Buku Baru

image

Saya tidak mau gagal lagi. Beli buku baru tapi gagal dibaca. Sayang kan.

Sabtu yang lalu saya membeli sebuah buku baru karya Ken Robinson berjudul Do it with Passion. Dan sudah saya baca hampir seperempat dari isi buku tersebut. Sebuah buku yang baik, menarik dan sangat inspiratif. Pesannya jelas: kenali bakatmu, asah kreativitasmu dan wujudkan mimpimu.

Saking menariknya, saya tidak sabar ingin menyantap halaman demi halaman buku ini sampai halaman terakhir.

Arai

image

Arai adalah inspirasi hidupku.

Arai selalu meyakinkanku untuk menjunjung tinggi mimpi-mimpi kami, lalu ia membakar semangatku untuk mencapainya. Arai adalah antitesis sikap pesimis, panglima yang mengobrak-abrik mentalitas penakut, dan hulubalang bagi jiwa besar. Ia telah membawaku mengalami hidup seperti yang kuinginkan. Hidup dengan tantangan dan gelegak mara bahaya. Kami jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi. *p. 279

Saya agak terlambat mendapatkan novel Edensor. Bahkan setelah mendapatkannya saya agak malas meraihnya dari rak buku. Namun sengat Arai, mampu membuat saya entah bagaimana tak mau melewatkan halaman demi halaman.

Barangkali ini kesempatan merajut asa.

How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Membaca

Kesuksesan Anda dalam membaca buku itu ditentukan oleh seberapa banyak ide yang bisa Anda serap dari semua yang penulis berusaha sampaikan. Mortimer Adler

Seni membaca untuk meningkatkan pemahaman, inilah gagasan utama yang hendak disampaikan oleh kedua penulis dalam buku klasik mereka ini. Bagi mereka, belajar berarti memahami lebih, bukan hanya mengingat lebih banyak informasi. Kegiatan belajar terjadi ketika dari kurang memahami menjadi lebih memahami.

Buku How to read a bookPengetahuan kita tentang dunia mungkin telah meningkat, dan sejauh pengetahuan adalah syarat bagi pemahaman, maka peningkatan itu tentu saja baik. Tetapi pengetahuan tidak berbanding lurus dengan pemahaman. Kita tidak perlu mengetahui segala hal tentang sesuatu untuk memahaminya. Terlalu banyak fakta, seperti halnya sedikit fakta, sering kali menghambat pemahaman (hal. 4).

Membaca adalah salah satu aktivitas pembelajaran. Pembelajaran itu mendapatkan banyak informasi dan memahami apa yang sebelumnya tidak kita pahami. Akan tetapi, ada perbedaan penting dari dua jenis pembelajaran ini. Mendapatkan informasi berarti sekadar mengetahui bahwa sesuatu adalah fakta. Sedangkan, memahami berarti mengetahui, plus mengetahui kenapa hal itu terjadi, apa kaitannya dengan fakta-fakta lain, dalam hal apa mereka sama, dalam hal apa mereka berbeda, dan sebagainya (hal. 12). Mendapatkan informasi adalah syarat untuk memahami, namun jangan berhenti pada mendapatkan informasi saja.

“Orang yang buta huruf mengabaikan abjad, dan orang terpelajar mengabaikan pemahaman.” ujar Montaigne.

Jika kita ingin terus belajar kita harus tahu bagaimana caranya agar buku bisa mengajari kita dengan baik. Jika kita ingin membaca untuk menambah pemahaman kita, maka buku ini akan mengantar kita pada tujuan itu, mengantar kita Mencapai Puncak Tujuan Membaca.

***

Buku: Dasar Pendidikan Kristen

pic6D3BBB65B8C3720297DB018CA67BE80B

Tidak dapat disangkal, pendidikan merupakan hal yang krusial dalam rangka pembentukan sistem pemikiran dan kehidupan seseorang. Sayangnya banyak orang, termasuk orang Kristen yang tidak peduli terhadap sistem pendidikan yang digunakan. Kebanyakan orang biasanya lebih peduli kepada hal-hal permukaan saja, seperti fasilitas, kurikulum dan guru tanpa pernah memikirkan fondasi presuposisi yang dipakai oleh sistem pendidikan tersebut.

Terdapat perbedaan yang esensial antara pendidikan Kristen yang berpusat pada Allah dengan pendidikan sekuler yang antiteistik. Sistem pendidikan Kristen akan selalu mempreposisikan Allah sebagai landasan pengetahuan sebaliknya sistem pendidikan sekuler akan mempreposisikan manusia sebagai ukuran atas segala sesuatu.

