Upgrade Diri

Seiring bertambahnya usia seharusnya semakin berkembanglah diri seseorang. Akan sangat disayangkan andai usia terus bertambah namun tak ada perkembangan yang terjadi dalam diri seseorang.
Mengingat segala sesuatu yang ada di dunia ini terus berkembang dan mengalami kemajuan yang sangat mencengangkan maka kemampuan seseorang untuk mengembangkan diri adalah keharusan.

Menjelang tahun 2016, tentu saja ada banyak resolusi yang kita torehkan disecarik kertas dan berharap semua resolusi tersebut rampung dipenghujung tahun nanti. Untuk memuluskan agenda tahun 2016, kita perlu mengupgrade diri untuk kehidupan yang lebih baik.

Upgrade wawasan dan kemampuan kita

Penampilan luar tidak cukup membuat kita sukses, karena itu kita perlu meningkatkan wawasan kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan wawasan kita. Buku yang kita baca, dengan siapa kita bergaul juga akan menentukan seberapa luas wawasan kita. Dengan wawasan yang luas tidak hanya membuat kita percaya diri, namun kita punya banyak peluang untuk meraih keberhasilan.

Selain itu, kita perlu menggali dan menemukan skill dalam diri kita. Sukses atau tidaknya kita juga ditentukan bagaimana kita memakai kemampuan dasar yang ada dalam diri kita. Gali dan temukan itu.

Banyak bergaul, coba hal-hal baru, traveling, menulis, ikut seminar dan masih banyak lagi, selain bisa mendewasakan diri, kegiatan ini bisa membuat kita menjadi pribadi menarik. Kepribadian menarik juga akan menyumbang suksesnya seseorang.

Mungkin kita belum bisa menjadi orang besar yang punya pengaruh yang besar, tetapi setidaknya kita tidak boleh menjadi orang yang biasa-biasa saja. Karena itu, upgrade diri kita. Upgrade wawasan dan kemampuan kita.

Tahun 2016 apa yang anda ingin upgrade dari dalam diri anda?

Hari Kesehatan Mental Sedunia

Awalnya saya juga lupa kalau hari ini adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia. Untung saja kalender Google mengingatkan. Hadooh!

Memang Hari Kesehatan Mental Sedunia tak se-semarak hari-hari peringatan lainnya, karena itu mungkin kebanyakan orang melupakannya – termasuk saya. Ataukah Hari Kesehatan Mental Sedunia dianggap tidak penting sehingga tak perlu diingat? Ataukah kita masih merasa sehat secara mental?  Ataukah mental manusia-manusia postmodern yang sedang diambang bahaya? Entahlah.

Kita akui segala sesuatu berubah dan terus berubah. Kecil atau atau besar perubahan tersebut akan berimbas kepada kehidupan kita. Perubahan terbesar beberapa dekade belakangan terjadi di lini teknologi komunikasi. Sekali lagi, perubahan ini memengaruhi cara hidup, berpikir, bertindak, filosofi dan nilai-nilai hidup seseorang. Satu sisi kemajuan di bidang teknologi komunikasi membawa banyak manfaat dalam hidup kita. Namun di sisi yang lain membawa dampak yang membahayakan bagi kesehatan mental manusia itu sendiri.

Pemanfaatan teknologi digital dengan tidak terkendali berimbas pada kualitas interaksi sosial manusia. Interaksi maya lambat laun akan mengikis kasih, empati, kepedulian, kepekaan sosial seseorang. Tentu kita sering menyaksikan orang berkumpul namun sibuk dengan ponsel pintar mereka secara bersamaan. Kondisi ini tentu saja sangat memengaruhi kualitas sebuah hubungan, dan ini sangat berhubungan dengan kesehatan mental seseorang.

Salah satu kebenaran yang menyedihkan hari ini adalah bahwa teknologi mengendalikan kita. Bukan hanya tentang waktu, tapi bagaimana kita menggunakannya. Media sosial misalnya, banyak pengguna media sosial pada akhirnya mengedit kehidupan mereka demi sebuah pengakuan dan penerimaan orang lain. Kita akan memoles sedemikian rupa dari foto profil hingga status, kita edit sedemikian baik, lebih baik daripada yang sebenarnya.

Kita berbohong terhadap diri kita sendiri. Kita berpura-pura seolah apa yang kita lakukan di dunia maya membuat kita lebih bahagia ketimbang kehidupan di dunia nyata. Mental kita sakit.

Kehidupan nyata adalah tentang jujur pada diri sendiri. Jadilah dan terimalah diri kita sendiri. Jangan jadi orang lain supaya orang lain menyukai kita.

Kehidupan nyata adalah tentang kesadaran kita akan lingkungan di mana kita berada, tentang sesama kita dan kebutuhan mereka. Kehidupan nyata bicara tentang orang-orang yang nyata – yang hadir di sekeliling kita. Buat apa kita punya teman di media sosial sampai menyentuh angka ribuan tapi kita merasakan kesepian?

