Ditemani Bulan

Ditemani bulan kami bercengkerama sembari menunggu malam. Tak ingin beranjak tapi apa daya, malam memanggil pulang.

Alunan musik dan paparan sinar bulan yang sesekali dibalut awan putih memang romantis. Begitulah kira-kira malam sajikan untuk kami.

Malam tiba, kami beranjak meninggalkan langkah siang tadi. Kami disambut deretan kursi kosong meskipun di pojok pondok itu pandangan saya masih tertuju kepada beberapa orang yang sedang asyik ngobrol.

Kami menambatkan pilihan ke meja di pinggir pondok, yang hanya dibatasi papan yang terlihat lapuk, yang menjadi perantara dan bahkan barangkali menjadi saksi antara kami dan laut. Saya bersandar di kursi kayu yang sedikit memberi rasa hangat. Alunan lagu memecah kesunyian malam itu, kamipun memilih berbicara hati ke hati tentang dunia yang hanya kami berdua yang tahu.  Kami berucap dengan bahasa yang hanya kami berdua yang tahu. Hanya saja, kami merasakan apa yang juga orang lain rasakan.

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Lebih sunyi dari biasanya. Saya tidak berani mengingkari kata hati–saya tak ingin meninggalkan malam itu. Namun malam beranjak, pagi meninggalkan mimpi begitu saja. Saya tahu itu mimpi. Tidak ada mimpi dalam mimpi.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s