Pendidikan Kristen bukan hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga iman, kebenaran, moralitas dan integritas, selain itu pendidikan Kristen juga berpusat pada kebenaran Firman Allah, sedangkan di dalam pendidikan sekuler biasanya  yang menjadi tolok ukur dari segala sesuatu adalah manusia itu sendiri. Sistem pendidikan Kristen membuat manusia untuk mengaitkan segala sesuatu dengan Allah, sebaliknya sistem pendidikan sekular menghalangi manusia untuk melihat Tuhan dalam segala sesuatu.

Kedua pakar pendidikan sekaligus teolog, Cornelius Van Til dan Louis Berkhof, dalam buku ini dengan gamblang mengemukakan antitesis pendidikan Kristen terhadap sistem pendidikan sekuler serta dasar doktrinal pendidikan Kristen, di sinilah letak keunikan karakter pendidikan Kristen itu.

Kita harus senantiasa ingat akan hal ini ketika kita mengambil kebijakan-kebijakan pendidikan kita. Cita-cita pendidikan kita dan cita-cita pendidikan lawan kita bertolak belakang sama sekali.

Escape from Reason

Escape From ReasonFrancis Schaeffer adalah salah satu pemikir Injili yang mencoba mengaitkan dirinya dengan kebudayaan sekuler. Karya terbaru yang cukup berpengaruh dalam ranah pemikiran filsafat serta teologia Kristen adalah karyanya berjudul Escape From Reason.

Melalui buku ini Scaheffer melihat dan menganalisa secara luas dan mendalam bukan hanya filsafat dan teologi tetapi juga seni dan sastra. Melalui bukunya Schaeffer melihat dan menguraikan mula sekularisme yakni ketika manusia mencoba dengan memecahkan segala sesuatu dengan otonomi pikirannya. Manusia menjadikan pikirannya sebagai satu-satunya penentu segala sesuatu. Ia melihat masalah yang paling krusial yang dihadapi orang Kristen hari ini berakar pada Abad Pertengahan dan pengaruh pemikiran Aquinas pada khususnya. Aquinaslah yang membuka jalan bagi rasionalitas otonom. Pembedaan Aquinas antara anugerah dan alam telah memberikan tanah subur bagi keyakinan bahwa manusia bisa mandiri – otonom.

Dalam EFR Schaeffer  meneliti hubungan antara ‘anugerah’ dan ‘alam’. Dia berpendapat bahwa alam telah perlahan-lahan ‘memakan’ kasih karunia. Masyarakat Barat telah pergi di bawah garis ini dan itu telah menyebabkan rasa putus asa. Putus asa ini terungkap pertama dalam filsafat; kemudian menyebar hingga seni, maka musik dan budaya umum, sebelum mencapai teologi.

Schaeffer juga menguraikan kesatuan antara Alam dan Anugerah dengan mengangkat hubungan sejarah antara Renaissance dan Reformasi ia mengkontraskan kedua pandangan dari ke dua belah pihak. Para reformator menolak humanisme dan sepenuhnya menerima apa yang dikatakan Alkitab mengenai manusia yang digambarkan sebagai mahluk mulia yang diciptakan sesuai rupa sang Pencipta.

Melihat berkembangnya paham-paham bertentangan dengan Iman Kristen, Schaeffer berkeras bahwa kekristenan masih mempunyai kesempatan menjawab semua bentuk paham tersebut dengan rasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Bersama para reformator Schaeffer menekankan bahwa kita tidak boleh menyingkirkan otoritas Kristus di dalam Alkitab. Melalui Alkitab Schaeffer menguraikan kerangka berpikirnya tentang Allah, manusia dan alam. Ia menegaskan segala sesuatu ada karena Tuhan yang menciptakannya. Allah itu adalah  Allah yang dipahami dalam Alkitab yaitu Allah yang hidup dan sungguh-sungguh berpribadi dan manusia adalah karya-Nya yang ajaib, Allah menjadikannya secara khusus.

Problem muncul ketika manusia jatuh dalam dosa manusia mencari relasi ataupun memuaskan keingintahuannya akan segala sesuatu diluar dirinya namun tidak mampu. Alkitab mengajarkan sekalipun manusia hilang tanpa harapan namun ia bukan nihil. Manusia hilang karena terpisah dengan Allah. Alkitab menunjukkan kepada manusia jalan keluarnya dengan memproklamirkan penebusan dalam Kristus hanya dengan melalui Kristus ada pendamaian dengan Allah dan hanya melalui cara ini manusia bisa memahami dan menyadari keberandaannya yang sesungguhnya.