“Kemiskinan yang paling besar adalah kesepian dan perasaan tidak dicintai.” -Bunda Theresa

Memperingati hari yang tak diingat – Hari Kesehatan Mental Sedunia biarlah kita merenung sejenak. Dalam keheningan malam ini mari kita dengan diri kita bicara hati ke hati. Bertanyalah bagaimana kabarmu kini?

Ingin Terkenal?

Idealnya aktivitas menulis merupakan salah satu sarana utama dan yang paling efektif dalam proses pengembangan diri. Melalui kegiatan menulis kita dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada dalam diri kita. Masalahnya hingga kini tidak banyak orang yang menjadikan menulis sebagai gaya hidupnya. Kini kebanyakan orang lebih senang menikmati ide orang lain ketimbang memberi ide, serta lebih memilih hiburan ‘yang asyik dan gaul’ ketimbang meluangkan waktu khusus mengembangkan diri melalui kegiatan menulis. Ironis memang, tetapi itulah kenyataan yang kita hadapi bersama pada zaman ini.

Indonesia menunggu orang-orang yang mencintai dan menjadikan menulis sebagai gaya hidupnya. Sebenarnya melalui karya tulis yang berbobot seseorang sudah bersumbangsih untuk kemajuan negara. Tersedianya media cetak maupun elektronik sebenarnya membuka peluang serta mempermudah generasi ini untuk mulai mengembangkan diri melalui karya tulis.

Tujuan hidup manusia memang bukan hanya untuk menjadi terkenal semata, tapi untuk berbagi dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun alangkah baiknnya jika kedua hal ini menjadi satu. Ibarat dua sisi mata uang, di sisi yang lain kita memberi manfaat kepada orang lain, di sisi yang lain kita dikenal oleh banyak orang. Pendek kata, terkenal adalah konsekuensi logis dari kegiatan berbagi. Jadi sebenarnya kita bisa saja terkenal lewat kegiatan berbagi, dalam hal ini yang saya maksudkan adalah berbagi lewat ide. Sebuah ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Siapa yang tidak kenal JK Rowling. Semula ia hanyalah sosok ibu rumah tangga biasa yang tak dikenal banyak orang. Namun karena kebiasaannya menulis lahirlah sebuah buku fenomenal berjudul Harry Potter yang laris manis itu. Bahkan kini ia menjadi salah satu perempuan terkaya dan paling populer di dunia. Hanya lewat tulisan!

Andrea Hirata, sebelum menulis catatan harianya, hanya anak muda biasa-biasa saja. Namun begitu buku hariannya dituangkan dalam buku Laskar Pelangi mendadak menjadi sosok yang dikenal banyak orang. Sekali lagi hanya lewat tulisan!

Saat ini kita hidup di zaman tanpa batas. Hadirnya era teknologi informasi seperti sekarang memungkinkan siapapun menyapaikan pesan, gagasan dan berbagi informasi kepada semua khalayak tanpa dibatasi tempat dan waktu. Jika kita jeli dan peka sebenarnya di sinilah celah yang kita bisa menfaatkan untuk meraih ketenaran. Jadi siapapun kita, kini kita bisa terkenal. Menulis adalah satu jembatan yang bisa kita manfaatkan.

Hadirnya New Media seperti Facebook, Twitter, Blog dan sebagainya menyediakan kita tempat dan kemudahan untuk menuangkan buah pikiran kita dalam bentuk tulisan. Saat ini tulisan-tulisan di New Media konon lebih punya gaung ketimbang tulisan di surat kabar. Dengan demikian New Media memberikan kita berjuta kemungkinan untuk menjadikan kita terkenal lewat tulisan.

Memang menulis adalah sebuah kegiatan yang sangat memakan waktu, namun tidak termakan oleh waktu, ditulis pada satu tempat namun tersebar di berbagai tempat, dipikirkan dan ditulis oleh satu orang namun dibaca dan dinikmati ribuan hingga jutaan orang. Menulis adalah kegiatan yang melintasi ruang dan waktu.

Menulis sebenarnya mudah jika kita memulainya sejak saat ini juga. Konon seorang penulis kenamaan pernah bertutur bagaimana menjadi penulis andal adalah dengan mulai menulis sekarang juga! Praktek yang paling gampang adalah dengan menulis di buku harian kemudian memanfaatkan layanan microblogging seperti Facebook dan Twitter. Inilah awal yang baik menjadi penulis andal.

Zaman ini memungkinkan semua orang bisa menjadi penulis dan tentunya menjadi terkenal (lewat New Media tadi). Masalahnya sekarang apakah Anda akan mengambil keputusan menulis atau tidak, itu saja. Mungkin awalnya tulisan kita akan dipandang sebelah mata bahkan mungkin tidak digubris, tetapi akan tiba harinya kita menuai apa yang sudah kita kerjakan dengan gairah itu. Sebuah ketenaran yang diperoleh lewat tulisan yang original, unik dan memberi manfaat bagi orang lain. Curamnya jurang pengabaian yang kita terima justru akan menjadi landasan pacu kita untuk menulis dan terus menulis. Tulisan yang berisi dan mencerahkan, tulisan yang memberikan jawaban di saat-saat tak terduga. Tulisan yang dapat menginspirasi orang lain.

