Masa Sulit

Masih tidak percaya kalau bulan Juni akan segera berakhir. Serasa baru kemarin memasuki awal Juni dengan segudang agenda dan tentunya harapan. Akan tetapi sayang seribu sayang harapan semula tak kunjung tiba dipenghujung Juni. Agenda-agenda yang dirancangpun kerap berantakan.

Masih soal kesulitan dalam menggarap proyek tengah tahun ini: skripsi. Gagasan yang seolah mampet membuat tuts-tuts komputer tak tersentuh beberapa hari belakangan, pertanda alur skripsi tak kunjung memperlihatkan perkembangannya. Belum lagi persoalan lain yang tarik-ulur, turut menjadi kendala dalam menyelesaikan pembuatan skripsi. Ya, barangkali di sinilah titik jenuhnya.

Kejenuhan memang membunuh daya kreativitas. Alhasil ide-ide yang semula bertebaran dalam benak tak kunjung mendarat di atas kertas. Ketika kreativitas terkungkung oleh jenuh dan rasa malas, tidur dan melamun adalah pilihan yang tidak bisa ditolak. Dan tentu ini masalah.

Masalahnya tentu saja halaman skripsi yang notabene syarat kelulusan tak kunjung bertambah. Bukan itu saja, beberapa hari ini badan saya memberi isyarat adanya ketidakberesan dengan perlakuan saya terhadapnya. Kasian juga ya.

Kembali ke soal masa sulit. Masa sulit memang tidak absen dalam hidup. Barangkali itu yang bisa saya katakan sebagai bentuk penghiburan diri. Kenyataannya memang masa sulit tentu saja mampir dalam hidup. Jangan berharap masa sulit absen dalam hidup kita tetapi berharaplah bahwa kita bisa menjalani masa sulit tersebut. Dan percayalah masa sulit tidak selamanya membuat kita seolah menjadi manusia yang tidak berdaya sama sekali. Masa sulit memang menyusahkan bahkan menyesakkan akan tetapi kehadirannya sejatinya kita butuhkan. Untuk apa? Setidaknya menjadi indikator untuk menilai diri kita apakah hari demi hari, bulan demi bulan kita makin dewasa dan bertumbuh atau kah sebaliknya.

Masa-masa sulit juga mengingatkan kita bahwa kita tidak sempurna dan tidak bisa melakukan segalanya. Oleh karenanya jangan sombong. Masa sulit mengingatkan kita bahwa kita terbatas dan mungkin saja dalam hal ini kita memerlukan tangan orang lain untuk menolong kita. Jangan enggan atau malu meminta pertolongan. Masa sulit membuat kita gerah dan tidak puas dengan keadaan sekarang dan karena itu lakukan sesuatu. Sesuatu yang setidaknya membuat kita keluar atau setidaknya bisa menjalani persoalan dengan hati yang damai. Dan tentunya masa-masa sulit mengingatkan kita untuk segera menyendiri dan berlutut berdoa karena kita tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat menolong kita. Berdoalah.

Meskipun dalam masa sulit namun saya masih menaruh harapan esok hari tangan ini kembali cekatan ketika ia kembali bersahabat dengan ide. Karena saya yakin bahwa pemeliharaan-Nya tak pernah berkesudahan dan tak akan berakhir tentunya. Itulah yang menguatkan dan meneguhkan ketika masa sulit menghampiri.

Jakarta, 30 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s