Buku Schaeffer Escape From Reason sudah pasti ditulisnya untuk membuka cakrawala pemikiran dalam kekristenan. Agar seorang Kristen memiliki worldview yang luas dapat menjawab problem kekinian dengan paradigma Alkitab dan dapat dipertanggungjawabkan dengan rasional. Sesuai dengan tujuan buku ini maka buku ini sepertinya tidak hanya ditujukan kepada pembaca akademisi saja. Namun tidak menutup kemungkinan kepada pembaca umum jika ia memiliki ketertarikan dengan filsafat maupun teologia. Secara keseluruhan kerangka pemikiran Schaeffer dalam menganalisa filsafat, teologia hingga seni patut diacungi jempol. Pemikiran kritis sistematis, mendongkrak pemikiran generasi selanjutnya bahkan saya secara personal dalam memahami baik sejarah maupun perkembangan pemikiran modern. Melalui buku ini Schaeffer mengkomunikasikan kekristenan ke budaya modern. Dia membangun kita untuk melihat adanya humanisme sekuler dan menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk berpikir dan menjadi seorang Kristen pada saat yang sama.

Buku ini memberikan pengenalan yang sangat baik untuk ide-idenya, meskipun hal itu menunjukkan asal-usulnya dalam format kuliah: ada beberapa catatan kaki dan referensi. Pandangan yang ia sodorkanpun saling berintegrasi dengan kehidupan sehingga lebih mendarat bagi pembaca. Secara sistematis Schaeffer mengungkapkan tesis utamanya dengan gambaran, nama-nama serta ide-ide yang mengalir yang membuat kita menikmati lembar demi lembar penuturannya.

Disayangkan dibeberapa bagian penting Schaeffer tidak menggunakan ilustrasi. Sebenarnya Schaeffer membuat beberapa poin yang sangat baik tentang kasih karunia dan alam menggunakan deskripsi dari karya seni dan memiliki ilustrasi akan sangat memperkaya pengalaman membaca.

Schaeffer dengan semangat untuk mengerti kebenaran dan dengan pemikiran kristis dan sistematis akan mengantar pembaca melihat sisi lain dari dunia modern serta bagaimana pandangan Kristen terhadapnya. Dan akan membantu pembaca untuk lebih memahami dunia modern dengan segala pahamnya serta memiliki worldview yang sesuai dengan Alkitab Sangat di sarankan untuk membaca buku baik ini sebagai referensi yang baik serta untuk menambah bahkan memperdalam pengetahuan khusunya dalam bidang filsafat dan hubungannya dengan Iman Kristen. Akhir kata buku Escape From Reason telah membuka cakrawala berpikir saya secara personal. Karya yang menganggumkan penuh dengan pemikiran yang tetap relevan dari waktu ke waktu.

Pengakuan Pengakuan

image Buku Confessiones menggambarkan pergumulan atau refleksi kritis Filsafat-Teologi Agustinus. Merupakan campuran autobiografi, filsafat, teologi, dan tafsir kritis dari Alkitab.

Kitab pertama hingga kesepuluh menelusuri kisah kehidupan Agustinus, sejak lahir  sampai dengan peristiwa yang terjadi setelah pertobatannya. Sedangkan tiga kitab terakhir dari Confessions fokus langsung pada isu-isu filsafat dan teologis serta intepretasi Alkitab.

Agustinus dalam bukunya yang fenomenal ini menulis refleksi hidup, pendidikan hingga imannya. Buku ini menggambarkan pencarian Agustinus pada kebenaran sejati. Confessions menyajikan analisis Agustinus tentang dirinya sendiri di hadapan Allah.

Dengan demikian boleh dikatakan buku Confessions adalah suatu kesaksian hidup yang terus bergema hingga hari ini. Sehingga tidaklah keliru jika dikatakan Confessions karya Agustinus adalah termasuk salah satu karya sastra terbaik yang pernah ada.

***

Minat Baca

Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca siswa SMA adalah sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.

Juga merujuk data yang pernah dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012 dijelaskan bahwa sebanyak 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, dan hanya sekitar 17,66 persen yang menyukai membaca surat kabar, buku atau majalah.

Berdasarkan data di atas, menunjukan minat baca orang Indonesia masih tergolong rendah. Entahlah mungkin karena budaya orang Indonesia yang lebih suka melihat dan mendengar makanya enggan membaca. Barangkali 😉

Jangan berkecil hati dengan data di atas. Setidaknya hari ini kita bisa mulai membaca dan terus meningkatkan minat baca kita.  Bukankah ada pernyataan, “pintar tidaknya seseorang sebenarnya sangat ditentukan seberapa intens ia melakukan aktivitas baca.”

Belum terlambat, karena itu mari membaca.

Buku: Generation iY–Our Last Change to Save Their Future

Buku berjudul Generation iY-Our Last Change to Save Their Future ini mengangkat masalah krusial yang sedang dihadapi generasi iY dan bagaimana orang tua, mentor, pendeta dan guru dapat menyesuaikan serta menolong dan mengarahkan generasi ini. Tim Elmore melihat generasi ini berada dalam kesulitan besar. Melalui bukunya Elmore bukan hanya membuka mata pembaca dengan mengemukakan fakta apa yang sedang terjadi dengan generasi iY tapi ia juga memaparkan bagaimana menolong dan mengarahkan mereka.