Akhirnya, tiap kita dianugerahi waktu yang sama yakni 24 jam. Jadi, tidak ada alasan tidak punya waktu untuk menulis. Ingin terkenal? Ingin dikenang? Ayo menulis.

Kreatif

Saat kehabisan cantolan jaket waktu sampai di tempat kerjanya, Albert Parkhouse yang bekerja di sebuah pabrik kawat di tahun 1903 mendapatkan ide. Kawat  yang dia bentuk menjadi oval dengan dua ujung kawat dikumpulkan hingga jadi kaitan. Dengan alat sederhana buatannya itu dia dapat menggantung jaket serta mencantolkannya dengan gampang pada dinding. Itulah asal muasal ditemukannya gantungan pakaian (hanger).

Saat ini siapa yang tidak memerlukan gantungan pakaian (hanger)? Ide kecil tersebut saat ini lantas menjadi sebuah usaha yang besar. Ini adalah bukti nyata jika masalah sekecil apaun mungkin saja menjadi inspirasi dan peluang yang bisa membuat kita berhasil.

ALBERT-HANGER-apakabarduniaPasti terbesit pertanyaan dalam benak kita, mengapa orang biasa seperti Albert Parkhouse dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan? Mengembangkan daya kreativitas adalah jawabannya.

Kreatif berarti memiliki kemampuan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru. William James mengatakan, “Genius sebetulnya berarti memiliki kemampuan sedikit lebih untuk melihat dengan cara yang tidak biasa.”

Ketika sebagian besar orang melihat kulit telur hanyalah seonggok sampah yang tidak berguna, orang yang kreatif melihatnya sebagai “harta karun” yang hanya perlu beberapa sentuhan sebelum dinikmati. Mereka menyulap barang yang dianggap tidak bernilai itu menjadi berbagai kerajinan tangan yang bernilai seni yang tinggi, menjadi komoditas bahkan ada yang sampai di ekspor ke luar negeri.

Menjadi pribadi yang kreatif memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun kita dapat memulainya dari hal-hal yang sederhana. Kita harus membiasakan diri untuk berpikir lain dari pada yang lain dan jeli menangkap fenomena yang sedang terjadi di sekeliling kita, maka lama-kelamaan otak dan pikiran kita akan sendirinya memunculkan ide-ide luar biasa. Singkat kata, kita semua bisa mengembangkan daya kreativitas kita masing-masing.

Masa Sulit

Masih tidak percaya kalau bulan Juni akan segera berakhir. Serasa baru kemarin memasuki awal Juni dengan segudang agenda dan tentunya harapan. Akan tetapi sayang seribu sayang harapan semula tak kunjung tiba dipenghujung Juni. Agenda-agenda yang dirancangpun kerap berantakan.

Masih soal kesulitan dalam menggarap proyek tengah tahun ini: skripsi. Gagasan yang seolah mampet membuat tuts-tuts komputer tak tersentuh beberapa hari belakangan, pertanda alur skripsi tak kunjung memperlihatkan perkembangannya. Belum lagi persoalan lain yang tarik-ulur, turut menjadi kendala dalam menyelesaikan pembuatan skripsi. Ya, barangkali di sinilah titik jenuhnya.

Kejenuhan memang membunuh daya kreativitas. Alhasil ide-ide yang semula bertebaran dalam benak tak kunjung mendarat di atas kertas. Ketika kreativitas terkungkung oleh jenuh dan rasa malas, tidur dan melamun adalah pilihan yang tidak bisa ditolak. Dan tentu ini masalah.

Masalahnya tentu saja halaman skripsi yang notabene syarat kelulusan tak kunjung bertambah. Bukan itu saja, beberapa hari ini badan saya memberi isyarat adanya ketidakberesan dengan perlakuan saya terhadapnya. Kasian juga ya.

Kembali ke soal masa sulit. Masa sulit memang tidak absen dalam hidup. Barangkali itu yang bisa saya katakan sebagai bentuk penghiburan diri. Kenyataannya memang masa sulit tentu saja mampir dalam hidup. Jangan berharap masa sulit absen dalam hidup kita tetapi berharaplah bahwa kita bisa menjalani masa sulit tersebut. Dan percayalah masa sulit tidak selamanya membuat kita seolah menjadi manusia yang tidak berdaya sama sekali. Masa sulit memang menyusahkan bahkan menyesakkan akan tetapi kehadirannya sejatinya kita butuhkan. Untuk apa? Setidaknya menjadi indikator untuk menilai diri kita apakah hari demi hari, bulan demi bulan kita makin dewasa dan bertumbuh atau kah sebaliknya.

Masa-masa sulit juga mengingatkan kita bahwa kita tidak sempurna dan tidak bisa melakukan segalanya. Oleh karenanya jangan sombong. Masa sulit mengingatkan kita bahwa kita terbatas dan mungkin saja dalam hal ini kita memerlukan tangan orang lain untuk menolong kita. Jangan enggan atau malu meminta pertolongan. Masa sulit membuat kita gerah dan tidak puas dengan keadaan sekarang dan karena itu lakukan sesuatu. Sesuatu yang setidaknya membuat kita keluar atau setidaknya bisa menjalani persoalan dengan hati yang damai. Dan tentunya masa-masa sulit mengingatkan kita untuk segera menyendiri dan berlutut berdoa karena kita tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat menolong kita. Berdoalah.

