir dan menjadi seorang Kristen pada saat yang sama.

Buku ini memberikan pengenalan yang sangat baik untuk ide-idenya, meskipun hal itu menunjukkan asal-usulnya dalam format kuliah: ada beberapa catatan kaki dan referensi. Pandangan yang ia sodorkanpun saling berintegrasi dengan kehidupan sehingga lebih mendarat bagi pembaca. Secara sistematis Schaeffer mengungkapkan tesis utamanya dengan gambaran, nama-nama serta ide-ide yang mengalir yang membuat kita menikmati lembar demi lembar penuturannya.

Disayangkan dibeberapa bagian penting Schaeffer tidak menggunakan ilustrasi. Sebenarnya Schaeffer membuat beberapa poin yang sangat baik tentang kasih karunia dan alam menggunakan deskripsi dari karya seni dan memiliki ilustrasi akan sangat memperkaya pengalaman membaca.

Schaeffer dengan semangat untuk mengerti kebenaran dan dengan pemikiran kristis dan sistematis akan mengantar pembaca melihat sisi lain dari dunia modern serta bagaimana pandangan Kristen terhadapnya. Dan akan membantu pembaca untuk lebih memahami dunia modern dengan segala pahamnya serta memiliki worldview yang sesuai dengan Alkitab Sangat di sarankan untuk membaca buku baik ini sebagai referensi yang baik serta untuk menambah bahkan memperdalam pengetahuan khusunya dalam bidang filsafat dan hubungannya dengan Iman Kristen. Akhir kata buku Escape From Reason telah membuka cakrawala berpikir saya secara personal. Karya yang menganggumkan penuh dengan pemikiran yang tetap relevan dari waktu ke waktu.

Pengakuan Pengakuan

image Buku Confessiones menggambarkan pergumulan atau refleksi kritis Filsafat-Teologi Agustinus. Merupakan campuran autobiografi, filsafat, teologi, dan tafsir kritis dari Alkitab.

Kitab pertama hingga kesepuluh menelusuri kisah kehidupan Agustinus, sejak lahir  sampai dengan peristiwa yang terjadi setelah pertobatannya. Sedangkan tiga kitab terakhir dari Confessions fokus langsung pada isu-isu filsafat dan teologis serta intepretasi Alkitab.

Agustinus dalam bukunya yang fenomenal ini menulis refleksi hidup, pendidikan hingga imannya. Buku ini menggambarkan pencarian Agustinus pada kebenaran sejati. Confessions menyajikan analisis Agustinus tentang dirinya sendiri di hadapan Allah.

Dengan demikian boleh dikatakan buku Confessions adalah suatu kesaksian hidup yang terus bergema hingga hari ini. Sehingga tidaklah keliru jika dikatakan Confessions karya Agustinus adalah termasuk salah satu karya sastra terbaik yang pernah ada.

***