GenBuku ini disajikan dengan bahasa yang jelas, lugas dan enak dibaca. Bab-bab awal buku ini memberikan gambaran generasi iY. Elmore menggambarkan perubahan pada orang muda dan bagaimana kita harus menyesuaikan untuk membantu mereka serta berbagai pengaruh yang telah menyebabkan generasi ini kewalahan dalam menjalani kehidupan. Generasi iY adalah mereka yang lahir setelah tahun 1990. Mereka telah tumbuh dengan iPod, iBook, iPhone, dan internet, di dunia yang berkecepatan tinggi, koneksi konstan, gaya hidup menetap, keterampilan relasional menyedihkan, dan narsisme berdosis besar (15). Mereka membutuhkan arahan–mentor yang melibatkan mereka dalam cara yang relevan, menyalurkan energi mereka, dan memberi mereka tantangan yang mereka butuhkan (18).

Pada bagian ketiga, Elmore mengemukakan bagaimana kondisi generasi ini khususnya dalam menanggapi perubahan budaya. Elmore membuka mata pembaca dengan uraian hasil produk budaya–menghasilkan generasi yang paradoks. Mereka merasa istimewa dan dibutuhkan tetapi bisa manja dan sombong. Mereka memiliki teknologi sendiri tetapi mengharapkan hasil yang mudah dan instan. Mereka tinggi toleransi tetapi tidak memiliki nilai absolut. Mereka menangkap ide-ide baru dengan cepat tetapi berjuang dengan komitmen panjang. Mereka mahir multitasking tapi kesulitan fokus. Mereka bergairah tentang penyebab yang berada dalam mode tetapi mereka memiliki rentang perhatian yang pendek. Mereka kabur, tidak fokus. Ketika mereka bosan mereka berhenti.Mereka ingin menjadi yang terbaik tetapi mengalami depresi jika mereka gagal (35).

Selain itu, karena sebagian besar dari kontak relasional mereka datang melalui teknologi, mereka berada dalam bahaya menjadi terisolasi. Sulit untuk membangun hubungan yang nyata di dunia maya. Mereka ambisius tapi cemas.Mereka terhubung sebagian besar satu sama lain, mendapatkan sebagian besar dari bimbingandari rekan-rekan mereka, dan memodelkan diri dari orang lain yang berasal dari generasi mereka sendiri. Namun demikian mereka tidak tahu bagaimana berhubungan dengan generasi lainnya. Mereka tahu banyak tapi mereka tidak siap untuk orang-orang yang nyata, menunggu, tanggung jawab, dan dunia nyata.

Apa yang kita lakukan dengan generasi paradoks ini? Generasi iY memiliki potensi untuk dibingkai ulang tentang realitas kita dengan cara yang positif jika kita dapat membantu mereka mengatasi paradoks mereka dan merespon dengan baik untuk kebutuhan dunia di sekitar mereka. “Agarterhubung dengan dan mempengaruhi Generasi iY, kita akan cenderung harus menyesuaikan diri dengan mereka…lagi dan lagi.” (51)

Pada bagian keempat dan kelima, Elmore memperlihatkan kepada pembaca mengapa generasi ini menunda tanggung jawab sebagai orang dewasa (54-79). Orang-orang ini tampaknya tidak dapat berkomitmen untuk pernikahan, keluarga atau pekerjaan jangka panjang. Mereka tidak ingin terikat dengan pekerjaan yang tidak cocok, tetapi untuk bereksperimen dengan karir yang berbeda. Elmore kemudian menyebutkan apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan mereka. “Apa kebutuhan remaja adalah orang dewasa (orang tua, guru, pelatih, pendeta, atau pemimpin) yang membuat tuntutan yang tepat dan menetapkan standar yang sesuai untuk mereka dalam lingkungan kepercayaan dan perhatian(66).

Bagian enam, Elmore membahas perjuangan baru orang tua terhadap generasi ini. Elmore juga mengemukakan delapan gaya orang tua yang seringkali membawa dampak buruk dalam tumbuh kembang anak-anak generasi ini. Misalnya Commando Parents, orang tua fokus pada kepatuhan dan kesempurnaan bukannya puas dengan pertumbuhan dan perbaikan.

Selain, itu pada pasal tujuh, Elmore mengajak para pembaca khususnya orang dewasa untuk membongkar kebiasaan terlalu menjanjikan banyak kebohongan kepada anak-anak generasi ini. Memang orang dewasa telah berusaha untuk membantu mereka merasa nyaman dengan diri sendiri. Orang dewasa telah mengatakan bahwa mereka bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan, semuanya adalah pilihan mereka, mereka luar biasa, mereka dapat memiliki semuanya sekarang, mereka adalah pemenang, mereka bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, dan sebagainya. Namun keyakinan palsu bukan cara yang sehat untuk menghasilkan generasi dewasa terhormat (121).