Meskipun dalam masa sulit namun saya masih menaruh harapan esok hari tangan ini kembali cekatan ketika ia kembali bersahabat dengan ide. Karena saya yakin bahwa pemeliharaan-Nya tak pernah berkesudahan dan tak akan berakhir tentunya. Itulah yang menguatkan dan meneguhkan ketika masa sulit menghampiri.

Jakarta, 30 Juni 2014

Tentang Detail Penulisan

Saya harus berterima kasih kepada Pak Budi Raharjo atas tulisannya berjudul Atensi Kepada Detail (dalam menulis) yang mengingatkan saya untuk segera memperhatikan detail-detail dalam penulisan. Jujur saja,  beberapa waktu belakangan ini, saya hanya fokus mengejar deadline penulisan skripsi saya, akibatnya saya justru acapkali mengabaikan detail-detail dalam penulisan khususnya segi visual dari sebuah tulisan ilmiah. Padahal, salah satu hal yang penting diperhatikan selain dari isi tulisan adalah bentuk visual dari tulisan itu sendiri.

Menurut dosen yang aktif di dunia maya khusus di dunia blog ini, komponen visual seringkali diabaikan kebanyakan orang. Padahal menurutnya, penampakan visual yang buruk dari sebuah tulisan khususnya tulisan karya ilmiah sangat mengganggu pembaca dan tentunya akan mengurangi bobot nilai dari karya ilmiah itu sendiri. Lanjutnya ia mengatakan, “Huruf besar atau kecil, tebal (bold) atau tidak, diletakkan di tengah atau pinggir, dan seterusnya menjadi hal yang sakral.”

Nampaknya saya harus kembali memeriksa detail tulisan saya sebelum mendapat kesan buruk dari dosen pembimbing maupun dosen penguji saya nantinya. Ya, tugas tambahan yang tidak boleh saya pandang sebelah mata. Karena dari tulisan kita, sedikit banyak mengungkapan siapa kita.

***

 

Perihal Ketidaktahuan

Semalam ketidaktahuan begitu mengusik saya untuk segera berbuat sesuatu. Sesuatu yang setidaknya bisa mengalahkan ketidaktahuan meski tak banyak.

Rasa ingin tahu adalah kekuatan yang bisa mengantar kita pada pengetahuan lepas pengetahuan. Ketidaktahuan membuat kita gigih melawan kemalasan yang menjadi penghalang kita untuk maju.

Ketidaktahuan itu sebuah kekuatan yang akan memampukan kita melangkah atau bahkan barangkali melompat. Mencari tahu apa yang tidak diketahui. Berjingkrak ke sana kemari disponsori oleh kehausan akan sesuatu, yaitu keingintahuan.

Kebanyakan orang masih menganggap ketidaktahuan adalah tanda kelemahan seseorang. Akan menjadi kelemahan jika ketidaktahuan tidak disponsori oleh rasa haus akan keingintahuan.

Ketidaktahuan itu seperti alarm dalam diri kita. Alarm pengingat. Di mana seseorang diingatkan akan sesuatu yang harusnya dimiliki namun belum ia temukan dan miliki. Alarm bukan hanya akan mengingatkan kita tetapi juga mengharuskan kita untuk segera berbuat sesuatu.

Ketidaktahuan itu bukan momok yang perlu ditakuti. Ketidaktahuan kalau dirangsang dengan tepat akan menghasilkan sesuatu.

Makanya jangan takut dengan ketidaktahuan Anda. Ketidaktahuan itu akan menuntun Anda ke babak baru dalam tulisan perjalanan hidup Anda, asalkan disertai dengan keingintahuan yang kuat serta tindakan nyata mencari tahu apa yang menjadi ketidaktahuan.

(Sekali) lagi Maaf

Kadang iri juga dengan orang-orang yang bisa lancar menulis setiap saat, apalagi kalau melihat mereka yang bisa sampai menulis buku. Sebuah pencapaian yang luar biasa setidaknya bagi saya. Betapa puasnya mereka bisa dengan leluasa ‘melepaskan’ gagasan-gagasan yang ada dibenak mereka menjadi sebuah rangkaian pikiran yang tersusun rapi membentuk paragraf-paragraf hingga bab demi bab bahkan menjadi sebuah buku yang mencerahkan. Kemudian bisa dinikmati banyak orang dari berbagai kalangan di berbagai tempat. Luar biasa biasa, bukan?

Di sisi yang lain, rasa iri ini membuat tangan ini seolah ingin cepat-cepat bercengkerama dengan tuts-tuts keyboard Netbook saya dan menuangkan apa yang menjadi kegelisahan hati ini. Namun adakalanya keinginan berbanding terbalik dengan aksi. Tindakan seolah merengek menolak dengan sejuta alasan yang dipelopori si pemalas. Alhasil seuntai kalimatpun tak tertorehkan di kertas putih yang seolah-olah tak sabaran menanti ide-ide brilian itu.

