Di Tepian Keruntuhan Diri

Image: http://xetobyte.deviantart.com
Image:xotobyte.deviantart.com

Jika menengok ke belakang, aktivitas kuliah adalah penyumbang nomor satu kesibukan saya.  Selama duduk di bangku kuliah saya kerap sibuk bahkan mengalami penumpukan kesibukan. Kesibukan lepas kesibukan menjadi santapan harian selama kuliah. Kesibukan wajar, apalagi dunia saat ini menuntun kita kepada kesibukan yang satu ke kesibukan yang satunya lagi. Saya kira wajar saya dibuat sibuk. Toh untuk masa depan saya juga. Tapi tunggu dulu!

Soal kesibukan saya melihat ada dua jenis kesibukan yang ada di hadapan kita. Ada kesibukan yang mencerminkan adanya kegiatan, pola prioritas, dan adanya tujuan. Itu adalah kesibukan yang baik dan memuaskan karena menuntun orang untuk bertumbuh dalam kompetensinya.

Namun ada juga kesibukan yang bisa merusak yang mencerminkan kehidupan yang kacau. Kesibukan lepas kesibukan yang dilakukan tanpa perbedaan entah itu baik atau tidak. Semata karena hal itu kewajiban yang harus dilakukan.

Sayangnya, saya adalah salah satu orang yang terseret oleh jenis kesibukan kedua. Di luar kendali, cemas yang berujung stres.

Hari lepas hari saya terbangun sebelum sang mentari terbit, dan malam lepas malam saya menjatuhkan diri ke tempat tidur lama seusai aktivitas ‘belajar’ di perpustakaan serta doa hening malam.

Senin hingga jumat jam-jam hari saya diisi dengan serangkaian aktivitas rutin. Karena saat ini saya sedang studi di seminari maka setiap harinya saya harus bangun pukul setengah enam pagi. Tepat pukul enam saya harus renungan dan doa pribadi.  Jam enam seperempat saya harus sarapan pagi, dilanjut jam setengah delapan aktivitas perkuliahan pun dimulai hingga siang bahkan ada yang hingga sore hari. Jam sembilan duapuluh saya harus mengikuti ibadah chapel. Saat matahari mulai terbenam, saya bergegas menikmati santapan malam yang setiap harinya saya lakoni tepat pukul 18.10. Belum lagi kegiatan menimba ilmu di perpustakaan yang saya harus lalui tiga jam setiap harinya.

Tunggu dulu, kesibukan saya belum usai. Makalah, laporan baca, dan juga tugas lainnya menanti di tengah maupun akhir semester. Saya juga harus berjibaku melawan waktu mempersipakan diri menyambut ujian demi ujian. Mata melotot dan hidung tersumbat kerap saya alami karenanya. Belum lagi setiap hari sabtu dan minggu saya harus menunaikan praktek lapangan (yang biasa kami mahasiswa seminari sebut pelayanan weekend).

Kira-kira itulah aktivitas kesibukan yang menamani keseharian saya. Membaca uraiannya saja barangkali Anda sudah lelah apalagi yang menjalaninya. Maafkan saya, karena saya harus menuliskannya secara rinci untuk menggambarkan sesuatu yang kita sebut dengan kesibukan tadi.

Saya harus akui semua kegiatan kesibukan tadi adakalanya membuat suasana hati menjadi galau, pemikiran goncang, mengeringkan rohani, emosi, akal dan jasmani saya. Ada masanya saya seolah ingin menjauh dari kesibukan itu. Adakalanya saya merasa sangat lelah dan sangat letih karena terlibat adu jotos dengan rutinitas itu. Jasmani juga kadang meringkuk kesakitan oleh kuk yang terpasang di pikiran saya. Belum lagi oase rohani kerapkali terasa kering kelontang. Di sinilah saya mendapati musim-musim ketika angin sepertinya berhenti dari pelayaran kehidupan kerohanian saya.

Begitulah saya menjalaninya – sesuatu yang tidak menyukakan Tuhan dan juga semacam adonan yang kelak akan saya sesali dikemudian hari.

Saya kira ini adalah skenario kehidupan yang tidak boleh saya toleransi. Saya harus menata kembali kehidupan di wilayah diri. Bertekad menjalani kesibukan yang dibangun di atas kesadaran anugerah yang harus dijalani dengan disiplin dan ketetapan hati.

Di sinilah saya harus mengenal dan memahami diri. Mengenal dan mengidentifikasikan kelemahan dan kekuatan pribadi itu sendiri. Mengenal kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder dalam diri. Saya pikir dengan memahami kehidupan di wilayah diri, sedikit banyak akan memungkinkan kita menjalani kesibukan bukan sekadar kesibukan. Memungkinkan kita melihat lebih jauh dan dalam lagi nilai-nilai hidup di wilayah diri. Memungkinkan kita memiliki kepekaan lebih untuk melihat sisi-sisi yang lain dari hidup kita yang kompleks ini.

Ada sisi-sisi kehidupan di wilayah diri yang perlu kita kenali lebih dalam bahkan perlu kita perhatikan secara serius. Kita sudah diberi karunia alamiah berupa talenta, karisma pribadi, motivasi, kecerdasan emosi, intelek dan spiritual yang memungkinkan kita menjalani hidup dengan utuh dan sempurna. Perhatikanlah semua itu. Tidak boleh ada yang diperlakukan superior. Semua bidang kehidupan itu harus berjalan beriringan dan seimbang.

Dunia pribadi adalah salah satu medan perang di abad ini. Nilai-nilai budaya modern membuat kita cenderung untuk percaya bahwa pribadi yang super sibuk dan aktif secara publik adalah orang paling sukses dan paling spiritual.

Banyak orang mengorbankan dunia pribadi dan mengutamakan dunia publik. Ia menceburkan diri dari kesibukan yang satu ke kesibukan yang lain, ia terlibat dalam banyak program dan kegiatan publik bahkan ia selalu ingin tampil memukau di muka publik. Tak ada waktu mengurus diri. Tak ada kesempatan untuk mengenal dan memahami bidang-bidang kehidupan di wilayah diri. Sesungguhnya ini akan menghantar seseorang ke tepian keruntuhan di wilayah diri.

Advertisements

6 thoughts on “Di Tepian Keruntuhan Diri

    1. Ya, tetapi kesibukan jenis mana dulu mas? Kemudian point saya jangan sampai kita sibuk mengurusi hal-hal diluar diri kita tetapi kita lupa mengurusi wilayah diri kita, misalnya spiritualitas kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s