Pada bagian delapan hingga dua belas, Elmore menjabarkan bagaimana generasi iY berhadapan dengan masa depan mereka, dengan lingkungan kerja mereka, potensi mereka, serta ekspektasi terhadap mereka. Pada bagian sepuluh misalnya Elmore menguraikan pokok perihal bagaimana membantu generasi iY menemukan masa depan mereka.Elmore memberi tahu pembaca bagaimana mengarahkan generasi iY. Bagi Elmore, langkah pertama yang terbaik adalah untuk memungkinkan mereka untuk menemukan panggilan mereka (157).Penting untuk menantang mereka untuk merebut kesempatan untuk memberikan kontribusi,fokus pada tujuan, menatap masa depan dengan visi yang jelas. Menantang mereka untuk memecahkan masalah dan membuat perbedaan.Bantu mereka berpikir melalui lima keputusan penting:

  1. Apa nilai-nilai saya ?
  2. Apa visi yang ingin saya kejar?
  3. Apakah kekuatan saya, kombinasi bakat, pengetahuan, dan keterampilan saya?
  4. Apa tempat yang terbaik untuk saya?
  5. Kendaraan apa yang akan membantu saya mencapai tujuan saya ?

Sedang pada bagian sebelas, Elmore menyumbang ide bagaimana generasi sebelumnya berhubungan dengan dan menjadi relevan dengan generasi ini. Elmore memberikan gagasan apik bagaimana mengatasi gap dengan generasi ini khususnya dalam mendidik mereka. Dengan ide EPIC (experiential, participatory, image-rich, connected) akan menolong para pendidik, orang tua, mentor, pendeta dan pemimpin terhubung dengan dunia mereka.

Pada bagian akhir (12) penulis menyajikan penguraian berkenaan bagaimana menolong generasi ini serta bagaimana membangunkan potensi kepemimpinan mereka. Di bagian ini penulis mengajak pembaca melihat dari dekat kapasitas kepemimpinan yang besar yang dimiliki generasi ini.

Komentar dan Analisa

Sesuai judul bukunya, Generation iY-Our Last Change to Save Their Future, penulis buku ini hendak mengantar pembaca untuk mengenal lebih dekat dan mendalam generasi iY dengan segala dinamika dan krisis yang mereka hadapi dan bagaimana menolong dan mengarahkan mereka atas persoalan yang mereka hadapi. Bahasa yang jelas dan lugas akan memudahkan pembaca memahami setiap paparan dengan baik. Selain mudah dibaca, buku ini juga enak untuk dinikmati, banyak ilustrasi dari kehidupan nyata serta kutipan yang akan membuat pembaca tidak lelah menikmati uraiannya.

Secara keseluruhan buku ini sangat baik untuk dibaca, khususnya orang tua, mentor, guru, pendeta dan sebagainya. Uraian demi uraian Elmore sangat menolong orang dewasa mengenal lebih dalam generasi ini. Elmore mendasarkan kesimpulannya atas banyak fakta, data dan laporan. Meski demikian kalau dicermati buku ini lebih dari sekedar informasi, analisis serta prediksi belaka, Elmore dengan lihai menempatkan aplikasi di setiap pemaparannya. Elmore berbagi banyak hal-hal praktis yang bisa kita gunakan sebagai pemimpin pemuda untuk membantu generasi anak muda ini menemukan jalan mereka dalam kehidupan dan dalam masyarakat. Elmore menyarankan berbagai topik untuk pembicaraan, pendekatan untuk program mentoring, pertanyaan untuk meminta dan metode yang digunakan dalam mengajar. Keyakinannya adalah bahwa kita harus menanamkan dalam diri mereka kebiasaan dan sikap mereka akan perlunya untuk menjadi pemimpin yang efektif.

Hal penting yang saya dapati dalam buku ini adalah pesan Elmore yang bersifat urgent yang tertuang dalam pesannya “kesempatan terakhir untuk menyelamatkan masa depan mereka” menjadi pesan berulang yang sering saya dapati. Ini berarti bahwa para pemimpin, pembina, orang tua, pendeta harus segera berbuat sesuatu untuk menolong generasi ini, kalau tidak maka dapat dibayangkan kehancuran generasi penerus ini beberapa tahun ke depan.

Sebuah tinjaun yang menantang. Saya tidak yakin saya setuju dengan semua prediksi yang agak pesimis Elmore untuk masa depan, tapi saya melihat bahwa generasi ini membutuhkan bantuan orang dewasa dalam hal ini orang tua, pendeta, pemimpin dan guru. Buku ini menawarkan banyak saran bagi kita sebagai pemimpin pemuda untuk melakukan itu.