Ah itulah gelagak si pemalas dengan kroni-kroninya. Selalu membuat tangan ini terhalang menyalurkan ide-ide yang berkeliaran di kepala ini. Rasanya juga, blog yang menjadi teman saya selama ini mungkin saja geram melihat si temannya yang tak kunjung datang untuk berkolaborasi menghadirkan sebuah gagasan mungkin saja bukan yang baru dijagad maya itu.

Maaf teman sudah menelantarkanmu. Seumpama sebuah rumah, engkau kini mungkin tidak berupa indah lagi. Tidak terawat, kotor dan degil. Kini mungkin rupamu pun tak semarak seperti dahulu. Yah, sekali lagi maaf kawan. Sejatinya si pemilik wajib merawatmu, merawat dengan tangan yang cekatan.

Ya, sejatinya tidak ada alasan untuk tidak menulis. Dengan banyaknya ide-ide yang berkeliaran sejatinya juga tidak jadi alasan tidak menulis karena kehabisan ide. Menulis seharusnya menjadi menu harian.

Mari menulis kembali.

***

Buku: Do Hard Things

do_hard_thingsMari berontak, memberontak terhadap pengharapan yang rendah! Kira-kira itulah ide utama buku berjudul Do Hard Things. Si kembar Alex dan Brett Harris dibangunkan kepada sebuah gagasan besar dan gemuruh yang mengawali perubahan sejarah dalam hal pemikiran para remaja di pelosok negeri dan di seluruh dunia. Mereka mengajak remaja di seluruh dunia berontak kepada hal-hal yang terlalu mudah.

Kedua remaja ini menciptakan sebuah gagasan besar bernama Rebelution, sebuah pemberontakan kaum remaja terhadap pengharapan yang rendah. Sebuah gerakan yang berkembang dari orang-orang muda yang memberontak terhadap harapan rendah budaya saat ini dengan memilih untuk “melakukan hal-hal yang sulit” bagi kemuliaan Allah.

Kakak beradik ini mengajak para remaja menaikan ekspektasinya agar memiliki pengharapan yang lebih tinggi lagi. Itulah undangan mereka kepada remaja—untuk bergabung bersama remaja-remaja lainnya yang serius mengubah gagasan dunia tentang masa remaja.

Kami tidak memberontak terhadap institusi atau bahkan terhadap orang. Pemberontakan kami adalah terhadap pola pikir budaya yang memelintir maksud dan potensi dari masa remaja dan mengancam untuk melumpuhkan generasi kita. Pemberontakan kami tak akan ditandai dengan kericuhan massa dan kekerasan, tapi dengan jutaan individu remaja yang secara diam-diam memilih untuk membalikkan pengharapan yang rendah dari budaya kita.

Do Hard Things ditulis oleh remaja untuk remaja. Pesan revolusioner si kembar Harris dalam bentuk yang paling murni dan paling menarik, memberikan pembaca sekilas kenyataan dari apa yang mungkin remaja lakukan melawan kebohongan budaya yang membatasi potensi mereka.

Buku ini dikemas dengan anekdot lucu, contoh-contoh praktis, dan kisah-kisah rebelutionaries kehidupan nyata dalam tindakan. Ini merupakan sebuah buku remaja yang berbeda. Buku ini menantang Anda untuk merengkuh cara yang lebih baik tapi lebih sulit dalam menghidupi masa remaja Anda dan selanjutnya.

Sebuah buku yang sangat baik dan menarik. 😉

 

Di Tepian Keruntuhan Diri

Image: http://xetobyte.deviantart.com
Image:xotobyte.deviantart.com

Jika menengok ke belakang, aktivitas kuliah adalah penyumbang nomor satu kesibukan saya.  Selama duduk di bangku kuliah saya kerap sibuk bahkan mengalami penumpukan kesibukan. Kesibukan lepas kesibukan menjadi santapan harian selama kuliah. Kesibukan wajar, apalagi dunia saat ini menuntun kita kepada kesibukan yang satu ke kesibukan yang satunya lagi. Saya kira wajar saya dibuat sibuk. Toh untuk masa depan saya juga. Tapi tunggu dulu!

Soal kesibukan saya melihat ada dua jenis kesibukan yang ada di hadapan kita. Ada kesibukan yang mencerminkan adanya kegiatan, pola prioritas, dan adanya tujuan. Itu adalah kesibukan yang baik dan memuaskan karena menuntun orang untuk bertumbuh dalam kompetensinya.

Namun ada juga kesibukan yang bisa merusak yang mencerminkan kehidupan yang kacau. Kesibukan lepas kesibukan yang dilakukan tanpa perbedaan entah itu baik atau tidak. Semata karena hal itu kewajiban yang harus dilakukan.

Sayangnya, saya adalah salah satu orang yang terseret oleh jenis kesibukan kedua. Di luar kendali, cemas yang berujung stres.

