Menciumi Aspal

Barangkali malam tertawa geli melihat saya terkapar tak berdaya sembari ditunggangi kendaraan yang selama ini saya tunggangi. Ya, kemarin malam untuk kali pertama (semoga tidak ada kali kedua dan seterusnya) saya mengalami kecelakaan dalam berkendara. Oleh seekor anjing kampung menabrak ban depan motor saya, membuat saya harus jatuh dan menciumi aspal. Ah jatuh itu menyakitkan. Saya harus merelakan lutut dan tangan kanan saya lecet dan memar di sana sini, belum lagi saya harus merasakan perih. Ah sudahlah terlalu menyakitkan.

Bangkit adalah keharusan saat kondisi tak berdaya seperti malam itu. Bangkit dan pulang ke rumah dengan celana compang-camping dan baju penuh debu serta darah akibat diciumi aspal dan dikadali seekor anjing kampung sangat tidak lucu! Menciumi aspal membuat luka saja!

Dalam lamun malam ini, terbesit dalam benak saya, jika saja ibu melihat kondisi anaknya seperti sekarang ini, saya sangat yakin tangan cekatannya tak akan sabar menunggu untuk mengurusi anaknya yang satu ini. Namun sayang, ia telah tiada. Saya harus rela hanya ditemani bayang ibu.

***

Advertisements

2 thoughts on “Menciumi Aspal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s