Kesimpulan

Buku Generation iY-Our Last Change to Save Their Future adalah gambaran suram tentang masa depan generasi yang lahir setelah tahun 1990, akan nyata kalau kita tidak bertindak. Melalui buku ini Tim Elmore berbagi tips praktis dan wawasan untuk membantu pembaca baik secara individu maupun kolektif untuk terhubung dan membantu generasi ini. Buku ini membantu kita melihat apa jenis rintangan yang akan dimiliki generasi ini dan cara untuk menolong mereka mengatasinya. Apa yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa setiap generasi ini memasuki kehidupan dewasa dengan kesempatan terbaik untuk menjadi sukses.

 

Buku: Do Hard Things

do_hard_thingsMari berontak, memberontak terhadap pengharapan yang rendah! Kira-kira itulah ide utama buku berjudul Do Hard Things. Si kembar Alex dan Brett Harris dibangunkan kepada sebuah gagasan besar dan gemuruh yang mengawali perubahan sejarah dalam hal pemikiran para remaja di pelosok negeri dan di seluruh dunia. Mereka mengajak remaja di seluruh dunia berontak kepada hal-hal yang terlalu mudah.

Kedua remaja ini menciptakan sebuah gagasan besar bernama Rebelution, sebuah pemberontakan kaum remaja terhadap pengharapan yang rendah. Sebuah gerakan yang berkembang dari orang-orang muda yang memberontak terhadap harapan rendah budaya saat ini dengan memilih untuk “melakukan hal-hal yang sulit” bagi kemuliaan Allah.

Kakak beradik ini mengajak para remaja menaikan ekspektasinya agar memiliki pengharapan yang lebih tinggi lagi. Itulah undangan mereka kepada remaja—untuk bergabung bersama remaja-remaja lainnya yang serius mengubah gagasan dunia tentang masa remaja.

Kami tidak memberontak terhadap institusi atau bahkan terhadap orang. Pemberontakan kami adalah terhadap pola pikir budaya yang memelintir maksud dan potensi dari masa remaja dan mengancam untuk melumpuhkan generasi kita. Pemberontakan kami tak akan ditandai dengan kericuhan massa dan kekerasan, tapi dengan jutaan individu remaja yang secara diam-diam memilih untuk membalikkan pengharapan yang rendah dari budaya kita.

Do Hard Things ditulis oleh remaja untuk remaja. Pesan revolusioner si kembar Harris dalam bentuk yang paling murni dan paling menarik, memberikan pembaca sekilas kenyataan dari apa yang mungkin remaja lakukan melawan kebohongan budaya yang membatasi potensi mereka.

Buku ini dikemas dengan anekdot lucu, contoh-contoh praktis, dan kisah-kisah rebelutionaries kehidupan nyata dalam tindakan. Ini merupakan sebuah buku remaja yang berbeda. Buku ini menantang Anda untuk merengkuh cara yang lebih baik tapi lebih sulit dalam menghidupi masa remaja Anda dan selanjutnya.

Sebuah buku yang sangat baik dan menarik. 😉

 

Perpus Pribadi

Kadang saya iri melihat perpustakaan pribadi milik dosen saya. Tiap sisi raknya berderet teratur ratusan bahkan ribuan buku. Pemandangan yang jarang saya temui sebelumnya.

contemporary_home_library_011

Saya rindu, kelak bisa memiliki perpustakaan pribadi. Perpustakaan yang kelak akan menjadi tempat saya menghabiskan masa tua saya dengan bacaan-bacaan yang membuka wawasan, menyentuh hati bahkan yang bisa mengubah tutur-laku saya. Sebuah tempat di mana saya bisa bercengkerama riang dengan deretan buku luar dan dalam negeri di tiap sisinya. Entah saat suntuk melanda atau apapun itu, buku-buku itu jadi teman terbaik. Teman yang bisa diajak bertukar pikiran hingga berdialog kritis. Oh, sungguh amat menyenangkan, bukan?

Bookaholic

Where is human nature so weak as in the bookstore?” ungkap Henry Ward Beecher.

quotes-about-life-if-you-think-reading-is-boring-youre-doing-it-wrong_largeDi manakah manusia begitu nampak lemah sebagaimana ketika ia berada di toko buku? Saya kira iya, karena memang di sanalah saya nampak begitu bodoh dan tidak ada apa-apanya.

Ketika menengok tiap sisi perpustakaan di kampus, ada ribuan bahkan puluhan ribu buku tersusun rapi di sana, menyelimuti rak-rak kayu yang sudah tua termakan waktu. Di tengah-tengah ribuan buku itulah saya menyadari betapa banyak hal yang belum saya ketahui. Betapa minimnya pengetahuan yang saya miliki saat ini. Betapa kecilnya saya. Karena itu, rasanya tidak berlebihan jika Beecher berujar demikian.