Hari lepas hari saya terbangun sebelum sang mentari terbit, dan malam lepas malam saya menjatuhkan diri ke tempat tidur lama seusai aktivitas ‘belajar’ di perpustakaan serta doa hening malam.

Senin hingga jumat jam-jam hari saya diisi dengan serangkaian aktivitas rutin. Karena saat ini saya sedang studi di seminari maka setiap harinya saya harus bangun pukul setengah enam pagi. Tepat pukul enam saya harus renungan dan doa pribadi.  Jam enam seperempat saya harus sarapan pagi, dilanjut jam setengah delapan aktivitas perkuliahan pun dimulai hingga siang bahkan ada yang hingga sore hari. Jam sembilan duapuluh saya harus mengikuti ibadah chapel. Saat matahari mulai terbenam, saya bergegas menikmati santapan malam yang setiap harinya saya lakoni tepat pukul 18.10. Belum lagi kegiatan menimba ilmu di perpustakaan yang saya harus lalui tiga jam setiap harinya.

Tunggu dulu, kesibukan saya belum usai. Makalah, laporan baca, dan juga tugas lainnya menanti di tengah maupun akhir semester. Saya juga harus berjibaku melawan waktu mempersipakan diri menyambut ujian demi ujian. Mata melotot dan hidung tersumbat kerap saya alami karenanya. Belum lagi setiap hari sabtu dan minggu saya harus menunaikan praktek lapangan (yang biasa kami mahasiswa seminari sebut pelayanan weekend).

Kira-kira itulah aktivitas kesibukan yang menamani keseharian saya. Membaca uraiannya saja barangkali Anda sudah lelah apalagi yang menjalaninya. Maafkan saya, karena saya harus menuliskannya secara rinci untuk menggambarkan sesuatu yang kita sebut dengan kesibukan tadi.

Saya harus akui semua kegiatan kesibukan tadi adakalanya membuat suasana hati menjadi galau, pemikiran goncang, mengeringkan rohani, emosi, akal dan jasmani saya. Ada masanya saya seolah ingin menjauh dari kesibukan itu. Adakalanya saya merasa sangat lelah dan sangat letih karena terlibat adu jotos dengan rutinitas itu. Jasmani juga kadang meringkuk kesakitan oleh kuk yang terpasang di pikiran saya. Belum lagi oase rohani kerapkali terasa kering kelontang. Di sinilah saya mendapati musim-musim ketika angin sepertinya berhenti dari pelayaran kehidupan kerohanian saya.

Begitulah saya menjalaninya – sesuatu yang tidak menyukakan Tuhan dan juga semacam adonan yang kelak akan saya sesali dikemudian hari.

Saya kira ini adalah skenario kehidupan yang tidak boleh saya toleransi. Saya harus menata kembali kehidupan di wilayah diri. Bertekad menjalani kesibukan yang dibangun di atas kesadaran anugerah yang harus dijalani dengan disiplin dan ketetapan hati.

Di sinilah saya harus mengenal dan memahami diri. Mengenal dan mengidentifikasikan kelemahan dan kekuatan pribadi itu sendiri. Mengenal kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder dalam diri. Saya pikir dengan memahami kehidupan di wilayah diri, sedikit banyak akan memungkinkan kita menjalani kesibukan bukan sekadar kesibukan. Memungkinkan kita melihat lebih jauh dan dalam lagi nilai-nilai hidup di wilayah diri. Memungkinkan kita memiliki kepekaan lebih untuk melihat sisi-sisi yang lain dari hidup kita yang kompleks ini.

Ada sisi-sisi kehidupan di wilayah diri yang perlu kita kenali lebih dalam bahkan perlu kita perhatikan secara serius. Kita sudah diberi karunia alamiah berupa talenta, karisma pribadi, motivasi, kecerdasan emosi, intelek dan spiritual yang memungkinkan kita menjalani hidup dengan utuh dan sempurna. Perhatikanlah semua itu. Tidak boleh ada yang diperlakukan superior. Semua bidang kehidupan itu harus berjalan beriringan dan seimbang.

Dunia pribadi adalah salah satu medan perang di abad ini. Nilai-nilai budaya modern membuat kita cenderung untuk percaya bahwa pribadi yang super sibuk dan aktif secara publik adalah orang paling sukses dan paling spiritual.

Banyak orang mengorbankan dunia pribadi dan mengutamakan dunia publik. Ia menceburkan diri dari kesibukan yang satu ke kesibukan yang lain, ia terlibat dalam banyak program dan kegiatan publik bahkan ia selalu ingin tampil memukau di muka publik. Tak ada waktu mengurus diri. Tak ada kesempatan untuk mengenal dan memahami bidang-bidang kehidupan di wilayah diri. Sesungguhnya ini akan menghantar seseorang ke tepian keruntuhan di wilayah diri.

Mengapa Aku Menulis

Aku menulis karena aku ingin mencari tahu siapa aku. Menulis adalah cara yang mengagumkan untuk mengetahui siapa aku sesungguhnya.

Aku menulis karena aku ingin mengetahui apa yang aku pikirkan, mengerti apa yang aku pikirkan, menyampaikan apa yang aku pikirkan. Menulis adalah cara terbaik untuk menata ulang pikiranku.

