Tsunami Informasi

Disadari atau tidak, mau atau tidak mau, kita hidup dan tenggelam dalam pusaran tsunami informasi. Saat ini arus informasi di media massa maupun media sosial tidak terbendung. Pakar komunikasi, Tony Schwartz menyebut media massa adalah tuhan yang kedua, artinya hadir di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.

Hari ini, jumlah informasi yang kita dapat sangat banyak dan beragam membuat kesadaran global kita semakin kuat serta memungkinkan munculnya wawasan yang lebih luas pula. Namun di sisi yang lain, tsunami informasi yang tersaji di media massa dengan format yang semakin beragam membuat otak manusia dipaksa bekerja secara multitasking. Di mana pada suatu saat yang sama otak dipaksa untuk memikirkan beberapa hal sekaligus.

Mau tidak mau kita dibiasakan melihat segala sesuatu secara tergesa-gesa, tidak utuh dan serba cepat. Akibatnya, kemampuan untuk menyimak dalam waktu yang panjang semakin berkurang.  Komunikasi yang rumit dianggap tidak menarik, kalau tidak menarik tidak diperhatikan. Tanpa kita sadari nilai hidup kita pun bergeser, tidak lagi berdasarkan apa yang benar tetapi seberapa bermanfaat bagi saya. Mengutamakan kesan ketimbang pesan.

Memang media massa memperkaya informasi dan wawasan kita tetapi tanpa kita sadari mengikis kekritisan kita. Bila kita cenderung hidup menekankan kesan ketimbang pesan, maka kita tidak dibiasakan berpikir kritis. Contoh ketidakkritisan adalah konsumerisme. Membeli suatu bukan karena butuh tapi karena sudah banyak orang yang menggunakannya.

Selain itu, media massa dimanfaatkan sebagian orang sebagai alat untuk membentuk opini. Sering kita jumpai berita yang dimuat tidak berimbang, wadah menghujat, mengkritik tanpa solusi, mengumpat, fitnah, menjelek-jelekan sesamanya, memuat berbagai agenda licik demi kepentingan sekolompok orang, perorangan atau golongan. Sangat sulit menemukan berita positif di tengah arus informasi seperti saat ini.

image
Sumber gambar: http://www.oneheartceremonies.com

Karena itu, bijaklah memilih berita, jangan asal meneruskan berita bohong yang sumber dan kredibilitasnya tidak jelas. Cerdaslah dalam membaca informasi. Tangkaplah pesan ketimbang kesan, kritisi bila perlu.

Advertisements

Fomophobia

Fear of missing out atau yang biasa disebut fomo adalah ketakutan ketinggalan berita atau status seseorang di media sosial.

Orang yang fomo biasanya selalu dekat dengan gadget. Bahkan saat pertama kali membuka mata saat bangun, yang dicari adalah gadget.

Gadget memang bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang masa kini, khususnya mereka yang fomo. Ya, mereka seolah satu kehidupan yang tidak lengkap jika yang satunya absen. Sekadar mengecek atau bahkan menghabiskan berjam-jam menatapi layar gadget adalah hal yang lumrah bagi mereka.

Mereka merasa ada sesuatu yang hilang bahkan takut jika ketinggalan berita. Rasanya mereka tidak sabar melihat status teman, idola bahkan orang terdekat mereka.

Tak salah jika sekadar ingin tahu berita terbaru atau sekadar melihat status seseorang di media sosial. Tapi menjadi masalah jika kita menjadi fomo. Ketakutan yang sebenarnya tidak membuat kita menjadi pribadi yang merdeka atau tidak terikat pada hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi kehidupan kita.

Bukankah pribadi kita tetap utuh tanpa embel-embel yang lain?

Interaksi Sosial

Aku takut pada hari dimana teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi yang idiot. Albert Einstein

Hari yang dikhawatirkan oleh Albert Einstein telah tiba. Lihat saja, saat berkumpul dengan orang terkasih baik keluarga maupun teman, saat di pantai atau di manapun, bukannya menikmati kedekatan dalam kebersamaan melainkan sibuk dengan ponsel pintar secara bersamaan. Pemanfaatan teknologi digital dengan tidak terkendali memang berimbas pada kualitas interaksi sosial. Interaksi maya lambat lambat laun akan mengikis empati, perhatian, dan kepekaan sosial seseorang. Saat ini banyak yang lebih memilih aktivitas melalui perangkat bergerak (mobile), internet, dan berbagai media sosial dibanding berkomunikasi secara nyata dengan lingkungan sosial. Bagi mereka aktivitas tadi jauh lebih mudah dan tentu saja menyenangkan dan memberikan kesan tersendiri. Smartphone dengan teknologi terbaru serta berbagai aplikasi seru membuat banyak orang betah menatapi layar handphone-nya sepanjang hari. Benar kata Albert Einstein, teknologi akan bahkan sudah melampaui interaksi manusia.

Karena itu, rehat sejenak dari teknologi digital perlu dilakukan agar hubungan dan interaksi sosial di dunia nyata tetap terjaga dan tidak kehilangan maknanya.

***

Sumber Gambar : juancarlosduran.com