Mari menilik masyarakat di negara-negara maju. Aktivitas membaca adalah bagian kebudayaan yang terus diperlihatkan dalam hidup sehari-hari. Lihat saja Inggris dan Jepang, membaca merupakan aktivitas wajib dilakukan terus menerus tanpa henti. Alhasil, negara-negara ini maju di segala bidang.

Kita tidak perlu berkecil hati, meski animo membaca di negeri kita masih kurang, tetapi setidaknya dari dalam diri kita membuat sebuah terobosan: menjadikan membaca sebagai aktivitas wajib. Bukan sebaliknya menjadikan kegiatan ini menjadi pengantar tidur. 😐

Ada segudang faedah membaca. Dengan membaca kita bisa mengenal aspek kehidupan lebih dalam dan menyingkap misteri-misteri yang ada di alam semesta ini. Membaca bisa mengantar kita ke dunia jauh, menerawang menembus batas. Ketika kita menjadikan aktivitas membaca sebagai kegemaran kita maka saat kita tidak bersua dengan buku, rasanya ada sesuatu yang hilang.

Dalam diri seharusnya menanamkan prinsip: saya harus membaca setiap hari. Saya bersyukur, belakangan ini saya sedang bergairahnya melahap lembar demi lembar buku. Bahkan tak tanggung-tanggung dalam sehari bisa menghabiskan 2-3 jam untuk membaca. Saya terus memompa diri untuk terus membaca bahkan kalau bisa menjadi seorang bookaholic.

Seorang bookaholic selalu melahap dengan rakusnya setiap buku yang digenggamnya. Tak akan lelah ia mengais lembar demi lembar untuk meraup ide para penulis dalam dan luar negeri. Seorang bookaholic selalu ingin  menyelami kedalaman dan keindahan tulisan dan melaluinya ia belajar banyak hal. Aktivitas yang menurutnya  adalah kegiatan menuai ide.

Bagi bookish, tak lengkap hari tanpa buku. Ia melalui hari-harinya dengan beragam judul di tangan mungilnya. Tak bisa tak membaca.

Tanpa buku rasanya hambar. Hidup seolah pincang, kaku dan membosankan. Tanpa buku ia merasa sepi, sepi akan inpirasi dan gagasan cemerlang yang selalu baru hari ke hari. Hadirnya buku membuat hidup lebih semarak untuk dijalani.

Seorang bookaholic lebih tertarik ke toko buku ketimbang jalan-jalan tak jelas arah dan tujuannya. Baginya mampir ke toko buku merupakan kepuasan yang tiada tara. Di sana, dengan riangnya ia bercengkerama dengan ribuan buku yang seolah memanggilnya untuk menjamahnya.

Semestinya tidak ada alasan untuk tidak membaca. 🙂

Dari Rutinitas Rohani ke Pembaruan Rohani

Pernahkah dalam hidup Anda merasakan fase kelesuan rohani yang begitu rupa? Anda begitu sibuk dengan aktivitas rohani tetapi tidak ada pembaruan dalam hidup Anda. Rasanya kering kelontang. Waktu kita merenungkan Firman Allah tidak menarik dan tidak berbuah. Berdoa merupakan sebuah pergumulan. Ibadah tidak pernah memuaskan. Perenungan kita sedikit bahkan terlewati. Kesaksian kita samar bahkan tidak nyata.

Namun disciplines of gracekita sungguh mengasihi Tuhan dan rindu melayani Dia, kita setia dalam kehidupan dan ibadah gereja, dan kita merasa penuh harap dan yakin pada rumah kekal kita. Kita lapar akan Dia tetapi tidak menemukan kepuasan yang kita cari. Namun demikian semua itu bukan hanya tidak berbunyi, tetapi juga tidak rohani sama sekali.

Ada banyak alasan yang tidak dapat disangkal mengapa kita menjumpai diri kita dalam keadaan lesu rohani dari waktu ke waktu, pelayaran rohani kita menjadi lumpuh sementara sisi lahiriah hidup kita maju dengan kecepatan penuh.

Apa yang kita inginkan adalah keluar, atau lebih lagi, kembali pada pendidikan Tuhan, dan sekali lagi pelayaran rohani kita dipenuhi dengan hembusan kuasa dari Roh-Nya. Kita rindu perenungan kita menjadi hidup, ibadah kita berkobar kembali dengan api rohani. Kita ingin menemukan kembali kehadiran Tuhan, mengalami kemuliaan-Nya dan menikmati kesegaran dalam kesetiaan dan kehangatan pengampunan dan anugerah-Nya. Kita rindu Firman berbicara jelas dan penuh kekuatan kepada kita.