Aku menulis karena aku ingin meninggalkan setapak jejak di dunia fana ini. Aku dapat meninggalkan warisan yang tidak hilang pada saat aku tiada kelak. Menulis adalah kegiatan menceburkan diri dalam pusaran sejarah. Tidak lekang oleh waktu!

Aku menulis karena itu membuat aku bahagia. Aku merasa seperti melakukan sesuatu yang berharga, dan sesuatu yang bisa aku lihat dan nikmati kembali. Tentu saja, hal ini tidak terjadi sepanjang waktu. Adakalanya aku jijik ketika mendapati apa yang kutuliskan gagal aku hidupi.

Aku  menulis karena aku merasa bahwa kadang-kadang kata-kata dapat mengubah dunia.

Aku menulis dengan harapan bahwa apa yang aku tuliskan menjadi jawaban. Mungkin bisa menjadi jawaban di saat yang paling tidak terduga.

Aku menulis karena aku ingin menginspirasi orang lain, seperti halnya ketika aku terinspirasi oleh tulisan orang lain.

Aku menulis karena sebuah panggilan. Panggilan memancarkan Ia yang memanggilku. Ia yang kini telah berbicara lewat tulisan jua yang bisa aku nikmati siang dan malam.

Aku menulis karena semua itu dan aku tak kenal lelah dalam pengejaran itu. Aku sering memilih untuk tidak menulis.  Namun alasan itulah yang menyangga ku tetap menulis. Aku menulis karena aku tidak bisa tidak menulis.

Mengapa Anda menulis?

Oh tidak, masalah lagi!

problem-solvingMasalah datang sesukanya. Tak diundangpun ia pasti datang. Kepada siapapun ia pasti datang. Masalah adalah sebuah keadaan yang berbeda dengan apa yang kita harapkan. Suatu keadaan yang berbanding terbalik dengan kondisi yang kita dambakan atau cita-citakan. Ia datang bak bencana, sewaktu-waktu dan menghancurkan, membuat kita seolah berada di jalan buntu. Itulah masalah. Ia hadir kadang hanya seperti secumput garam tetapi adakalanya ia mampir layaknya seton kerikil tajam yang siap membuat kita tersandung bahkan jatuh terluka.

Reaksi terhadap masalah bisa beragam. Namun pada umumnya reaksi terhadap masalah seringkali lebih besar dari masalah itu sendiri. Tidak heran, jika reaksi terhadap masalah itu memunculkan masalah baru lagi. Reaksi berlebihan terhadap masalah bukan jadi jalan keluar dari masalah. Mengeluh misalnya, hanya akan menguras banyak energi dan membuang banyak waktu dengan percuma. Menggerutu dan bersungut-sungut tidak akan menyelesaikan masalah justru hanya akan menambah beban. Akibatnya keharmonisan hidup terggangu, tak jarang jika frustrasi, stres, dan galau menghampiri. Akhirnya, produktivitas kita terganggu, relasi kita dengan orang lain terganggu bahkan banyak moment indah dan berharga terlewatkan begitu saja.

Masalah bisa menjadi kesempatan dan tantangan untuk meningkatkan segala sesuatu terkait diri kita. Kehadiran masalah bisa jadi kesempatan emas meningkatkan kapasitas diri kita [setidaknya terhadap masalah serupa]. Bahkan ia bisa menjadi tantangan untuk melangkah lebih baik lagi dari sebelumnya. Kehadirannya membuat kita menyadari dan mempercayai bisa saja ada sesuatu yang lebih baik dari situasi saat ini.

Bagaimana kita memandang masalah akan menentukan sikap kita terhadap masalah. Sikap kita terhadap masalah akan menentukan hasil akhir. Ketika kita memandang masalah sebagai sebuah monster menakutkan maka kita akan tertelan olehnya. Sebaliknya ketika kita meniliknya sebagai sahabat maka dengan cekatan ia akan menjadi landasan pacu kita untuk meraih kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Kehadiran masalah merupakan kesempatan kita untuk bersikap positif dalam memandang masalah. Oleh karena itu, ketika dilanda masalah belajarlah untuk tetap bersyukur.

Ketika membaca tulisan ini barangkali Anda sedang bergumul dengan persoalan Anda masing-masing. Saya tidak berkata bahwa saya sangat cakap dalam memandang dan bersikap terhadap suatu masalah. Sekali-kali tidak. Sembari tangan menulis, banyak kali saya harus bergumul terlebih dahulu dengan masalah-masalah saya. Saya harus terlebih dahulu menerapkannya dalam kehidupan saya sehari-hari sebelum terangkai menjadi kalimat.

