Ketika bergulat dengan malam

Ketika malam menjemput ia terbahak muak melihat lirihku

Sinisnya menambah tebalnya balutan kesepian ini

Gairahnya terasa membara hendak menikam dengan sepi

Barangkali sepi adalah senjatanya yang nan ampuh melumpuhkan jiwa tak berisi

Aku hanya bisa terdiam dalam keluh

Kadang terjaga dalam kantuk hingga fajar menjemput

Aku tahu betul kesepian yang tak berujung ini membekukan tulang

Aku hanya tunduk terhadap lamun melayang

Hanya mampu menantang sunyi dengan alunan nada

Itulah yang bisa kulakukan ketika bergulat dengan malam.

Jakarta, 22 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s