T. M. Moore, melalui bukunya “Disciplines of Grace” mengajak kita keluar dari rutinitas rohani ke pembaruan rohani melalui disiplin anugerah. Dalam tiap bab buku ini Moore membagikan mengenai disiplin anugerah yang merupakan alat bantu khusus dan berati yang Allah telah sediakan untuk menolong kita bertumbuh di dalam-Nya. Buku ini setidaknya akan menolong kita menemukan beberapa jalan keluar dari kelesuan akan rutinitas dan kembali menemukan praktik disiplin anugerah seperti yang Allah maksudkan.

“Hembusan Roh Allah masih bertiup, dan kuasa-Nya siap menolong Anda bergerak sekali lagi.” T.M. Moore

>>Bagaimana apakah Anda sudah pernah membaca buku ini?

Buku Pilihan Saya di Tahun 2013

BooksAdakalanya saya harus berjibaku melawan lupa dan ketidaktahuan. Membuka lembar demi lembar buku-buku itu. Tak banyak memang, namun kehadiran mereka cukup membuka mata dan hati ini. Ya, semenjak ketidaktahuan mengolok diri ini saat itu pula aktivitas mencari informasi dan pemahaman tentang dunia, manusia dan Tuhan melalui kata-kata tertulis rutin saya lakukan. Kadangkala, saya layaknya pemulung yang mengais rezeki di balik tumpukan sampah. Tak apa seperti itu, yang terpenting di sini saya mendapatkan apa yang saya butuhkan. Makanan untuk jiwa dan pikiran saya.

Catatan ini memuat daftar buku yang kehadirannya cukup signifikan dalam hidup saya di tahun 2013. Ini adalah daftar buku-buku terbaik versi saya di tahun 2013, meskipun sebenarnya ada sebagian buku sudah sejak jauh hari terbit tetapi baru mendekat kepada saya atau dengan kata lain baru saya baca di tahun tersebut. Bahkan kadang miris, di antara buku-buku itu telah lama menghiasi rak buku saya namun belum terjamah sama sekali dan barulah tahun 2013 saya bercengkerama dengan mereka. Anda jangan berpikir bahwa saya hafal keseluruhan isi buku-buku tersebut tetapi setidaknya sedikit banyak saya telah menangkap pesan utama dan terus saya cerna hingga kini. Buku-buku di bawah ini turut membantu saya dalam banyak hal: cara pandang, proses berpikir, rasa, dan tindakan saya. Bahkan adakalanya saya harus menitikkan air mata, karena memang saya harus akui mereka hadir bukan hanya menyentuh pikiran tetapi hati juga.

Tak lupa saya hanturkan banyak terima kasih kepada mereka yang telah mempersembahkan ide-ide mereka ke sebagian hidup saya. Saya harap Anda juga memiliki pengalaman-pengalaman serupa: bercengkerama dengan buku-buku baik dan bermutu. Berikut daftar buku-buku tersebut;

Spiritual Books

  1. Life as a Vapor – John Piper
  2. The Radical Disipline – John Stott
  3. Relasi: Kekusutan yang Layak Dihadapi – Tim Lane & Paul Tripp
  4. Wired For Intimacy – William M. Struthters
  5. The Pursuit of Holiness – Jerry Bridges
  6. Spiritual Check-Up – Donald S. Whitney
  7. How You Can Sure That You Will Spend Eternity With God – Erwin W. Lutzer

Christian Worldview Books

  1. The Christian Mind – Hary Blamires
  2. Kebiasaan Akal Budi – James W. Sire

Theological Books

  1. Confessions – Augustine
  2. Hari-hari Terakhir Yesus: Sesungguhnya apa yang terjadi? – Craig A. Evans & N.T. Wright
  3. Reinventing Jesus – J. Ed Komoszewski, M. James Sawyer & Daniel B. Wallace
  4. Detroning Jesus – Darrel L. Bock & Daniel B. Wallace

Miscellaneous & Self Development

  1. How to read a book – Mortimer J. Adler & Charles Van Doren
  2. Writing Without Teachers – Peter Elbow
  3. Curahkan Gairah Menulis – Ratna D. Pudiastuti
  4. Effective Public Speaking – Richard Bewes
  5. Personality Theories – C. George Boeree
  6. Personality Plus – Florence Littauer

Seorang pakar terkemuka pernah berujar,

“Buku itu bisa Anda miliki sepenuhnya jika Anda telah menjadikannya bagian dari diri Anda.” – Mortimer J. Adler

Maksudnya jelas, buku hanya akan menjadi milik kita sepenuhnya jika pesan yang hendak disampaikan penulis mendarat di dalam pikiran dan hati kita kemudian sedikit banyak mempengaruhi hidup kita dan cara kita menjalaninya. Akhirnya, jangan biarkan buku-buku yang kita beli hanya menjadi penghias ruangan saja. Ambil, baca dan nikmatilah.

>>Bagaimana dengan Anda, apa judul buku terbaik pilihan Anda di tahun 2013?