Sekali lagi, selama kita masih berpijak di bumi masalah tak akan pernah absen dari kehidupan kita. Namun kehadirannya sejatinya tidak membuat kita menjadi seolah mahluk yang paling lemah dan malang di dunia. Sebaliknya kehadirannya makin membuat kita kuat dan matang dalam menapaki ekspedisi kehidupan ini. Terlebih lagi kita tak berjalan sendirian. Takkala masalah melanda hidup kita ketahuilah Ia hadir dan sangat mengerti setiap tetesan air mata kita. Ia tak membiarkan, Ia tak akan mengizinkan masalah melampaui kekuatan kita, dan Ia tak akan pernah terlambat menolong kita, hanya saja, Ia ingin melihat kita bukan lagi seperti anak kecil yang merangkak dan merengek tapi seperti orang dewasa yang berjalan bahkan berlari dalam menapaki hidup. Oleh karena itu, hadapilah masalah kita hari ini dan esok dengan tetap bersyukur, cara pandang yang berbeda, dan dengan sikap berbeda pula. Lihatlah, kita akan terpana dengan apa yang akan terjadi dalam hidup kita besok.

>> Bagaimana sobat, apa masalah sobat hari ini? Jika ada, percayalah pasti ada jalan keluar!

Buku Pilihan Saya di Tahun 2013

BooksAdakalanya saya harus berjibaku melawan lupa dan ketidaktahuan. Membuka lembar demi lembar buku-buku itu. Tak banyak memang, namun kehadiran mereka cukup membuka mata dan hati ini. Ya, semenjak ketidaktahuan mengolok diri ini saat itu pula aktivitas mencari informasi dan pemahaman tentang dunia, manusia dan Tuhan melalui kata-kata tertulis rutin saya lakukan. Kadangkala, saya layaknya pemulung yang mengais rezeki di balik tumpukan sampah. Tak apa seperti itu, yang terpenting di sini saya mendapatkan apa yang saya butuhkan. Makanan untuk jiwa dan pikiran saya.

Catatan ini memuat daftar buku yang kehadirannya cukup signifikan dalam hidup saya di tahun 2013. Ini adalah daftar buku-buku terbaik versi saya di tahun 2013, meskipun sebenarnya ada sebagian buku sudah sejak jauh hari terbit tetapi baru mendekat kepada saya atau dengan kata lain baru saya baca di tahun tersebut. Bahkan kadang miris, di antara buku-buku itu telah lama menghiasi rak buku saya namun belum terjamah sama sekali dan barulah tahun 2013 saya bercengkerama dengan mereka. Anda jangan berpikir bahwa saya hafal keseluruhan isi buku-buku tersebut tetapi setidaknya sedikit banyak saya telah menangkap pesan utama dan terus saya cerna hingga kini. Buku-buku di bawah ini turut membantu saya dalam banyak hal: cara pandang, proses berpikir, rasa, dan tindakan saya. Bahkan adakalanya saya harus menitikkan air mata, karena memang saya harus akui mereka hadir bukan hanya menyentuh pikiran tetapi hati juga.

Tak lupa saya hanturkan banyak terima kasih kepada mereka yang telah mempersembahkan ide-ide mereka ke sebagian hidup saya. Saya harap Anda juga memiliki pengalaman-pengalaman serupa: bercengkerama dengan buku-buku baik dan bermutu. Berikut daftar buku-buku tersebut;

Spiritual Books

  1. Life as a Vapor – John Piper
  2. The Radical Disipline – John Stott
  3. Relasi: Kekusutan yang Layak Dihadapi – Tim Lane & Paul Tripp
  4. Wired For Intimacy – William M. Struthters
  5. The Pursuit of Holiness – Jerry Bridges
  6. Spiritual Check-Up – Donald S. Whitney
  7. How You Can Sure That You Will Spend Eternity With God – Erwin W. Lutzer

Christian Worldview Books

  1. The Christian Mind – Hary Blamires
  2. Kebiasaan Akal Budi – James W. Sire

Theological Books

  1. Confessions – Augustine
  2. Hari-hari Terakhir Yesus: Sesungguhnya apa yang terjadi? – Craig A. Evans & N.T. Wright
  3. Reinventing Jesus – J. Ed Komoszewski, M. James Sawyer & Daniel B. Wallace
  4. Detroning Jesus – Darrel L. Bock & Daniel B. Wallace

Miscellaneous & Self Development

  1. How to read a book – Mortimer J. Adler & Charles Van Doren
  2. Writing Without Teachers – Peter Elbow
  3. Curahkan Gairah Menulis – Ratna D. Pudiastuti
  4. Effective Public Speaking – Richard Bewes
  5. Personality Theories – C. George Boeree
  6. Personality Plus – Florence Littauer

Seorang pakar terkemuka pernah berujar,

“Buku itu bisa Anda miliki sepenuhnya jika Anda telah menjadikannya bagian dari diri Anda.” – Mortimer J. Adler

Maksudnya jelas, buku hanya akan menjadi milik kita sepenuhnya jika pesan yang hendak disampaikan penulis mendarat di dalam pikiran dan hati kita kemudian sedikit banyak mempengaruhi hidup kita dan cara kita menjalaninya. Akhirnya, jangan biarkan buku-buku yang kita beli hanya menjadi penghias ruangan saja. Ambil, baca dan nikmatilah.

>>Bagaimana dengan Anda, apa judul buku terbaik pilihan Anda di tahun 2013?