Tentang Pilpres 2014

Menjelang pengumuman pemenang Pemilu Presiden 2014 oleh KPU terus terang saja sebagai warga negara yang turut berpartisipasi dalam demokrasi di negara ini, saya risau dan gundah karena beberapa hari belakangan disuguhkan pertunjukkan demokrasi yang terbilang tidak sehat dan tidak mendidik oleh mereka-mereka yang mengaku diri nasionalis tulen dan mencintai demokrasi yang terhormat.

Saya dipertontonkan adegan demi adegan  panggung politik yang megah namun licik. Dari masa kampanye kita menyaksikan kampanye hitam dan negatif adalah hal lumrah dilakukan. Hingga hasil hitung cepat adu kekuatan dan adu klaim tak kunjung usai. Satu sisi mencap lembaga survei yang sudah kredibel sebagai survei pesanan, satu sisi mereka sendiri menggunakan survei-survei abal-abal yang kredibilitasnya tak jelas.

Kemarin berucap siap kalah, siap menang namun pada kenyataannya mereka menaruh curiga berlebih baik kepada lawan maupun KPU sebagai penyelenggara. Alhasil berbagai agenda licik diusung ke publik seolah mereka korban kecurangan. Mereka tampak sangat kukuh untuk mengatakan merekalah yang menang dalam pemilihan ini. Berbagai cara dilakukan, seperti mendesak penundaan pengumuman oleh KPU. Barusan mereka melaporkan KPU ke Mabes POLRI. Bahkan Ketua Tim Hukum dan Advokasi Prabowo-Hatta, Habiburakhman berujar, “Oleh karena itu, kita lakukan berbagai cara, termasuk kemungkinan terburuk.”

Mengerikan.

Katanya berjiwa ksatria, namun yang nampak kepermukaan tak ubahnya secuil jiwa kerdil haus kekuasaan namun tak siap menerima kekalahan. Barangkali jiwa elite yang melekat pada diri mereka mempersulit mereka untuk menerima kekalahan.

Hai para elite yang agung, saya pikir Anda bukanlah orang yang bodoh. Pada dasarnya Anda telah mengetahui bahwa pertandingan telah usai dan Anda tidak memenangi kontes ini. Jangan bersikukuh dalam kemenangan yang delusional yang kalian jual ke publik dengan deklarasi kemenangan, sujud syukur, pembentukan koalisi permanen, bahkan ucapan selamat seolah Anda adalah pemenang sejatinya. Sudah saatnya bangun dari tidur dan meraba kenyataan.

Akuilah kekalahan Anda, terimalah hasil yang ada. Itu jauh lebih baik dan tentu jauh lebih terhormat dilakukan oleh seorang nasionalis tulen.

 ***

Advertisements

3 thoughts on “Tentang Pilpres 2014

  1. Katanya ini gara2 kita masih belajar berdemokrasi mas. Maklumlah demokrasi kita baru anak kemarin. Tapi let’s hope for the best and prepare for the worst.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s